PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Merawat kamu


__ADS_3

Aarav


Els mengantarkan ku pulang, sepanjang perjalanan hanya ada keheningan diantara kami. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh gadis ini. Hanya saja dia terlihat lebih baik daripada sebelumnya. Apa dia sudah bisa menerima keputusanku mengenai batalnya pernikahan kami?


"Els..." Aku mencoba menyapa, mengusir jenuh yang tercipta sebab Els tidak juga berusaha demi memecah keheningan.


"Hmm?" Els melirikku sekilas sambil sesekali fokus pada jalanan sebab ia tengah mengemudikan mobil.


"Aku udah bicara sama Papa kamu."


"Apa kata Papa?".


"Beliau meminta aku memikirkan lagi secara matang."


Els mengangguk-anggukkan kepalanya tanda memahami maksudku.


"Apa kamu akan memikirkannya?" tanya Els sembari tersenyum kecut.


"Aku akan memikirkannya."


"Berapa lama kamu memikirkan hal ini? Sehari? Dua hari?"


Aku menggeleng. "Entahlah, tapi aku akan memberi keputusan pasti, setelah aku mendapat jawaban yang matang."


Els tersenyum kecil. "Itu artinya keputusan kamu hari ini belum matang, kan?" tanyanya.


"Bukan begitu, aku hanya mempertimbangkan saran dari Om Jimmy," kilahku.


"Baik, jika memang begitu ... biarkan aku merawat kamu selagi kamu berpikir."


"Maksudnya?" Aku mengernyit menatap Els.


"Selama ini aku memang merawat kamu, tapi tidak penuh. Sekarang, karena kamu sedang memikirkan keputusan mengenai hubungan kita, biarkan aku merawat kamu full time. Aku akan menginap di Apartemen, aku akan bicara pada Tante Raya. Aku akan berhenti merawat kamu jika kamu sudah dapat keputusan."


Aku tertawa pelan. " Untuk apa, Els?" tanyaku heran dengan jawaban wanita berhidung bangir disampingku ini.


"Untuk membuat kamu yakin bahwa aku adalah pilihan istri yang paling tepat" Els menyengir.


"Tapi, Els...."


"Aku gak mau penolakan soal yang ini. Kalau kamu sudah dapat jawaban, baru kamu bisa menolak atau terus melanjutkan hubungan kita."


"Kuliah kamu?"


"Aku bisa bolos."


"Els... aku gak mau bolos karena merawat aku."


"Oke, aku tetap kuliah. Diluar jam kuliah aku akan selalu berada disamping kamu kapanpun dan dimanapun kamu berada," Els tersenyum lagi. Namun, entah kenapa aku merasa senyumnya penuh kegetiran.


*****


Sesuai dengan ucapan Els, dia benar-benar mendapat izin dari Mamaku untuk menginap di Apartemen kami. Entah kenapa Mama membiarkannya, aku tidak tahu apa yang Els utarakan pada Mama. Apa mungkin Els mengatakan pada Mama mengenai keputusan yang sudah ku buat? Entahlah.


"Aku menginap di kamar Airish malam ini. Tapi, aku akan mengantarkan kamu untuk istirahat lebih dulu," kata Els tersenyum dan mendorong kursi rodaku menuju kamar.


Aku tahu, kamar ini mungkin sudah ratusan kali dimasuki oleh Els, namun baru malam ini dia memasuki kamarku dalam keadaan lewat jam makan malam seperti ini. Aku cukup gugup dengan kehadirannya diranah pribadiku malam ini.


"Keluarlah, Els... aku akan mengganti bajuku." Aku merujuk pada kemeja yang masih ku kenakan sejak kami mengunjungi pameran lukisan sore tadi.


Els tampak tertegun sejenak, sedetik kemudian dia menggeleng samar. "Aku akan membantu kamu," putusnya dengan suara pelan.


Mataku membola. Sesering apapun Els menjaga dan merawatku, dia tidak pernah membantuku dalam hal ini. Berganti pakaian atau semacamnya. Ini hal yang cukup membuatku janggal.

