
Malam harinya, Zio benar-benar mengunjungi kediaman keluarga Airish yang letaknya di puncak paling atas gedung Apartmen.
Zio datang seorang diri dengan setelan rapi. Ia menekan bel dan menunggu beberapa saat sampai pintu dibukakan dari dalam.
Seorang gadis dengan wajah begitu mirip dengan Airish terlihat disebalik pintu. Namun, hanya dengan sekali pandangan ia sudah mengetahui dengan jelas jika itu adalah Abrine.
"Masuk, Zi ...." Abrine mempersilahkannya masuk. Ia mengangguk samar dan melangkahkan kaki untuk masuk kedalam tempat tinggal kekasihnya.
"Zio ...." Suara sapaan ramah terdengar menyambut kedatangannya, disertai kekehan renyah. Kemudian rentangan tangan yang membentang, memeluknya sekilas sambil menepuk pundaknya penuh keakraban. Ayah Airish--Tuan Nev yang terhormat--berlaku sangat hangat kepadanya.
"Om ...." sapanya agak kikuk, meski ini bukan pertemuan pertama dengan pria yang sangat matang itu, namun kali ini tetaplah pertemuan yang berbeda dari sebelumnya, sebab sekarang ia bertandang bukan sebagai rekan bisnis Om Nev, melainkan sebagai tunangan dari putri pria itu.
Tak berapa lama, seorang wanita cantik di usia yang tak lagi muda juga menyambut kedatangannya.
"Zio, apa kabar, Nak?" tanya Tante Raya.
"Ba-baik, Tant ...." jawabnya agak gugup. "Tante sehat?" tanyanya.
"Sehat dong, apalagi udah denger kabar baik...." kelakar Tante Raya dengan senyuman lebar. Kabar baik yang dimaksud beliau mungkin mengenai pertunangannya dengan Airish yang sudah resmi diterima oleh gadis itu.
Beberapa saat kemudian, ia melihat Aarav dan Rahelsa yang juga ada disana. Aarav menyapanya dan menanyakan kabarnya, sementara Rahelsa tersenyum lembut dan mengacungkan jempol kearahnya.
"Maaf saya tidak datang saat acara pernikahan kalian," katanya sungkan menatap sepasang pengantin baru itu.
"Nggak apa-apa, gue juga tahu Lo sibuk!" kekeh Aarav.
Namun, sejauh mata memandang, ia tak melihat adanya Airish diantara semua keluarga inti yang ada disana.
Om Nev dan Tante Raya mempersilahkannya duduk di ruang tamu sambil menunggu Airish. Mereka berbincang ringan mengenai pekerjaan dan keluarga Zio yang ada di Indonesia.
"Berapa lama kamu di Jerman, Zi?" tanya Om Nev padanya.
"Seminggu, Om. Tapi ini adalah hari kedua saya. Jadi hanya sekitar lima hari lagi saya berada disini."
"Kalau ada perlu apapun, butuh apapun jangan sungkan bilang ke kita," timpal Tante Raya yang selalu bersikap hangat.
"Iya, Tant...."
"Bagaimana kabar kedua orangtua kamu, Zi?" tanya Om Nev lagi.
"Alhamdulillah Bunda sama Papi sehat, Om. Kalau diizinkan, nanti saya akan mengajak kedua orangtua sekalian berkunjung kesini."
Om Nev dan Tante Raya mengangguk setuju. Tak berapa lama pandangan matanya tertuju pada sosok gadis yang sedang menuruni tangga.
"Maaf, udah lama ya, Zi?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Airish, gadis yang sejak tadi ia cari keberadaannya.
Ia menelan saliva dengan cepat demi menjawab pertanyaan gadis yang mempesona dipandangan matanya itu. "Belum lama, kok," jawabnya.
Airish mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah kenapa ia melihat Airish begitu anggun malam ini. Entah sengaja untuk menyambutnya, atau memang ia yang selalu terpana pada satu sosok itu saja. Selama ini, harus ia akui jika matanya seakan buta dan tidak bisa menatap gadis lain yang ada disekelilingnya.
"Ya udah, makan malamnya kita mulai sekarang, saja!" kata Aarav mengambil keadaan. Pemuda itu tampak memberi kode pada Rahelsa agar mendorong kursi roda ke arah meja makan.
