
Nev berangkat ke kantor bersama Bian seperti biasanya pagi ini.
Dipertengahan jalan menuju ke kantornya, Nev meminta pada Bian agar mengantarkannya ke alamat Raya yang baru didapatkan kemarin.
"Apa Tuan yakin ingin menemuinya sekarang?" tanya Bian menoleh sedikit pada Nev yang duduk di jok belakang.
Nev mengangguk sekilas. "Memangnya kenapa?" tanya Nev tak acuh.
"Saya hanya--"
"Apa kau takut aku akan langsung menemuinya?" Nev tersenyum miring.
Bian mengangguki pertanyaan Nev. Dia tidak yakin Nev bisa menahan perasannya itu jika melihat Raya dari kejauhan, apalagi, sudah seminggu lebih Tuannya itu sudah tak melihat Raya.
"Aku tidak akan mengganggunya, Aku hanya akan melihatnya dari jauh. Aku akan menemuinya secara langsung saat statusku benar-benar telah sendiri." kata Nev yakin.
"Baiklah, Tuan." Bian segera melajukan kecepatan mobil menuju kediaman baru yang sekarang ditempati Raya.
Sesampainya dikediaman Raya dan menunggu beberapa saat, akhirnya Nev bisa melihat Raya yang baru saja keluar dari rumahnya.
Nev begitu semringah karena akhirnya pagi ini dia bisa melihat Raya lagi, setelah seminggu penuh tak bisa menatap wajah ayu itu.
Nev tetap konsisten pada perkataannya bahwa dia hanya akan melihat Raya dari kejauhan. Namun, senyumannya yang merekah melihat keberadaan Raya didepan teras rumah, harus segera menghilang-- karena tak lama, ia juga melihat mobil Reka yang juga datang kerumah Raya.
Reka pun turun dari mobil dengan senyum terkembang.
Nev tak bisa mendengar pembicaraan mereka, karena posisi Nev masih didalam mobil, Nev memperhatikan interaksi mereka lewat kaca jendela mobilnya dan dia mulai merasa kegerahan.
"Apa kita kembali ke kantor sekarang, Tuan?" tanya Bian, dia mengerti perasaan Nev sekarang, sehingga dia memutuskan mengajak Nev segera meninggalkan tempat itu daripada berlama-lama, toh besok atau besoknya lagi mereka masih bisa melihat Raya karena alamat yang mereka dapatkan ternyata benar adanya.
Bukannya menjawab usul Bian yang mengajaknya ke kantor, Nev justru mengeluarkan suara yang membuat Bian terkejut.
"Aku akan turun dan menemui mereka saja," kata Nev tiba-tiba. Bukankah Nev telah berjanji tak mau menemui Raya secara langsung tadi? Ternyata Nev tak kuasa melihat keberadaan Reka yang sangat dekat dengan Raya. Itu membuat hatinya berkecamuk.
"Tidak bisa begitu, Tuan. Anda sudah berjanji tadi. Jangan dulu menemuinya sekarang," cegah Bian.
"Tapi pengacara muda itu membuatku kesal," kata Nev mendengkus.
Belum sempat Bian mengatakan pendapatnya, Nev kembali bersuara dengan nada panik.
"Mau kemana mereka?" tanya Nev, kini malah menanyakan tentang tujuan Raya dan Reka yang terlihat sudah memasuki mobil secara bersamaan.
__ADS_1
"Sebaiknya kita ke kantor saja, Tuan," usul Bian mencari aman.
"Ikuti mereka!" kata Nev memberi perintah.
Dengan mengembuskan nafas perlahan, mau tak mau, Bian pun mengikuti permintaan Big bos nya itu.
Mobil Reka sudah melaju didepan mereka dengan kecepatan sedang. Bian pun mengemudikan mobil dengan kecepatan yang sama sembari tetap menjaga jarak aman agar tak ketahuan.
"Tuan, tindakan kita ini bisa menjadi masalah. Apalagi yang kita ikuti seorang pengacara,"
"Aku tak peduli," kata Nev kembali mendengkus kesal.
"Reka bisa menuntut kita dengan pasal perbuatan tak menyenangkan," kata Bian mencoba menakuti Nev walaupun dia tahu itu tak akan berhasil karena dia mengenal watak Nev yang keras.
"Bisa diam, tidak? Kau sudah bosan bekerja denganku?" senggak Nev yang makin terpancing emosinya.
Bian pun memutuskan untuk diam, setelah sebelumnya sempat menghela nafas panjang.
Mobil yang dikendarai Reka berhenti tepat disebuah perusahaan besar, yang Nev ketahui itu adalah perusahaan yang bergerak dibidang desain interior untuk perumahan, dia cukup tahu karena perusahaan ini juga menjalin kerja sama dengan perusahaannya yang bergerak dibidang property.
"Mau apa mereka disini?" gumam Nev bermonolog pada diri sendiri.
Bian kembali buka suara. "Saya rasa, Raya akan melamar pekerjaan disini," katanya.
"Berapa lama kita disini, Tuan?" tanya Bian mengutarakan isi kepalanya, karena Raya dan Reka sudah masuk kedalam gedung itu, namun dia dan Nev masih setia didalam mobil.