__ADS_1


"Enggak."


"Katakan di lemari mana kamu menyimpan piyama atau kaos? Aku akan membantu menemukannya," Els berbicara dengan wajah memerah. Aku yakin dia sama malunya denganku namun dia mencoba bersikap biasa demi menepati ucapannya untuk merawatku lebih dari yang sebelum-sebelumnya di waktu terdahulu.


"Tidak usah, aku sudah bisa sendiri."


Els menggeleng cepat. "Aku akan mencarinya." Els bergerak ke arah lemari. Membuka satu persatu pintu kabinet lemari sambil sesekali bersuara. "Apa dibagian ini? Yang diatas atau dibawah?" tanyanya kemudian.


Aku mendorong kursi rodaku mendekat padanya. "Biar aku saja," kataku pelan.


Els sedikit menyingkir, aku menarik sebuah kaos berserta celana rumahan dari sudut lemari.


"Oh disana. Baiklah, besok-besok aku sudah tahu," celetuk Els pelan.


"Besok-besok?" tanyaku.


"Ya, kamu belum dapat keputusan, kan?"


"Ya, belum."


"Ya sudah, berarti besok-besok aku sudah tahu harus mengambil baju rumahan kamu disebelah mana." Els terkikik pelan.


"Kamu gak usah memaksakan diri sejauh ini, Els."


"Aku gak terpaksa."


"Yaudah, aku mau pakaian. Bisa keluar sebentar?"


Rahelsa mengangguk namun kemudian menggeleng.


"Kenapa?" tanyaku semakin heran dengan sikapnya yang sulit ku tebak.


"Aku mau pastikan kamu tidur, baru aku keluar dari sini."


"Aku temenin terus sampai kamu tidur."


"Els..." Aku berdecak lidah melihatnya yang bebal.


"Aku mau bantu kamu."


"Kalau kamu seperti ini terus, berada dikamar aku terus aku gak akan bisa tidur!" kataku sedikit menaikkan intonasi, ku pikir Els akan takut nyatanya dia makin mendekat kepadaku.


"Mau apa?" tanyaku gugup saat Els justru berjongkok didepanku.


"Bantu kamu, buka kemeja kamu," tangan Rahelsa mendekat ke arahku dan aku segera menepisnya.


Rahelsa menatapku dengan tatapan kecewa. "Kenapa?" tanyanya lesu.


"Kalau kamu begini terus, aku bisa marah, Els!" tegasku.


Mata Els berkaca-kaca, aku jadi merasa bersalah telah berkata keras kepadanya.


"Setidaknya, izinkan aku bisa merasakan merawat kamu sejauh ini.... sebelum kamu memutuskan hubungan kita dan aku gak akan pernah bisa melihat kamu lagi."


Aku tertegun mencerna ucapan Els yang cukup memilukan itu. Aku membuang pandangan, tidak mau menatapnya yang mulai tergugu.


"Kamu masih bisa melihatku jika pun aku sudah memutuskan hubungan kita," ucapku lemah.


"Apa kamu pikir aku masih mau melihat kamu setelah kita benar-benar berpisah?"


"Maksud kamu?"


"Aku gak mau ketemu atau melihat kamu lagi. Kalau kita benar-benar berpisah aku gak akan mau melihat kamu lagi, aku akan pergi, Rav!"

__ADS_1


"Els... kamu--"


"Aku gak bisa bersikap naif, aku gak akan bisa melihat kamu lagi. Apa kamu pikir aku bisa hidup dengan baik-baik saja tanpa kamu, hah?" potong Els. Ia meneteskan air mata lagi. Entah sudah berapa kali dia menangis hari ini, hanya untuk diri yang tidak sempurna ini.


"Lanjutkan hidup kamu tanpa aku..." Aku membungkukkan tubuh demi bisa memegang kedua sisi wajahnya yang tersengguk penuh airmata.


