PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Saling Jail


__ADS_3

Aarav terbangun dari tidurnya, ia menatap seseorang yang kini tidur didalam dekapannya. Sudut bibirnya tertarik, melengkungkan senyuman paling bahagia.


Ternyata semuanya bukan mimpi, Rahelsa benar-benar telah sah menjadi istrinya. Dia kembali tersenyum puas, membayangkan kejadian semalam, dimana ia menjadi lelaki pertama untuk Rahelsa.


Tangannya terulur pelan, merapikan poni Rahelsa yang tampak berantakan. Kemudian, ia kembali senyum-senyum sendiri.


Baru kali ini ia merasa dihantam perasaan bahagia yang membuncah, setelah beberapa kali mengalami kejadian menyedihkan dimasa lalu. Ia berharap semoga rumah tangganya dengan Rahelsa selalu diberkahi dan masalah yang nanti menghampiri akan mudah dihadapi, sebab pernikahan memang tak lepas dari masalah, bukan?


Dalam diam, Aarav memperhatikan Rahelsa yang tidur dengan raut wajah damai. Ia pernah mendengar ucapan seseorang bahwa jika ingin melihat cantiknya paras wanita adalah saat pagi hari selepas bangun tidur.


Aarav belum pernah melihat bagaimana wajah Rahelsa saat bangun tidur, sekarang ia jadi penasaran untuk melihat hal itu.


"Els..." Aarav berbisik lembut di telinga Rahelsa, mencoba membangunkannya.


Rahelsa masih tertidur, hanya saja dia menggaruk kupingnya sendiri sebelum akhirnya kembali merapatkan tubuh untuk memeluk Aarav lagi. Tampaknya ia tak suka dengan gangguan yang Aarav lakukan, atau lebih tepatnya ia belum menyadari jika Aarav yang tengah memanggilnya.


Aarav menahan geli, ia membalas pelukan Rahelsa ditubuhnya. Namun, lagi-lagi ia ingin mempersembahkan pagi pertama dengan hal berbeda untuk sang istri.


"Els..." bisik Aarav lagi, sengaja ia meniup-niup pucuk kepala Rahelsa untuk mengganggunya.


"Mama... aku masih ngantuk!" gerutu Rahelsa masih terpejam.


Aarav mengulumm senyuman, ternyata Rahelsa mengira sedang dibangunkan oleh Tante Nimas. Apa dia tidak sadar jika kini tengah memeluk Aarav dengan erat? Atau, jangan-jangan Rahelsa mengira Aarav adalah guling atau boneka yang sedang di peluk?


Aarav menggeleng pelan, kemudian melepaskan pelukannya dengan rasa berat hati. Ia memposisikan diri agar bisa berbisik lagi ditelinga Rahelsa.


"Els, bangun dong!" bisik Aarav.


Rahelsa bergeming, tanpa pergerakan.


"Sayang, ini aku Aarav..."


Seketika itu juga Rahelsa terkesiap dan langsung terduduk sembari menatap ke arah Aarav dengan kernyitan heran.


"A-aarav!" desisnya pelan.


Aarav menopang kepala dengan satu tangan, tapi masih menahan gelak.


"Jangan bilang kalau kamu lupa kalo kita udah menikah kemarin," ucap Aarav tenang.


Rahelsa menepuk dahi, kemudian menghela nafas singkat.


"Y-ya aku ingat," katanya tergagap. Sepersekian detik berikutnya, dia malah mengambil bantal demi menutupi wajahnya sendiri.


"Eh, kenapa?" tanya Aarav heran.


"Malu...."


"Malu? Malu kenapa?"


"Muka bantal, pasti enggak banget pas dilihat kamu!"


Akhirnya Aarav tergelak juga. Seakan Rahelsa bisa tahu niatnya yang memang ingin melihat wajah bangun tidur gadis itu. Ralat, sudah tak gadis lagi karena ulahnya.


"Tapi tadi aku udah sempat lihat, Els..."

__ADS_1


"Enggak ih.... malu-maluin!" gumam Rahelsa pelan.


Aarav menarik bantal yang menutupi wajah Rahelsa namun Rahelsa malah menahannya.


"Els... jujur aja ya, aku memang mau lihat wajah kamu pas bangun tidur."


"Gak lucu, Aarav! Aku gak pede!"


"Jadi.... gak boleh?"


Rahelsa tak menjawab, namun posisinya tetap memegangi bantal dengan erat sebagai penutup wajah.


"Jangankan muka bantal, semua yang kamu tutupi juga udah aku lihat, kan!" ucap Aarav sambil tertawa pelan.


Brak


Rahelsa berdiri lalu melemparkan bantal ke arah Aarav. "Kamu ih," gerutunya sambil berjalan cepat menuju kamar mandi diujung kamar.


Sementara Aarav masih tergelak karena sikap Rahelsa yang malu-malu.


"Sayang, jangan ngambek ya..."


"Tauk!" kata Rahelsa dari dalam kamar mandi.


Didalam kamar mandi Rahelsa segera mencuci muka diwastafel, kemudian menggosok giginya. Setelah itu barulah ia keluar lagi dan pede dilihat Aarav.


