PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
107 - Ingin memiliki profesi


__ADS_3

Nev dan Raya memasuki sebuah Restoran untuk makan siang, disana sudah ada Bryan yang menunggu mereka.


Mereka saling menyapa dan melakukan makan siang bersama.


"Setelah dari London kalian akan kemana?" tanya Bryan menatap Nev dan Raya bergantian.


"Kami akan ke kota lain, dan juga ke Manchester," sahut Nev sembari menyesap minumannya.


Bryan mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian mereka membahas tentang tempat menyewa mobil yang cocok.


"Oh ya, jika istrimu tertarik. Aku ingin menawarkan sebuah job yang cukup menggiurkan," kata Bryan.


Nev terkekeh. "Job? Tidak, tidak..." Nev mengibaskan tangannya didepan Bryan.


Sementara Raya merasa ingin tahu tawaran yang diberikan oleh Bryan, siapa tahu dia bisa mendapat pengalaman baru dan sedikit menghibur jiwanya juga.


"Come on, Nev! Kau bahkan belum mendengar apa job yang ku maksud. Ini lumayan dan tidak akan merugikanmu," kata Bryan mencoba bernegosiasi.


"Memangnya pekerjaan apa?" tanya Raya sembari memotong dessert-nya dengan sendok berukuran kecil.


"Sayang..." protes Nev mendengar pertanyaan yang Raya lontarkan itu. Nadanya terdengar tak senang.


"Begini, ditempatku sedang membutuhkan bintang iklan yang memiliki wajah asia, aku pikir kau cocok mengisi iklan itu, kebetulan aku juga yang merekrut serta mendesain iklannya," terang Bryan.


"Woa, proyek itu terdengar bagus Bryan. Tapi istriku bukan bintang iklan," sahut Nev dengan nada sumbang.


"Ya, ya... aku mengerti. Tapi pertemuan kita ini benar-benar pas dengan momen pencarian bintang iklan itu. Wajah Raya yang asia sangat cocok!" kekeh Bryan dengan antusiasme tinggi.


Nev menggeleng saat Raya seperti tengah meminta pendapatnya.


Raya pun terkekeh karena langsung paham isyarat ketidaksetujuan suaminya itu.


"Sorry, Bryan... suamiku tidak mengizinkan." kata Raya masih terkekeh, ia pun tidak mungkin menjadi bintang iklan seperti tawaran Bryan karena itu benar-benar diluar kemampuannya. Dalam hati, ia sepakat dengan keputusan sang suami.


"Suamimu payah!" sahut Bryan sambil tergelak. "Padahal bayarannya lumayan," ujarnya lagi.


Nev tertawa. "Aku memang payah, dan lagi aku tidak mau membagi kecantikan istriku untuk dipandangi orang banyak! Soal bayaran, kami tidak membutuhkan itu," jawabnya jujur.


"Dasar pelit!" dengkus Bryan tidak seserius kedengarannya.


"Kalau kau mau mengiklankan produk propertiku agar semakin mendunia... nah kita bisa membahas itu nanti, tapi jika Raya menjadi model iklan, Big No!!" kata Nev menyilangkan tangannya tegas didepan dada.


Bryan pun mengangguk-anggukkan kepalanya, tak ingin memaksakan lagi karena peruntungannya sudah gagal dari awal saat mengajak istri dari kawannya itu untuk menjadi rekan kerja.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan sesi makan siang itu dengan gelak tawa, lalu mereka meninggalkan area Restoran untuk menuju Aquarium yang terletak tak jauh dari London Eye.


Untuk kegiatan ini, Bryan akan mengikuti Nev dan Raya karena setelahnya ia akan menemani Nev ke perusahaan penyewaan mobil.


Disana mereka berkeliling dan mengamati banyak spesies ikan yang berwarna-warni.


Tak hanya itu, mereka juga menonton atraksi diving yang menguji adrenalin sebab di lakukan dekat dengan ikan hiu. Kegiatan semacam itu sengaja dipertontonkan sebagai bentuk hiburan bagi orang-orang yang datang ke Aquarium besar tersebut.


Mereka juga melakukan refleksi pijat kaki dalam air. Metode semacam itu dilakukan dengan duduk sembari memasukkan kaki kedalam kolam air berisi ribuan ikan kecil yang akan mengerubungi lalu memberi gigitannya di kedua sisi kaki.


Setelah puas, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan mobil yang Bryan bawa.