"Gak! Terserah kamu mau bilang aku egois atau apa!" Els bersikukuh.


"Kenapa kamu sampai seperti ini hanya demi aku?"


"Karena aku pernah menanyakan sama diri aku sendiri, Rav!"


"Menanyakan apa?"


"Aku bertanya pada diri aku sendiri, apa aku akan ikhlas saat melihat kamu bersama dengan orang lain, jawabannya enggak! Lalu kenapa kamu bisa ikhlas jika suatu saat aku hidup bersama orang lain?"


Aku terdiam, sebenarnya aku juga tidak akan sanggup melihat Els hidup dengan orang lain. Aku juga tidak pernah berpikir untuk hidup dengan wanita lain karena sejak aku cacat, pandanganku hanya tertuju pada satu gadis yang tulus membersamaiku, Rahelsa.


"Aku gak pernah bilang kalau kita pisah aku akan hidup bersama orang lain."


"Lalu? Mana mungkin kamu sendiri terus!"


"Mungkin saja!"


"Kenapa?


Ingin rasanya aku menjawab karena aku hanya mencintai kamu, Els. Hanya melihat kamu bahagia sudah cukup untuk aku yang tidak sempurna ini. Namun, aku memilih diam.


"Kalau kamu gak mau menjawab, ya sudah. Aku akan melanjutkan tugasku. Setelah itu tidurlah," kata Els cepat. Dia mengangkat wajah dan kembali ingin membuka kancing kemeja yang ku gunakan.


"Untuk hal ini, aku bisa sendiri," cegahku.


"Yakin? Aku pikir kamu akan kesulitan saat membuka kancing, jari-jari kamu belum cekatan seperti dulu, Aarav!" protes Els.


"Aku bisa." Aku yakin aku bisa, ini hal mudah meski setiap hari aku memang dibantu Mama dalam hal ini.


Akhirnya Els beringsut, namun dia tetap menungguiku disudut kamar. Dia diam memperhatikanku yang sedang berusaha membuka kancing kemeja.


Satu kancing terlepas dengan gerakanku yang sangat perlahan, namun di kancing yang kedua jariku terasa kebas dan tidak bergerak. Hal ini sering terjadi di alat gerakku yang lainnya, baik itu dibagian leher, jari atau tangan.


"Kenapa? Tidak bisa, kan? Tadi Tante Raya juga sudah mengatakan hal ini..." Rahelsa kembali mendekat, sekarang dia sudah berhasil membuka semua kancing kemeja yang ku kenakan dengan gerakannya yang cekatan.


Aku bisa melihat Rahelsa yang gemetaran saat melihat kulit polosku dibalik kemeja yang sudah terlepas.


"Pakai kaosnya, bisa sendiri?" Aku tersenyum kecil, sedari tadi aku menawarkan untuk melakukan sendiri namun dia bersikukuh. Sekarang giliran aku sudah tak berbusana malah dia yang menjadi gugup? Rasanya aku ingin tertawa melihat gegalat gadis didepanku ini.


"Iya, biar aku sendiri saja."


"Aku akan masuk lagi setelah kamu pakaian."


"Hmm," dehemku. "Tapi, Els..."


"Kenapa? Ada yang kamu butuhkan lagi?"


"Celanaku bagaimana, ya?" Aku memilih mengerjainya saja, daripada dia terus ngotot ingin membantuku. Barangkali jika aku mengerjainya dia akan menyerah dengan sendirinya.


"Ah, iya... bagaimana ya?" Els malah balik bertanya kepadaku.


Aku mengendurkan bahu. "Kamu bilang mau merawatku, kan? Kamu saja yang menurunkannya!" pintaku menahan gugup luar biasa.


"Boleh, kalau kita sudah menikah!" Rahelsa menggerutu sembari keluar dari kamar dengan wajah memerah.


Aku tertawa pelan, benar dugaanku jika dia akan menyerah dengan sendirinya jika seperti ini.

__ADS_1


*****


__ADS_2