"Kita tunggu mereka keluar," jawab Nev tegas seolah tak ingin dibantah.
Bian pun mengangguk, mereka menunggu sembari terus menatap kearah pintu keluar.
Hampir setengah jam kemudian, kedua orang yang mereka tunggui itu pun keluar dari dalam gedung.
"Apa kita ikuti mereka lagi, Tuan?" tanya Bian.
"Ya..." kata Nev singkat dan Bian mengelus tengkuknya sendiri sembari menggerutu didalam hati.
Selama bekerja dengan Nev, baru kali inilah Bian merasa Nev sangat berbeda. Bisa dibilang, Bosnya itu seolah tak sadar bahwa telah melakukan tindakan bodoh dengan menjadi penguntit seorang wanita.
Mobil pun mulai berjalan lagi, kemudian menjaga jarak kembali dengan mobil Reka-- yang mereka ikuti.
Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan karena Bian tak kuasa mengutarakan pendapatnya mengenai sikap Nev yang janggal.
Nev sendiri diam karena memikirkan Raya yang terlihat semakin dekat dengan Reka. Mungkin Reka bukanlah tipe Raya-- seperti yang pernah dikatakan perempuan itu.
__ADS_1
Tapi, siapa yang bisa menjamin tentang Reka? Mungkin Raya adalah tipe ideal Reka? Hah! Tentu saja, siapa yang tak menginginkan Raya? Dirinya pun memginginkan Raya, bukan?
Nev mengusap kasar wajahnya sendiri, bahkan dia pun menyadari bahwa tindakan menguntitnya ini sangatlah bodoh.
Jika Nev melihat orang melakukan hal seperti ini untuk seorang wanita, mungkin dia akan tertawa terpingkal-pingkal karena merasa itu hanyalah tindakan membuang-buang waktu.
Nyatanya, tindakan yang sekarang dia lakukan justu membuatnya terjebak dalam situasi bodoh seperti ini.
Bahkan Nev sampai mengesampingkan urusan pekerjaannya, hal yang tak pernah dia lakukan selama ini. Damned!
Biasanya, jika ingin melupakan masalah, Nev justru akan masuk dan berkecimpung dalam pekerjaan. Tapi sekarang? Justru sebaliknya, dia menghindari pekerjaan demi melakukam kegiatan bodoh yaitu mengikuti Raya dan Reka.
Motto hidupnya time is money, tidak akan membuang waktu demi hal receh, nyatanya tak berlaku kali ini, karena baginya apapun yang menyangkut Raya-nya bukanlah semacam recehan tapi sangat berharga. 😁 (ecieee abwangg)
Keadaan memang telah berubah, semua tak sama lagi. Terutama mengenai hatinya. Hatinya yang sudah menetap pada satu wanita dan ternyata harus stuck sampai disitu.
Kini mobil Reka terlihat berhenti dikawasan perkantoran, disini terdapat PT atau CV kecil yang berjajar di kiri kanan jalan.
Terlihat, Reka dan Raya yang kembali menuruni mobil, kemudian memasuki sebuah ruko yang memiliki plang berwarna keunguan. Itu adalah sebuah kantor interior milik seorang arsitek yang mendirikan kantornya sendiri dibawah naungan namanya yang cukup tenar.
"Ini kantor Nona Luisa, Tuan." kata Bian memecah keheningan yang terjadi.
"Hmmm," kata Nev berdehem. Dia cukup mengenal Luisa, karena Luisa adalah teman sepermainannya saat dia masih remaja. Dulunya mereka tinggal dikawasan perumahan yang sama.
Sedangkan Bian, dia mengenal Luisa karena beberapa kali wanita muda itu menyambangi kantor Nev dulu-- sebelum Nev dan Feli menikah.
Nev kembali menunggu Raya dan Reka keluar, hingga akhirnya kedua orang itu pun terlihat membuka pintu kaca yang menjadi pintu keluar-masuk kantor.
Setelah melihat mobil Reka kembali melaju, mobil yang membawa Nev pun terus membuntuti Raya dan Reka. Hingga akhirnya, mobil itu pulang ke rumah yang menjadi tempat tinggal baru Raya.
Raya melambaikan tangan pada mobil Reka yang mulai melaju kembali, kemudian wanita itu pun masuk kedalam rumah.
Setelah memastikan Raya selamat sampai dirumah, barulah Nev meminta Bian untuk kembali ke kantor dan melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.
Nev ingin memulai pekerjaannya, tapi bayang-bayang wajah Raya terus menguasai pikirannya.
"Sabar, Nev ... semuanya tidak akan lama. Kau cuma butuh tenang dan jalani semua ini. Soal Raya, kau pasti bisa menemuinya secara langsung suatu saat nanti." kata Nev menyemangati dirinya sendiri.
Nev melihat ponselnya sendiri untuk menatap foto Raya. Jika hari sebelumnya dia akan bersedih melihat foto itu, hari ini dia menyunggingkan senyuman karena hari ini dia bisa melihat Raya lagi walau hanya dari kejauhan.
"Kamu juga harus sabar, tunggu aku ..." kata Nev seolah berbicara pada Raya secara langsung.
...Bersambung ......
__ADS_1