Aarav masih saja senyum-senyum memperhatikan Rahelsa yang baru keluar kamar mandi.


"Jangan liatin aku kayak gitu, Rav."


"Biarlah, namanya juga lihat istri aku."


Akhirnya Aarav tergelak kembali.


"Tapi pas tidur, kamu juga mulutnya kebuka, menganga gitu..." ejek Aarav.


Seketika itu Rahelsa menutup mulutnya dengan tangan. "Hah? Yang bener...."


Aarav mengangguk masih dengan seringaiannya.


"Ih... kamu pasti ilfeel..." lirih Rahelsa.


"Hahahaha... mau kamu tidur dengan ekspresi apapun aku gak bakal ilfeel, sayang...."


Rahelsa yang belum terbiasa dipanggil dengan sebutan mesra seperti itu langsung menundukkan wajahnya yang memerah.


"Sini..." panggil Aarav agar Rahelsa mendekat.


Rahelsa berjalan singkat sampai mencapai bibir ra njang.


"Duduk disini," kata Aarav menepuk sisi kosong disana. Rahelsa menurut dan duduk menatap Aarav.


Aarav membelai wajah Rahelsa. "Denger aku, kita udah menikah... jadi yang harus kita terima dari pasangan kita bukan cuma kelebihannya aja, tapi kekurangannya juga."


Rahelsa mengangguk. "Tapi, bener ya aku tidurnya menganga?"

__ADS_1


Aarav tertawa pelan. "Enggak," jawabnya enteng.


"Ih, dasar kamu.. hobby banget ngerjain aku!" Rahelsa mencubit lengan Aarav.


"Jangan dicubit terus, dicium kek!" gerutu Aarav.


Walau malu, akhirnya Rahelsa mengecup pipi Aarav kiri dan kanan bergantian, membuat Aarav salah tingkah hingga Rahelsa paham sekarang gilirannya yang akan menjaili Aarav.


Aarav berdehem-dehem canggung. Tapi, karena kini Rahelsa tahu kelemahan Aarav akhirnya dia berniat melakukan hal lain untuk menggoda Aarav. Memangnya Aarav saja yang bisa membuatnya malu. Dia juga bisa.


Rahelsa menarik kaos Aarav sampai sebatas dada. Menahan rasa malu demi tercapai tujuannya, mengerjai Aarav.


"Eh-eh... sayang, mau apa?" tanya Aarav gelagapan.


"Mau bantuin kamu mandi, emang mau gini terus sampai siang?" kata Rahelsa.


"Tapi, biasanya di kursi roda dulu buka bajunya jadi nanti tinggal masuk kamar mandi, sayang."


”Enggak mau, aku maunya buka disini..." Rahelsa ngotot. ”Angkat tangan kamu biar kaosnya aku buka..." lanjutnya.


Aarav menurut, namun dia heran kenapa Rahelsa mendadak agresif seperti ini, biasanya Rahelsa akan malu-malu didepanya, perasaannya jadi tak enak.


"Eh, kamu mau kemana?" tanya Aarav.


"Sebentar," jawab Rahelsa. Wanita itu kemudian berjalan ke depan meja rias, mencari sesuatu disana. Aarav mengernyit heran saat Rahelsa memakai lipstik berwarna merah terang.


Rahelsa kembali mendekat ke arah Aarav.


"Mau ngapain?" tanya Aarav bingung.


"Aku mau kasih hadiah buat suami aku dipagi ini... karena dia suka banget ngerjain aku!"


Meninggalkan rasa malu, Rahelsa mencium wajah Aarav hingga wajah tampan itu penuh dengan bentuk bibir karena dia memang sengaja memakai lipstik yang terang menyala.


Aarav terkekeh melihat kelakuan absurd istrinya. Tapi kemudian ada yang aneh saat tiba-tiba Rahelsa terdiam.


"Kok diam? Lagi dong!" tantang Aarav. "Kamu mau ngerjain aku, kan?" tebaknya.


Rahelsa menggelengkan kepalanya, ternyata strateginya salah. Bukannya malu, Aarav justru minta lagi. Haiisss...


Sebenarnya niat Rahelsa membuka kaos Aarav juga karena dia ingin memberi jejak ditubuh lelaki itu dengan lipstiknya, tapi akhirnya dia sendiri yang malu dan tak melanjutkan.


"Terus, ini...." Aarav menunjuk dadanya sendiri. "Gak dibuat stempel juga?" goda Aarav.


Rahelsa menggeleng cepat, karena malu berlebihan dia hendak segera bangkit dan menyembunyikan diri dilubang semut, jika bisa!


Kenapa rasa malunya baru tiba setelah dengan agresif menciumi seluruh wajah Aarav?


Hah!


"Mau kemana?"


"Mau turun kebawah!" jawab Rahelsa.


"Gak bisa sayang, kamu harus tanggung jawab dulu... kan kamu udah buka-buka kayak gini kok gak dilanjutin." Aarav kembali menahan geli melihat ekspresi wajah Rahelsa.

__ADS_1


"Tauk ah!" ucapnya menutup wajah dengan telapak tangan.


******


__ADS_2