PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
52 - Galau


__ADS_3

Dilain sisi, Nev dengan pikirannya yang galau karena memikirkan pernikahan Raya, tidak tahu harus melakukan apa sekarang.


Sejujurnya, ada banyak ide gila dikepalanya untuk menggagalkan pernikahan Raya dan Reka, tapi dia tidak mungkin melakukan hal yang nyeleneh-- seperti datang di acara itu lalu merusaknya begitu saja.


Nev harus memikirkan dengan matang tentang rencananya, karena kalaupun dia bertindak sekarang, semuanya akan sia-sia mengingat statusnya sendiri belum resmi menjadi duda.


Nev berendam di dalam bathub, mungkin dengan kegiatan ini bisa mendinginkan pikirannya yang panas sejak semalam. Dia berendam disana tanpa membuka pakaiannya karena sebenarnya dia memang sedang tidak baik-baik saja sekarang.



Nev sadar, ujian percintaannya belum cukup sampai disini saja. Atau mungkin ujian yang sebenarnya baru saja dimulai. Dia harus menyikapinya dengan dewasa, karena dia tahu, setiap keinginan yang berharga harus ada harga yang sebanding pula untuk meraihnya.


...______...


Seperti biasa, Minggu pagi Jimmy selalu menyempatkan diri untuk datang berkunjung ke rumah Nev, selain untuk melihat keadaan sahabatnya itu, tentunya dia mau menumpang sarapan seperti biasanya di akhir pekan. Maklumlah, Maid di apartemennya selalu libur di hari Sabtu dan Minggu, membuatnya tidak bisa sarapan enak dirumah-- karena keahliannya hanya bisa memasak mie instan dengan berbagai variant rasa yang itu-itu saja.


"Nenek ... Nev dimana, Nek?" sapa Jimmy manja pada Nenek Nev yang terlihat murung. Dia berlaku demikian-- karena Nenek sang sahabat sudan dianggapnya seperti Nenek kandungnya sendiri.


Nenek menghela nafas berat. "Jim, sepertinya kita melewatkan sesuatu," kata Nenek tidak mengubbris pertanyaan Jimmy, dia justru menyahuti Jimmy dengan pembicaraan lain-- yang terdengar serius.


"Kenapa, Nek? Ada apa lagi?" tanya Jimmy tak mengerti arah pembicaraan ini.


"Usaha kita menjauhkan Nev dari Raya sia-sia. Nev sudah tahu keberadaan Raya dan dia menemuinya,"


"Ya tapi kan Nev juga tinggal menunggu hakim ketuk palu, Nek. Aku rasa tidak apa-apa jika Nev bertemu Raya sekarang." kata Jimmy dengan pemikirannya.


Jimmy pun mengedipkan mata pada Nimas yang tak sengaja dia lihat--tengah mengepel lantai diseberang sana. Nimas hanya menggeleng kecil untuk menanggapi kelakuan Jimmy itu.


"Ya, itulah masalahnya. Dia menemui Raya malam tadi dan kau tahu... Raya mengatakan akan menikah dengan orang lain dalam waktu dekat,"


Jimmy yang mendengar itu langsung mengalihkan atensinya dari sang ART manis bernama Nimas, lalu dia kembali menatap Nenek dengan wajah bengong. "Serius, Nek?" tanyanya tak percaya.


Nenek mengangguk, "Nenek jadi merasa bersalah dengan Nev, seharusnya Nenek tidak membiarkannya terpisah dari Raya, agar dia menyatakan perasaannya lebih cepat."


Jimmy merangkul pundak Nenek. "Jangan merasa bersalah, Nek... semua yang kita lakukan adalah yang terbaik untuk Nev dan Raya. Demi menjaga nama baik Raya juga."


"...mengenai pernikahan Raya ini, ku rasa ini terlalu mendadak, aku bahkan tidak tahu tentang hal ini. Ini diluar prediksi kita, Nek. Niken juga tidak mengatakan apa-apa mengenai ini," kata Jimmy serius.


Nenek menatap Jimmy yang merangkulnya, "Kamu benar, Jim. Ini terlalu mendadak. Seharusnya, jika Raya memang memiliki calon suami, dari awal pasti kita sudah mrngetahui hal ini, kan?"


