
Sehari setelah pengakuan Nev pada Raya tentang sebuah bangunan yang baru dibelinya, merekapun berniat mengunjungi tempat itu.
Bangunan itu terletak tak jauh dari kediaman Nev, sangat mudah dijangkau dan sangat strategis.
Nev dan Raya melihat kinerja para pekerja yang kebetulan tengah sibuk merenovasi bangunannya.
"Gimana menurut kamu?" tanya Nev menatap Raya.
"Aku suka, Nev." Raya merasa terharu, Nev benar-benar mengerti dirinya dan melengkapi semua keinginannya meski dia tak pernah mengutarakan hal ini pada pria itu.
"Nanti desain sama warnanya kamu aja yang nentuin..." kata Nev menyarankan dan Raya mengangguk antusias.
"Boleh gak aku masuk ke dalam?" tanya Raya.
"Boleh, tapi pakai safety ya, takutnya ada beling atau benda lain yang nimpa kepala," ujar Nev.
Pria itupun memanggil salah satu pekerja yang ada disana dan meminta helm serta sepatu boot semi untuk digunakan olehnya dan Raya. Kemudian Nev mulai membantu Raya mengenakannya.
Mereka melangkah masuk kedalam bangunan berlantai tiga itu. Ukurannya bisa dibilang tak terlalu besar, sangat cocok untuk pribadi Raya yang simpel dan tak suka sesuatu yang berlebihan.
"Jadi disini ada tiga lantai, Sayang. Rencananya nanti, aku mau buat counter resepsionis sama lobby di lantai dasar. Kalau di lantai dua bisa untuk ruangan kamu beserta gallery nya. Di lantai tiga aku minta buatin kamar pribadi sih, siapa tahu kamu lelah dan mau istirahat."
Raya mengelus pipi Nev dengan lembut. "Aku gak tahu harus bilang apa lagi ke kamu, kalau ada kata yang lebih tinggi dari kata 'terima kasih', aku pasti udah ucapin itu berkali-kali sama kamu," ucapnya.
Nev tertawa, kemudian menggandeng tangan istrinya untuk menyusuri ruangan demi ruangan.
"Kamu mau dikasi warna apa ruangannya?" tanya Nev.
"Aku mau ruangannya didekorasi dengan warna putih, mauve dan softgrey. Bagus gak?"
"Bagus, kamu lagi suka yang girly girly gitu sekarang?" tanya Nev terkekeh.
Raya mengangguk. "Tapi kalau warna kamarnya yang netral aja deh," sambungnya.
"Siap Nyonya! Nanti aku bilang sama kontraktornya," kata Nev bersikap siap dengan menaikkan tangan seolah tengah hormat pada Raya.
Raya terkekeh pelan dan menepuk bahu Nev sekilas. "Kamu ini... tapi, boleh gak kalau aku minta skala ukuran bangunan ini lengkap sama detailnya? Jadi aku tahu apa-apa aja yang mesti di desain dan agar penataannya sesuai dengan ukuran."
"Oke, setelah dari sini skala itu akan langsung berada ditangan kamu." Nev berkata sembari menuntun tangan Raya untuk naik ke lantai atas.
"Kalau di lantai dua ini kamu mau desain gimana?" tanya Nev setelah mereka tiba di lantai dua.
Raya melihat sekeliling dan dia melihat ruangan yang masih berserakan dan penuh dengan peralatan tukang bangunan. Beberapa pekerja juga tampak tersenyum ramah kepada keduanya.
"Disini kan mau dibuat gallery, jadi kesannya harus lebih menarik dan aestetic, aku mau pasang parkit di lantainya terus lampu-lampunya dibuat semenarik mungkin. Nanti disudut sana kita buat desain kitchen set yang menarik. Terus disini kita buat living room yang sesuai sama konsep. Nanti aku mau gambar dulu desain konsepnya kayak apa," jawab Raya antusias. Dikepala Raya sudah terlintas banyak ide jika melihat ruang kosong seperti ini.
__ADS_1
"Aku senang lihat kamu bersemangat seperti ini. Nanti kita belanja untuk keperluan pembuatan living room sama kitchen set nya ya..." kata Nev mengecup tangan Raya berkali-kali.
"Ini semua berkat kamu. Terima kasih, Sayang!" kata Raya tersenyum.
"Aku senang kalau kamu bahagia. Itu prioritas utama dalam hidupku, Sayang."
Raya tersenyum menatap Nev. "Aku bakal rajin dan serius sama profesi ini. Aku gak akan mengecewakan kamu. Sekali lagi terima kasih sudah membantu aku mewujudkan impianku ini, Nev."
"Iya, Sayang. Asal jangan mengacuhkan aku kalau sudah jadi wanita karir," kata Nev memperingati.
Raya terkekeh. "Aku janji kamu tetap yang utama dari apapun. Aku gak akan menyia-nyiakan kamu. Ah... gak sia-sia ya punya suami crazy rich," kelakar Raya dan Nev ikut tertawa karena guyonan itu.
Mereka meninggalkan bangunan itu setelah puas melihat-lihat sekeliling.
Nev memutuskan untuk kembali ke kantor, sementara Raya pulang ke rumah.
Malam harinya Raya mengajak Nev makan malam diluar dan Nev menuruti itu. Mereka makan malam disebuah Restoran yang nyaman dan pulangnya mereka mampir ke sebuah toko roti.
"Sayang, kita ke rumah Nenek dulu yuk. Udah lama gak ke rumah Nenek," kata Raya saat memasuki mobil. Raya sadar mereka jarang mengunjungi Nenek, karena biasanya Nenek yang datang kerumah mereka.