Langkah itu diikuti oleh Tante Raya dan Om Nev, beserta Abrine yang masih tampak sama sejak dulu dengan ciri khas sikap cueknya itu.
Ia menjadi orang paling belakang yang menyusul ke meja makan, tapi disisinya ada seorang gadis yang berjalan beriringan. Meski hanya dalam keadaan seperti ini saja, sudah membuatnya bahagia serta ingin berteriak kesenangan. Namun keinginan berteriak itu harus ia tahan, sebab ia tak mungkin menunjukkan sikap kekanakan seperti itu didepan keluarga Airish, bukan?
Mereka mulai makan dengan hangat dan kekeluargaan. Tante Raya bahkan mengambilkannya nasi dan lauk. Padahal, ia berharap Airish yang melakukannya, namun ia dapat melihat jika gadis itu masih tampak canggung berada didekatnya. Mungkin juga sungkan untuk melakukan hal hangat padanya didepan semua keluarga.
__ADS_1
"Rish, apa yang mau kamu ucapin sama Zio karena selama ini udah betah nungguin jawaban kamu?" celetuk Abrine setelah mereka selesai dengan makan malam dengan menu lezat.
"Apa ya?" Airish menundukkan wajah. Namun sesaat kemudian menatapnya dengan binar mata yang sulit untuk ia artikan.
"Terima kasih..." ucap Airish akhirnya, membuatnya mengulumm senyuman.
"Cuma itu?" Aarav terkekeh diujung sana kemudian berdecak panjang.
"Bilang apa gitu, yang berkesan!" kikik Abrine. Kakak dan Adik itu seolah sengaja bersahut-sahutan agar Airish mau membuka kata tentang isi hati gadis itu.
Airish tersenyum tipis. "Aku gak bisa ngucapin apa-apa, aku gak ahli dalam mengucap kata-kata manis," ujar gadis itu.
"Kalau begitu kamu tunjukin keahlian kamu aja gimana?" tantang Om Nev yang tersenyum pada puterinya.
"Apa?" tanya Airish tampak kebingungan. Sedang ia menyeringai kecil melihat reaksi wajah bingung gadisnya yang sebenarnya paling menggemaskan jika sudah mematut wajah seperti itu.
Rahelsa tampak mendekat ke arah Airish. Kemudian berbisik ditelinga gadis itu, entah mengatakan apa, ia tak mendengarnya.
Airish tersenyum setelah mendengar ujaran Rahelsa yang membuatnya penasaran apa hal yang mereka diskusikan.
______
Sebelum pulang, ia dan keluarga Airish berkumpul dalam sebuah ruang keluarga yang ada di Apartmen.
Mereka mengambil posisi duduk masing-masing, berikutnya mempersilahkannya duduk pula. Kali ini ia benar-benar tak tahu apa yang hendak dibahas lagi. Ia sangat senang dengan sambutan keluarga Airish yang hangat, namun entah kenapa ia masih saja bersikap sungkan didepan semuanya.
Tak berapa lama Airish ikut duduk, bukan duduk disisinya seperti keinginan dalam hatinya. Namun, gadis itu justru duduk dikursi yang ada didepan piano besar yang terdapat di ruangan itu.
Ia tertegun, terpana sekaligus merasa speechless saat tiba-tiba mendengar nada yang dimainkan oleh jemari lentik gadisnya.
Dengan mahir, Airish mulai menekan tuts piano secara perlahan, satu persatu, sampai akhirnya lantunan nada yang merdu mulai terdengar mendayu-dayu, disusul suara gadis itu yang melantunkan lagu lawas milik Jennifer Lopez alias J.Lo bertajuk Alive.
Time ....
Goes ....
Slowly now .... in my life,
Fear .... no more .... of what I'm not sure,
Searching to feel your soul,
The strength to stand alone,
The power of not knowing and letting go ....
I guess I've found my way
It's simple when it's right
Feeling lucky just to be here, tonight
And happy just to be me
And be alive
Love.... in and out of my, my heart
And though life....
__ADS_1
Can be strange....
I can't be afraid....
Searching to feel your soul
The strength to stand alone
The power of not knowing and letting go ....