Jimmy mengangguk. "Ada yang tidak beres, Nek. Karena ini begitu mendadak," timpal Jimmy dengan berbagai pemikirannya.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Nenek yang sudah tak memiliki jalan keluar.


"Karena ini sudah kita mulai, mari kita selesaikan sampai tuntas, Nek. Serahkan ini semua padaku. Hehehe..." Jimmy menepuk dadanya sendiri dengan pongah dan Nenek terkekeh melihatnya.


"Baiklah, Nenek mengandalkan orang yang tepat, kamu memang cerdik," kata Nenek memuji Jimmy.


Jimmy semakin melengkungkan senyumnya, menampakkan giginya yang berjejer rapi hingga membuat matanya menyipit-- karena itu adalah salah satu ciri khas yang terpampang dari wajahnya saat dia tersenyum lebar.


"Oh iya, hampir lupa, Nev mana, Nek?" kata Jimmy kembali ke topik awal.

__ADS_1


"Seharusnya dia sudah turun setengah jam yang lalu untuk sarapan. Kenapa belum turun juga, ya?" kata Nenek balik bertanya.


"Wah, jadi Nev belum sarapan, ya, Nek? Baguslah, kami akan sarapan bersama," kata Jimmy sembari menyatukan kedua telapak tangannya kemudian menggosoknya satu sama lain.


"Bilang saja mau numpang sarapan, Jim, Jim..." kata Nenek sambil lalu menuju ruang makan.


Sedangkan Jimmy, dia melangkah lebar, menaiki undakan tangga untuk menuju kamar pribadi Nev.


"Nev, kau belum bangun, ya?" Tanya Jimmy sembari mengetuk pintu kamar Nev dari luar.


"Jangan bilang kau memimpikan pengasuhmu, Nev! Sehingga kau jadi malas bangun..." teriak Jimmy lagi.


Jimmy tak mendapat sahutan dari Nev, alhasil dia merapatkan telinga di daun pintu kamar sahabatnya itu untuk mencari tahu kegiatan Nev didalam sana.


"Nev, aku masuk, ya?" katanya sembari menekan handle pintu dan masuk kedalam secara perlahan-lahan.


Dia melihat ke atas ranjang, Nev ternyata tidak ada disana. Dugaannya sementara adalah Nev sudah bangun, mungkin Nev sedang mandi atau sedang memakai pakaian diruang ganti.


Jimmy mendengar suara gemericik air dikamar mandi, seperti suara shower yang menyala. Akhirnya dia tahu Nev memang tengah mandi.


Jimmy pun memutuskan untuk menunggu Nev keluar dari kamar mandi, dia duduk santai di sofa kamar sembari memainkan ponselnya.


Tak terasa, sudah dua puluh menit dia menunggu namun Nev tak kunjung keluar dari kamar mandi, perasaannya mulai tidak enak.


Kamar Nev bahkan sudah dua kali didatangi Roro-- untuk memberitahukan bahwa sarapan sudah siap dari tadi.


Sontak saja, Jimmy langsung menghampiri pintu kamar mandi dan membukanya dengan paksa, dia mengira Nev kenapa-napa didalam kamar mandi. Pikirannya sudah dipenuhi oleh hal buruk, mengingat Nev yang sedang patah hati karena rencana pernikahan Raya dengan pria lain.


Pintu pun terbuka, membuat Jimmy cukup terkejut dengan apa yang tengah dilihatnya didepan sana-- tepatnya didalam bathub.


"Kau gila?" tanya Jimmy pada Nev yang terlihat menampilkan raut wajah sendu.



Nev mengadah sekilas pada Jimmy, tapi dia tidak menggubris pertanyaan Jimmy yang terdengar konyol itu. Nev justru semakin mendongak, untuk menatap langit-langit kamar mandi-- sehingga showerset yang masih menyala dan mengeluarkan air itu--kembali menderu dan membasahi wajahnya.


Jimmy mendengkus kesal karena Nev mengabaikannya.


"Kenapa tak mati saja? Aku pikir kau bunuh diri karena patah hati," kata Jimmy tak acuh.


Nev terkekeh mendengarnya, "Aku memang sudah gila, aku mengakuinya, tapi aku tidak mau mati sekarang. Kalau aku mati sekarang maka Raya benar-benar akan dimiliki orang lain dengan begitu mudah," jawab Nev sembari tersenyum miring.


