PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Pertemuan keluarga


__ADS_3

"Kita mau kemana?" Airish menatap Zio yang sedang mengendarai mobil disisinya.


"Pulang," jawab Zio santai.


"Kamu nungguin aku sampai jam kuliah usai, abis itu cuma mau anterin pulang?" Airish berdecak tak percaya.


Zio tertawa pelan. "Iya," jawabnya singkat.


"Tapi aku masih kangen, Zi. Kemarin kita cuma ketemu sebentar karena aku ketakutan kamu langsung anterin aku pulang. Sekarang juga gitu? Aku udah gak takut lagi, loh." Airish menjawab dengan polosnya membuat Zio makin sulit menahan tawa.


"Saya juga masih kangen kamu. Ntar kangennya dituntasin aja pas kita udah resmi."


"Resmi?"


"Iya, maksud saya pas kita udah resmi menikah. Entar malam, Papi sama Bunda saya, kan, mau ke Apartmen keluarga kamu buat nentuin tanggal pernikahan kita."


"Terus kalau tanggalnya bulan depan, berarti kita nuntasin kangennya di bulan depan, gitu? Kenapa gak sekarang aja kita pacaran lagi kayak waktu itu? Ini juga masih siang, kita bisa jalan dulu sambil nunggu malem tiba."


"Enggak gitu konsepnya, Rish. Saya juga harus persiapan untuk acara nanti malem, ketemuin kedua belah pihak keluarga kita. Lagian siapa bilang sampai bulan depan? Dalam minggu ini juga!" pungkas Zio.


"Apa? Dalam minggu ini? Aku gak salah denger, kan?" Airish melongo.


Zio mengulumm senyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Papi sama Bunda gak bisa terlalu lama di Jerman. Soalnya kan perginya juga dadakan kemarin. Usaha mereka gak bisa dilepas tangan gitu aja, kecuali udah dipersiapkan jauh-jauh hari untuk liburan."


"Kenapa gak dipersiapkan?" Airish menatap Zio dengan tatapan ingin tahu yang besar membuat Zio gemas sendiri melihatnya.


"Ya, kan, kamu yang jawabnya mendadak. Kemarin bilangnya mau nikah 6 bulan lagi.... terus tiba-tiba berubah pikiran."


"Iya juga, sih," Airish nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


______


"Enak bener yang mau lamaran resmi entar malem," celetuk Abrine saat memasuki kamar sang adik.


Airish menoleh ke arah Abrine sambil tersenyum kecil. "Udah pulang, kak?" tanyanya tak menggubris ujaran sang kakak.


"Iya, demi kamu nih!"


"Heheheh...."


Abrine terus memperhatikan tingkah Airish yang sejak tadi mengeluarkan banyak gaun dari dalam lemari, namun berulang kali juga gaun-gaun itu kembali di lemparkan setelah merasa tak cocok dikenakan.


"Repot banget, ya, dek!" sindir Abrine yang heran sendiri melihat kelakuan adiknya itu.

__ADS_1


"Semuanya kok gak bagus ya, kak."


"Bagus, kok."


"Enggak deh, yang ini kependekan. Yang ini warnanya terlalu mencolok. Yang ini juga kayaknya jadul banget." Airish menggerutu sambil menunjukkan beberapa model gaunnya.


Abrine menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bagus semua, dek! Kamu itu udah cantik, gak usah cari yang berlebihan. Atau mau pake baju kakak aja?" tawar Abrine menggoda sang adik.


"Emang kakak punya gaun?"


"Ya enggak! Pake aja kaos atau jaket punya kakak!" Abrine terbahak sementara Airish mencebikkan bibir.


"Aku padahal serius, kak. Aku udah bingung ini mau pake apa!"


"Udah dibilangin pake kaos kakak aja, bawahannya paket jeans belel yang sobek-sobek... pasti keren ba--"


"Stop, kak!" potong Airish. "Kalau gak bisa kasi solusi, mending diem aja," tukas Airish.


Abrine menjulurkan lidah didepan Airish. "Serah, deh! Aku kan cuma kasih saran," ujarnya malas.


Airish kembali memandangi baju-baju lainnya sambil memilih-milih. "Eh tapi, kan, kak. Kalo kakak sendiri apa enggak kepikiran mau nikah? Aku langkahin gini, gak apa-apa, emang?"


"Bomat!"


"Apaan tuh?" tanya Airish dengan kepolosannya yang hakiki.


"Serius, kak! Aku yakin deh... entar lagi kan kita lulus kuliah. Setahun, dua tahun setelahnya mama papa masih diem, deh, liat kakak, tapi gak lama setelah itu pasti dipertanyakan, tuh!"


"Ah, gak penting banget pembahasan kamu, Rish!" gerutu Abrine sambil menyalakan ponselnya. Kini gadis itu malah bermain game disana.