Airish terlihat menjiwai lagu itu, dengan suara yang terbilang baik dan diatas rata-rata. Ternyata jurusan seni musik yang dipilih gadis itu sangat sesuai dengan bakat yang dimiliki.
Ia dan yang lainnya bagai menonton sebuah konser musik dari seorang pianis ternama. Ia tersenyum bangga untuk gadis itu, gadisnya yang ia cintai dengan penuh kasih selama ini. Mencintai dari jarak jauh, namun tetap menjaga cinta dari jarak yang tercipta. Ia tidak salah meletakkan cintanya pada gadis itu.
_____
"Saya kagum sama kamu," ucapnya saat ia keluar dari Kediaman keluarga Airish. Airish ikut keluar, ingin mengantarnya sampai ke depan lift.
"Kagum?" Airish mengernyit heran sambil tetap berjalan pelan disisinya.
"Kamu berbakat. Saya bangga calon istri saya seorang pianis handal," kekehnya membuat Airish ikut tertawa pelan.
"Aku belum jadi pianis, belum lulus kuliah dan belum punya impian terlalu jauh menjadi seorang pianis terkenal."
Langkah mereka terhenti kala tiba didepan pintu besi yang akan mengantarkannya tiba dilantai terdasar dari gedung itu.
"Kalau impian jadi istri saya udah terpikirkan belum?" kelakarnya menatap Airish dengan senyuman.
Airish tertunduk malu, apa ucapannya terdengar sangat kaku dan penuh gombalan basi?
"Lulus kuliah gak lama lagi, kan?" tanyanya memastikan.
"Emangnya kamu niat banget buat nikah muda?" Airish mengadah dan menatapnya serius. Ia tidak tahan melihat tatapan gadis itu. Sulit dikatakan, tapi yang sebenarnya adalah ia ingin sekali memeluk sang gadis namun tetap masih menahan rasa itu.
"Kalau nikahnya sama kamu, niatnya udah dari dulu. Kan, kamu tahu sendiri," jawabnya cuek, mengingatkan Airish mengenai janjinya untuk menikahi gadis itu sudah ada sejak mereka masih berstatus pelajar.
"Sekarang saya merasa sudah mapan, sudah bisa menanggungjawabi diri kamu. Lalu, apa lagi yang saya cari? Tentu saya akan mewujudkan semua janji yang pernah saya ucapkan dimasa lalu," sambungnya membuat Airish tampak tercengang.
"Kamu sendiri, gak siap menikah muda? Kita udah bertunangan jika kamu lupa."
"A-aku tahu..." Airish gugup, ia menekan tombol lift agar pintu besi itu segera terbuka saat tiba dilantai yang kini mereka injak.
Ia berusaha menatap dalam pada netra gadis itu. Tapi Airish terus menghindari sorotan matanya.
Pintu lift berdenting dan terbuka didepan mereka.
"Kamu harus pulang, Zi...." kata Airish bersuara sambil menundukkan wajah.
"Hmmm, kemungkinan beberapa hari kedepan saya akan sibuk sekali dan tidak bisa mengunjungi kamu. Tapi dihari terakhir saya di Negara ini, saya akan usahakan pamit dan menemui kamu lagi. Tak apa, kan?"
Airish mengangkat wajah, sendu dimata gadis itu mulai terlihat. Kemudian Airish pun mengangguk lesu
Ia mengerti jika Airish pasti tengah kecewa dengan hal ini.
"Maafkan saya, karena kesibukan saya ini lah saya menginginkan untuk segera menikahi kamu. Agar tidak ada jarak diantara kita. Agar saya bisa menemui kamu kapanpun saya mau. Agar kamu bisa meminta waktu saya disaat kepadatan jadwal yang ada, pasti saya akan mengusahakannya. Tapi, semua keputusan itu berada ditangan kamu sendiri. Apabila kamu ingin lulus kuliah dulu, saya menghargai itu," tutupnya.
Ia mengelus rambut Airish sekilas, kemudian masuk kedalam lift. "Kalau sudah tiba di hotel, saya akan menghubungi kamu," katanya sembari melambaikan tangan pada gadis yang menatap sendu kearahnya.
*****
__ADS_1