Nev menyetujui usul Raya dan mengarahkan mobil untuk menuju ke kediaman Neneknya.
Sampai disana, kedatangan mereka disambut senang oleh Nenek.
"Ini Raya bawakan roti dan kue buat Nenek." Raya menyerahkan semua bingkisan yang dibawanya.
"Kenapa kamu begitu Nev? Ada yang lucu?" Rupanya Nenek melihat sikap Nev itu.
"Ng-nggak ada, Nek..." kilah Nev masih dengan menahan tawanya.
"Ya udah, ayo masuk..."
Mereka memasuki kediaman Nenek yang ramai. Ramai dengan para pekerja. Nenek sama seperti Nev, suka sekali mengoleksi ART agar rumahnya terasa ramai. Tapi, jika diajak tinggal bersama dengan Nev, wanita tua itu tidak mau. Alasannya dia dan Nev memiliki privasi masing-masing, apalagi Nev sudah menikah jadi Nenek menghargai rumah tangga Nev dan tak mau menyampuri dengan ikut tinggal bersama.
Nev dan Raya duduk di ruang tamu, sementara Nenek menuju ruangan lain setelah menyerahkan bingkisan dari Raya pada seorang ART.
Tak berapa lama, Nenek kembali bergabung dengan Nev dan Raya di ruang tamu.
"Kebetulan banget kalian datang. Ada yang mau Nenek kasi nih..." kata Nenek sembari mengangsurkan sebuah kotak bludru diatas meja ke arah Raya.
"Apa ini, Nek?" tanya Raya heran.
"Itu buat kamu. Ayo buka! Nenek ini udah tua, gak cocok lah pakai begituan lagi," ucap Nenek semringah.
Raya pun memberanikan diri untuk membuka kotak itu, didalamnya banyak sekali perhiasan yang Raya tahu itu pasti memiliki harga yang mahal.
__ADS_1
"Nek, ini..."
"Perhiasan Nenek," potong Nenek. "Untuk kamu saja. Cucu kandung Nenek cuma Nev satu-satunya, dia laki-laki gak mungkin pakai gelang, liontin sama anting, adapun berliannya didesain khusus wanita, jadi gak cocok dipakai pria," kekeh Nenek.
"Tapi, Nek..." Raya hendak protes, dia melihat ke arah Nev tapi suaminya itu justru mengangguki ucapan sang Nenek.
"Nenek tahu besok kamu ulang tahun, jadi ini sebagai kado pembukaan dari Nenek. Cucu perempuan Nenek cuma kamu saja," kata Nenek tersenyum meyakinkan.
"Te-rima kasih, Nek..." sahut Raya tak tahu harus berkata apa lagi sekarang. Dia kehabisan kalimat.
Raya benar-benar kewalahan menghadapi Nenek dan cucu ini. Bagaimana tidak, ulang tahunnya masih besok tapi Nev dan Nenek sudah memberinya hadiah sekarang. Dan apa Nenek bilang tadi? Ini semua 'kado pembukaan'? Lalu apakah ada 'kado penutupan'? Raya merasa tak pantas menerima semua ini, rasa-rasanya mustahil dengan semua yang didapatnya sekaligus dihari ini.
"Kamu ngasih kado apa sama istrimu, Nev?" Kali ini pertanyaan Nenek mengarah pada Nev.
"Rencana Nev berantakan, Nek... Surprise nya udah ketahuan duluan sama Raya."
Nenek terkikik. "Gak bisa bohong kan kamu?" ucap Nenek mencibir.
Nev mengangguk sembari menghela nafas berat. Raya ikut tertawa melihat Nev yang bersikap demikian.
"Maaf sayang, aku bukan berniat menghancurkan kejutan yang kamu siapkan untuk aku, tapi aku gak suka ada yang ditutup-tutupi," kata Raya akhirnya.
"Ya, dan aku memang gak bisa melakukan sesuatu secara sembunyi-sembunyi dibelakang kamu karena ujungnya pasti ketahuan juga hupppppp.... "
Raya dan Nenek ikut terkekeh.
"Gimana di Resort, Nev?" tanya Nenek.
"Udah siap semua kok, Nek.." sahut Nev.
Rencananya, ulang tahun Raya besok akan dibuat di Resort keluarga Nev --Resort yang dulu pernah dikunjungi Nev bersama Raya saat Raya masih berstatus sebagai pengasuh dari pria itu.
"Baguslah... kalau surprise kamu ketahuan, berarti kamu harus siapkan kado lain yang Raya enggak tahu, Nev!" kata Nenek.
Nev hanya tersenyum sekilas, sementara Raya tercekat mendengar penuturan Nenek.
"Nggak... nggak usah, Sayang. Jangan kasi apa-apa lagi buat aku, semuanya udah lebih dari cukup. Aku sampai sulit mengutarakan rasa terima kasihku." Raya mengibaskan tangan pada Nev seolah menolak keras jika Nev akan menghadiahinya lagi sesuatu.
Nenek tertawa diseberang sana, sementara Nev hanya tersenyum miring.
"Tenang, sayang... hadiahnya lain dari pada yang lain kok," ucap Nev sembari mengerlingkan mata.
Dan Raya hanya bisa menelan ludah dengan susah payah.
...Bersambung ......
__ADS_1
...Like, vote, kopi dan bunga dongπ...
...Kalo gak sibuk, nanti aku up episode terakhir ya.... dan besok aku kasih chapter bonus. Mau sampek berapa episode nih bonusnya??? Komen yaππππππ...