
Nev pulang ke rumah orangtua Raya dan Raya menyambutnya dengan senyuman paling manis.
"Bagaimana pekerjaanmu, Nev?" tanya Raya sembari membantu membawakan tas kerja sang suami.
"Semuanya baik-baik saja, Sayang." kata Nev sembari ingin memeluk tubuh Raya seketika.
Raya menghindar, kemudian menggeleng pelan. "Mandi dulu, ya ..." katanya terkekeh.
Nev merengut, "Masih harum kok," jawabnya sembari mengendus kiri kanan sisi tubuhnya sendiri.
"Aku gak bilang kamu bau, Sayang ..." ucap Raya tertawa.
"Tapi kamu menolak ku peluk," jawab Nev cepat.
"Ya, tapi lebih baik kan mandi dulu, biar lebih bersih dan juga---"
"Dan juga biar bisa lebih dari sekedar peluk," potong Nev cepat sambil tertawa.
Raya hanya melengos, meletakkan tas kerja suaminya diatas meja dan meninggalkan Nev disisi kamar.
Nev memperhatikan Raya sembari membuka kancing-kancing kemejanya satu persatu, tak lama Raya kembali dan memberikan Nev sebuah handuk untuk mandi.
"Nih, mandi ... jadi pikirannya juga ikut bersih," kata Raya terkekeh.
"Bantu aku mandi, ya ..." goda Nev dengan senyuman penuh maksud.
"Mandi sendiri saja ya, Tuan." Raya pun memunguti pakaian Nev yang sudah ditanggalkan dari tubuh pria itu.
"Sudah jadi istri malah gak mau bantuin aku mandi, dulu aja... kamu yang berdiri paling depan untuk membantu dan melihatku mandi," celetuk Nev tanpa rasa bersalah.
Raya menoleh pada suaminya itu. "Apa kamu bilang?" tanyanya dengan intonasi sedikit naik.
Nev menggeleng cepat, "Ng-nggak, Sayang ..." Nev ngacir dan menghilang disebalik pintu kamar mandi.
Jika dulu Raya yang akan takut melihat kemarahan Nev, sekarang Nev harus mengakui jika dialah yang akan takut mendapati kemarahan istrinya itu. Mau bagaimana lagi, Nev sangat mencintai Raya-nya. Ck!
Sehabis mandi, Nev makan malam bersama dengan kedua orangtua Raya.
"Seneng banget, ya, Pa... tiap hari kita makan bersama seperti ini," celetuk Sahara pada suaminya saat di meja makan.
"Iya, tapi sebentar lagi bakalan sepi, Ma..." sahut Adrian.
"Kenapa sepi, Pa?" timpal Raya.
"Ya, kan, gak lama lagi pasti kamu ikut suamimu, Nak..." jawab Sahara yang diangguki oleh Adrian.
Nev tersenyum kecil, "Maaf ya, Pa, Ma... tapi nanti kami pasti sering main kesini," sahutnya.
__ADS_1
Adrian mengangguk-anggukkan kepalanya dan Sahara menatap Nev dengan senyuman.
"Jaga Raya, ya, Nev ..." ucap Sahara dengan lemah lembut.
"Pasti, Ma ..." jawab Nev yakin.
Nev tahu, kedua orangtua Raya pasti sangat kesepian jika Nev membawa Raya begitu cepat untuk pindah ke rumahnya, jadi Nev masih membiarkan kebersamaan mereka--paling tidak, sampai seminggu kemudian.
"Mama jangan sedih, dong ... kalau Raya pindah ke rumah Nev, kan Mama dan Papa masih bisa berkunjung kesana juga, iyakan, Nev?" Raya menatap suaminya dan pria itu mengangguk setuju.
"Tuh, kan ... lagi pula ini adalah kesempatan emas Mama dan Papa," kata Raya lagi.
Adrian dan Sahara saling berpandangan satu sama lain karena tak memahami maksud sang anak.
"Kesempatan emas apanya, Ray?" tanya Adrian mengernyit.
"Ya, kemarin kan Raya dan Nev sudah bulan madu, jadi sekarang giliran Papa dan Mama untuk melakukan hal yang sama dirumah. Kan gak ada Raya lagi yang akan mengganggu momen Mama dan Papa," celetuk Raya sambil mengulumm senyuman.
Nev terkekeh kecil dari tempatnya, sementara kedua orangtua Raya hanya bengong mendengar penuturan absurd sang anak.
"Mama sama Papa itu udah tua," sahut Sahara.
"Iya, bener itu, Ma. Tapi gak ada salahnya juga sih, Ma..." kata Adrian menimpali.
"Ish, Papa ini... sekarang giliran Raya dan Nev! Biar mereka saja, jadi mereka bisa cepat memberi kita cucu," ucap Sahara.