"Penting kak! Eh, tapi kakak masih doyan lakik, kan, kak?"


"Nj*r! Kalah gue!" Abrine mengumpat entah pada siapa. Baru saja main game sudah kalah akibat celotehan adiknya yang melampaui batas-batas wajar.


"Kak! Masih lurus aja kan, kak?" Airish masih mendesak sang kakak untuk menjawab.


"Yeee, masih lah!"


"Serius?"


"Huum." Abrine mengangguk sambil kembali mengulang permainan game dari awal lagi. Kini matanya tertuju fokus pada ponsel dan tak melihat Airish yang heboh sendiri dengan semua pakaian didepannya.


"Aku jadi kepikiran, kakak sama kak Raymond itu, pacaran gak sih?"


"Ya enggaklah," jawab Abrine cepat, namun masih tetap fokus ke game.

__ADS_1


"Kirain.... soalnya deket banget. Gak tertarik buat jadian aja? Aku liat-liat kak Raymond ganteng juga, kok!"


"Ish... apaan sih kamu! Udah deh, kamu pilih aja gaun untuk kamu pake. Dah ya, aku keluar dulu." Abrine berlalu dan keluar dari kamar Airish.


"Kenapa Kak Abrine kayak menghindar gitu ya, pas aku tanyain soal kak Raymond?" Airish bermonolog. "Ah, biarin aja lah!" katanya lagi sambil mengendikkan bahu cuek.


______


Pertemuan keluarga antara kedua orangtua Airish dan kedua orangtua Zio akhirnya terlaksana. Papa Nev dan Papi Ken yang sudah saling mengenal di dunia bisnis, serta Mama Raya dan Bunda Hana yang juga sudah pernah saling berkenalan-- membuat suasana benar-benar akrab dan kekeluargaan.


Menurut pandangan Papa dan Mama Airish itu, keluarga Zio adalah keluarga yang hangat dan bermartabat. Itu sebabnya mereka merestui begitu tahu niat Zio adalah mempersunting salah satu anak gadis mereka, Airish.


Sementara di pandangan kedua orangtua Zio sendiri, keluarga Airish adalah keluarga yang terhormat serta sangat berprinsip. Itulah kenapa Bunda Hana selalu mewanti-wanti Zio untuk menghargai Airish jika memang putranya itu ingin menikahi gadis cantik itu.


"Jadi, kapan tanggal resminya, Mas?" Papa Nev dan Papi Ken sekarang sudah lebih akrab dengan panggilan baru. Jika dulu mereka sebagai rekan bisnis selalu menggunakan embel-embel panggilan 'Pak', sekarang panggilan mereka terdengar lebih kekeluargaan. Jelas saja, mereka akan segera berbesanan.


"Kalau saya maunya dalam Minggu ini juga, Nev!" sahut Papi Ken.


"Lebih cepat lebih baik," timpal Bunda Hana dengan senyum teduhnya.


"Iya, bener, Mbak. Saya setuju itu!" Mama Raya ikut angkat suara.


Setelah sepakat dan mendapat tanggal yang cocok, mereka pun menyetujui jika hari pernikahan itu adalah tiga hari dari sekarang.


"Jadi, kalian itu menikahnya nanti di hari Jumat." Nev bicara sembari menatap pada Airish dan Zio yang duduk terpisah. Airish duduk disamping Mama Raya di sofa sebelah kiri, sementara Zio diseberangnya.


Mendengar itu, Zio dan Airish hanya bisa saling menatap satu sama lain tanpa bisa mengutarakan kata-kata. Pandangan keduanya seolah mengisyaratkan rasa terharu sekaligus bahagia secara bersamaan.


"Gimana, Zi?" Papi Ken menatap puteranya, menanyakan kesetujuan pemuda itu.


"Jika semuanya udah sepakat. Zio setuju dan siap, Pi!" jawab Zio mantap. Akhirnya Zio angkat suara sembari melirik Airish sekilas dari ujung matanya dan gadis yang diliriknya itu tampak menundukkan wajah malu-malu.


"Alhamdulillah, kalau begitu kita udah bisa siapkan semuanya sekarang." Mama Raya tampak senang dan antusias.


"Iya, kita bakal siapin semuanya. Duh, anak semata wayang bunda mau nikah!" timpal Bunda Hana tak kalah heboh.


"Karena ini menikah secara agama dulu, ada baiknya sepakati dulu maharnya nanti apa," ucap Papi Ken pada Airish dan Zio.


"Kalau itu, Zio udah siapin, Pi."


"Emang anak bunda gercep, abis!" Bunda Hana terkekeh dan diikuti kekehan semua yang ada diruangan itu.


"Gerak cepat, ya, mbak!" timpal Mama Raya.


"Iya, anak bunda emang the best." Bunda Hana mengacungkan jempol pada Zio yang dibalas Zio dengan kekehan pelan.

__ADS_1


******


__ADS_2