"Cepatlah selesaikan mandimu... aku sudah lapar!" kata Jimmy berbalik badan.


"Kau kira rumahku ini rumah makan? Kau selalu meminta makan disini. Apa kau bangkrut lalu kehabisan uang beberapa bulan ini..." sindir Nev dan Jimmy kembali mendengkus.


"Sudah patah hati pun masih bisa menghinaku! Ku biarkan kau menang kali ini karena aku sedang mengasihanimu," kekeh Jimmy sembari keluar dan menutup kembali pintu slidding kamar mandi.


Nev melempar Jimmy dengan botol shampo, tapi pria itu sudah lebih dulu keluar dengan cepat, sehingga botol shampo itu hanya melayang sekejap diudara-- lalu jatuh begitu saja dilantai kamar mandi.


Akhirnya Nev hanya mengumpat Jimmy dalam hati saja, niatnya mau mengejek Jimmy selalu berakhir dengan olokan telak dari sahabatnya itu.

__ADS_1


..._____...


Jimmy kembali ke ruang makan, dia sarapan tanpa menunggu kedatangan Nev, dia sudah menunggu Nev terlalu lama dan perutnya sudah tak bisa diajak berkompromi sekarang.


Ditengah kegiatan makannya, dia harus tersedak parah karena melihat Nev yang menghampiri meja makan sambil berjalan. Tunggu dulu, Nev berjalan?


Nev lalu menarik kursi makan dan duduk di hadapan Jimmy, membuat pria bermata minimalis itu bengong dan mengedip-ngedipkan mata beberapa kali.


"Kau sudah bisa berjalan?" tanya Jimmy dengan nada tak percaya.


"Begitulah," kata Nev pongah.


"Sia lan! Sejak kapan? Kenapa aku baru tahu!" Jimmy berdiri spontan dari duduknya, rasanya dia tak percaya melihat kenyataan yang sudah jelas-jelas terjadi didepan matanya.


"Duduklah, Jim... kau terlihat menj*jikkan jika memasang wajah seperti itu," cibir Nev.


Namun Jimmy tak bergeming, jusrru dia memutari meja untuk berdiri lebih dekat dengan posisi Nev.


"Aku tidak bermimpi, kan? Kau benar-benar bisa berjalan?" Jimmy antusias sekali.


Nev hanya mengangguk sembari meneguk segelas air untuk memulai sarapannya.


"Selamat, Nev. Aku bahagia kau sudah normal kembali," Kata Jimmy memeluk tubuh Nev tiba-tiba.


"Woy... lepaskan! Aku memang masih normal. Sepertinya kau yang tidak straight lagi karena sudah berani-beraninya memelukku!" kata Nev sembari mencoba menjauhkan tubuh Jimmy dari tubuhnya.


Jimmy tak mengindahkan ejekan Nev itu, dia tahu Nev tidak sungguh-sungguh mengatainya. Jimmy teramat senang mengetahui kenyataan ini.


"Jaga jarakmu denganku, Jim. Atau kau akan ku seret keluar sekarang juga dari rumahku!" senggak Nev terdengar serius.


Jimmy segera menjauhkan tubuhnya, lalu mereka pun terbahak bersama kemudian.


Jimmy meninju bahu Nev dan Nev berlagak mengaduh kesakitan.


"Aw ... Sia lan kau!" kata Nev terkekeh.


Jimmy ikut tertawa dan kembali ke kursinya, dia melanjutkan sesi makannya yang tertunda.


"Sekarang apa rencanamu?" tanya Jimmy sembari mengunyah makanannya kembali.


Nev mrngangkat bahu karena dia tak memiliki ide cemerlang sekarang.


"Kali ini aku akan membantumu, Bro..." kekeh Jimmy.


"Waktu Raya pergi kau juga bilang mau membantuku," dengus Nev.


Jimmy terkekeh kembali. "Kali ini beda, Bro. Aku tidak ingkar lagi," Jimmy mengacungkan dua jari membentuk huruf V.


"Oke," kata Nev tersenyum kecil.


"Aku tahu, semuanya akan mudah jika kita bekerja sama," kata Jimmy pede.

__ADS_1


"Seharusnya kau mengatakan itu sejak sebulan yang lalu," sindir Nev dan Jimmy terbahak karenanya.


...Bersambung ......


__ADS_2