"Oh, begitu ya, Ma?" Kekeh Adrian.
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
"Sayang," Nev memeluk tubuh Raya dengan manja dari belakang. Raya yang tengah mengikat kimono tidurnya langsung tersentak kaget karena ulah Nev itu.
Terkadang, masih ada rasa malu dan gugup melingkupi diri Raya, jika Nev tengah melakukan hal intens padanya secara mendadak dan tiba-tiba.
Jantung Raya juga masih sama seperti dulu, meskipun Nev telah menjamahhnya berulang kali, tapi selalu saja perasaan dag dig dug-nya itu muncul jika bersentuhan langsung dengan kulit Nev.
Namun, Raya mencoba tetap tenang untuk menyikapi sikap Nev itu, walau mungkin Nev menyadari keterkejutan tubuhnya saat disentuh atau ditatapi lekat oleh pria itu.
"Kenapa, hmm?" Akhirnya hanya itu yang keluar dari bibir Raya untuk menanyai maksud Nev yang menyapanya dengan manja. Raya memberanikan diri untuk mengelus pelan lengan Nev yang sudah melingkari perutnya.
"Tadi Jimmy ke kantorku," kata Nev diceruk leher Raya.
"La-lalu?" tanya Raya semakin resah dengan ulah Nev.
"Dia mengatakan tentang Reka dan aku sudah tahu semuanya," jelas Nev.
Reka? Ya ampun, Raya belum bercerita pada Nev tentang kedatangan pria itu pagi tadi kerumah. Walau bagaimana pun, Raya sudah berkomitmen untuk terbuka dengan Nev dan dia harus menjalankan hal itu pula didepan suaminya.
__ADS_1
"Ehmm, Nev ..." Raya membalik tubuhnya untuk menatap Nev.
"Ya?"
"Pagi tadi ... Reka datang kesini," kata Raya dengan hati-hati.
"Hah? Mau apa dia?" tanya Nev agak terkejut.
"Dia mau minta maaf," lirih Raya.
"Hanya itu?" mata Nev memicing, dia harus tahu apakah memang Reka akan menjadi semacam ancaman untuknya seperti kata Jimmy, atau tidak?
"Dia memberiku penjelasan tentang kesalahannya dan memintaku memahaminya, dia juga menilai jika pernikahan kita yang mendadak membuatku terpaksa menikah denganmu," imbuh Raya.
Nev menatap Raya lekat, "Lalu? Apa memang seperti itu?" tanyanya.
"Seperti itu apanya?"
"Kamu memang terpaksa menikah denganku, hmm?"
Raya menangkup wajah Nev, merasai rambut-rambut halus yang mulai tumbuh di rahang suaminya melalui sentuhannya yang lembut.
"Tentu saja tidak, Nev. Aku kan sudah mengatakannya berulang kali," jawab Raya.
"Biarkan saja Reka mau berpikiran seperti apa, kita tidak perlu memikirkan apa yang dia pikirkan, oke?" imbuh Raya menatap Nev dengan lekat.
Nev mengangguki ucapan Raya, "Sebenarnya apa maksud dia menemui kamu, Sayang? Apa dia belum tahu rasanya bogem mentahku ..." kata Nev dengan raut wajah serius.
Raya menggeleng, "Jangan lakukan hal-hal semacam itu, kamu hanya akan mengotori tanganmu sendiri, Nev ..." kata Raya dengan lembut.
"Iya, aku tahu... Aku cuma gak suka cara dia menemui kamu dibelakangku, lain kali dia harus gentle, jika ingin bertemu denganmu harus melalui aku dulu," kata Nev menepuk-nepuk dadanya dengan pongah.
Raya beringsut dari sisi Nev sembari terkekeh pelan. "Memangnya kalau dia izin sama kamu untuk bertemu denganku, boleh ya?" tanyanya.
"Ya nggak boleh lah!" jawab Nev cepat sembari menyusul Raya yang sudah duduk disisi ranjang.
"Ya udah, itu makanya dia nemuin aku dibelakang kamu," kekeh Raya.
Nev berdecak lidah. "Mana boleh begitu! Tapi, apapun alasan dia, kamu jangan sampai tergoda sama dia ya, Sayang." ucap Nev.
"Hmm..."
Nev mengambil tangan Raya dan mengecupi itu secara bertubi-tubi.
Cup cup cup cup cup !
"Ya sudah, sekarang kita tidur ya..." kata Raya langsung berbaring dan menarik selimutnya demi menutupi tubuh.
__ADS_1
Nev mengangguk dan menyusul Raya untuk masuk kedalam selimut yang sama.
...Bersambung ......