Nev mengantar Raya lebih dulu ke hotel dan ia pergi bersama Bryan untuk mengurus penyewaan mobil.


...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...


Menjelang malam, Nev dan Raya sudah bisa keluar hotel menggunakan mobil sewaan mereka. Kali ini mereka kembali melakukan kegiatan berdua saja. Tujuan mereka malam ini masih seputaran pusat kota London yaitu Big Ben.


Big Ben merupakan nama suatu lonceng besar yang berada di tengah menara jam dan terletak di sebelah utara Istana Westminster, London.



Big Ben terlihat sangat megah. Ketika berada dekat dengan menara ini, Raya langsung dapat melihat desain arsitektur Inggris-nya yang luar biasa. 


Di malam hari, area Big Ben tidak sepadat dan seramai di siang hari. Di malam hari suasana masih kondusif, bahkan jalanan sudah sepi di jam 9-an.


Seperti biasa, Nev dengan jiwa kebucinannya akan selalu mengekori atau menggandeng mesra tangan istrinya yang mulai kembali ceria seperti sedia kala.


Nev cukup bersyukur, karena akhirnya sang istri mulai bangkit dari ketepurukan yang sempat membuat jiwanya terguncang.


Nev selalu ada didekat Raya, mendengarkan ceritanya dan semua keluh-kesahnya. Nev menempatkan Raya sebagai prioritas utama dalam kehidupannya.


"Sayang, mendengar tawaran Bryan siang tadi, aku jadi kepikiran untuk bekerja," kata Raya.


"Kamu tertarik dengan tawaran menjadi model iklan itu?" tanya Nev.


Raya menggeleng. "Bukan, aku tidak tertarik dengan tawarannya tapi point utama dari tawaran itu," jawab Raya.


"Point utama?"


"Ya, point utamanya, menghasilkan uang."


Nev terkekeh, saat ini mereka masih berada disekitaran menara Big Ben dengan hawa dingin yang semakin terasa walau mereka sudah menggunakan coat yang cukup tebal.

__ADS_1


"Apa uang dariku tidak cukup?" tanya Nev menatap Raya lekat, setelah ada keheningan sebentar tadi.


"Bukan itu, Nev. Begini... aku juga ingin memiliki penghasilan, aku tidak mau bergantung terus padamu."


"Tapi aku mau kamu hanya bergantung padaku."


Raya menggeleng. "Aku ingin punya profesi. Aku ingin berguna dan memanfaatkan ijazah yang dulu sangat sulit ku dapatkan. Aku bahkan harus meninggalkan dan jauh dari keluargaku untuk mendapatkan selembar pernyataan lulus," terang Raya panjang lebar.


"Ya, aku paham. Aku akan memikirkannya."


"Memikirkan apa?"


"Memikirkan profesi apa yang cocok untuk kamu selain jadi istriku seutuhnya," kata Nev menempelkan hidungnya ke hidung mancung sang istri.


"Berapa lama kamu akan memikirkan hal itu?" tanya Raya sembari mengelus rahang Nev dari jarak sangat dekat.


"Beri aku waktu, aku tidak tahu sampai kapan tapi aku berjanji akan memberikan jawaban yang terbaik nanti."


"Benarkah?"


Nev mengangguk, mengiyakan.


"Semoga jawaban kamu nanti bisa memuaskanku dan sesuai dengan keinginanku, Sayang. Aku berharap jika aku punya profesi atau kegiatan aku bisa punya kesibukan lain yang ku gemari dan itu bisa membantuku melupakan masa lalu yang menyakitkan." Batin Raya berdoa.


Raya mengalungkan kedua tangannya ke leher Nev dan Nev sedikit mengangkat tubuh ramping istrinya ke arah atas, kemudian sengaja memutar-mutarkan tubuh mereka dalam posisi itu.


"Besok kita ke mana lagi?" tanya Raya setelah Nev menghentikan aksi berputar-putarnya, namun tetap tak menurunkan tubuh sang istri ke dasar.


"Besok kita masih berkeliling di London, lalu setelah itu nanti terserah kamu mau ke Bristol, York atau langsung ke Manchester."


"Baiklah, sekarang kita kembali ke hotel." Raya tersenyum menawan.


"Siap istriku." Nev pun mengecup pipi Raya sekilas, lalu mereka berjalan bergandengan dan memutuskan kembali ke hotel.


...Bersambung ......


...Like...


...Love...


...Kopi...


...Bunga...

__ADS_1


...Komen...


...Terima kasih🙏...


__ADS_2