PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Penawaran Zack


__ADS_3

Acara fashion week berjalan lancar, semua model kampus mengenakan desain yang sudah dirancang oleh masing-masing mahasiswi yang menjadi penata busana mereka. Tidak terkecuali Zack yang dengan sukarela mengikuti segala instruksi Rahelsa terkait desain rancangannya.


"Setelah acara ini kau kemana?"


"Pulang," jawab Rahelsa jujur dan datar. Hari sudah cukup malam saat acara itu selesai dilaksanakan.


"Oh, come on! Kita harus merayakan kesuksesan acara ini. Iya kan Alice?" Zack melirik Alice untuk meminta dukungan.


"Yeah, kau harus ikut Rahel," kata Alice menimpali.


Rahelsa menggeleng. Ia harus kembali ke rumah orangtuanya. Rahelsa sudah tidak tinggal di Apartemen keluarga Aarav sejak pemuda itu sudah memberikan keputusan terkait pernikahan mereka.


"Ayolah, Rahel. Kita jarang sekali berkumpul bersama. Hanya sebentar," kata Alice mencoba meyakinkan Rahelsa.


"Kau ikut juga Deana?" Rahelsa menatap Deana dan gadis berambut pirang itu mengangguk sebagai jawaban.


"Pilihan tepat, kita berempat akan bersenang-senang, yeahh...." Alice tampak antusias dan mulai mengomando mereka untuk keluar dari ruangan.


"Kita naik mobilku saja!" kata Alice.


"Aku membawa mobil," jawab Rahelsa.


"Aku juga membawa mobil, nanti kita bisa mengambilnya lagi disini," timpal Zack.


Rahelsa mengangguk tanpa banyak protes. Rahelsa, Alice, Zack dan Deana pergi bersama menggunakan mobil Alice.


Alice mengendarai mobilnya menuju sebuah club' malam untuk menghabiskan malam dengan bersenang-senang.


Rahelsa tercengang seketika begitu mereka tiba ditempat itu. Meski selama ini dia hidup dinegara yang bebas namun seumur hidupnya ia tidak pernah memasuki tempat seperti ini. Hidupnya lurus-lurus saja dan terkesan primitif mengenai hal semacam ini.


"Jangan bilang kau tidak pernah ketempat seperti ini, Rahel!" Alice tersenyum tipis, seolah bisa membaca gelagat Rahelsa yang terlihat gusar.


"Y-ya, sebenarnya memang begitu," aku Rahelsa jujur.


Zack, Alice bahkan Deana yang terkesan polos dengan penampilan 'kutu bukunya' justru terbahak mendengar pengakuan Rahelsa itu.


Alice menepuk pelan pundak Rahelsa. "Let's party! Kita akan bersenang-senang malam ini!" ucapnya sembari mendorong tubuh Rahelsa agar melewati pintu masuk yang didepannya dijaga ketat oleh orang-orang berbadan tegap.


Setelah mereka masuk ke dalam club' itu, Rahelsa cukup terkesima dengan pemandangan yang disuguhkan disana. Suara dentuman musik tentu saja langsung terdengar. Asap rokok dan aroma minuman yang menusuk indera penciuman langsung menguat begitu saja. Ruangan ini sangat luas dengan banyaknya kerlip lampu berwarna - warni dimana-mana. Ada sebuah lantai yang dikhususkan untuk dansa serta ada seorang DJ yang tampak sibuk dengan alat-alatnya diujung sana.


Alice tampak melepaskan Hoodie yang ia kenakan, menyisakan baju crop top yang membuatnya tampak s e k s i, sebab menampilkan kulit perutnya yang rata. Sementara Deana, ia membuka dua kancing blusnya, melepas kacamata tebal yang bertengger di hidungnya, terakhir menggerai rambut pirangnya. Rahelsa semakin dibuat terbengong dan terheran-heran sebab selama ini dia menyangka Alice adalah gadis yang tertutup, sementara Deana yang ia ketahui adalah gadis yang polos dan lugu.


Zack merangkul bahu Rahelsa tanpa meminta persetujuan siapapun. Menyadari hal itu, Rahelsa langsung melepasnya kasar lalu menyorot wajah pria itu dengan tatapan tajamnya.


"Jangan berlaku kurang ajar padaku atau kau akan menyesalinya!" ancam Rahelsa tegas. Zack malah tersenyum tipis, kemudian mengangguk layaknya takut pada ancaman yang diberikan gadis itu kepadanya.


"Rahel, aku akan turun ke lantai dansa." Alice menarik tangan Deana dan mereka lansung menuruni undakan tangga menuju tempat dimana banyak orang yang sedang meliuk-liukkan tubuh dibawah sana. Mereka bahkan tak menunggu jawaban dari mulut Rahelsa, membuat Rahelsa menghela nafas panjang.


Rasanya Rahelsa ingin segera pulang saja, namun ia masih menghargai kedua temannya yang mungkin sangat ingin menghilangkan penat dengan hal-hal semacam ini.


Akhirnya, Rahelsa memutuskan duduk di sofa dan Zack menyusul Rahelsa.


"Kau mau minum apa?" tanya Zack. "Aku akan memesankannya," tawarnya lagi.


"Aku tidak minum. Thanks," tolak Rahelsa.


"Disini juga ada orange juice jika kau mau."

__ADS_1


"Tidak, terima kasih."


Rahelsa memperhatikan sekitar dalam keadaan gusar, apa ia pulang saja sekarang? Sebab ia merasa tak nyaman berada ditempat ini.


"Apa kau ingin pulang?" Zack menoleh lagi pada Rahelsa.


Gadis itu mengangguk. Zack terkekeh pelan.


"Kita baru tiba, tunggulah Alice dan Deana beberapa saat lagi, paling tidak sampai mereka naik lagi kesini."


"Biasanya berapa lama mereka akan bosan dengan kegiatan itu?" Rahelsa menunjuk kearah dua wanita yang sedang bergoyang dilantai dansa.


"Setengah jam, maybe."


Rahelsa menghela nafas panjang.


Tak lama, Zack tampak memanggil seorang pelayan mungkin ingin memesan minuman untuk dirinya sendiri.


"Aku memesankanmu orange juice," bisik Zack ditelinga Rahelsa. Rahelsa beringsut menghindar sebab ia merasa tubuh Zack menghimpitnya padahal masih banyak ruang kosong di sofa yang mereka duduki.


Rahelsa lebih memilih diam, padahal ia ingin sekali menjawab ucapan Zack, ia tak suka karena sudah menolak tawaran pemesanan minuman itu namun Zack tetap memesannya juga.


"Minumlah, Rahel..." Zack mengangsurkan segelas jus yang baru diletakkan pelayan dimeja mereka.


"Hmm," jawab Rahelsa berdehem. "Kau tidak meletakkan obat didalamnya kan?" tanyanya memastikan.


"Aku tidak selicik itu. Biar begini aku ingin mendapatkan gadis atau wanita dengan usahaku sendiri, bukan dengan cara culas seperti itu," kekeh Zack.


Zack tersenyum tipis saat akhirnya Rahelsa meminum jus jeruknya.


Rahelsa mengangguk. "Apa yang mau kau tanyakan?"


"Apa kau serius akan menikah dengan lelaki bernama Aarav itu?"


"Tentu saja!"


"Apa kau tidak akan menyesalinya?"


"Menyesal? Ku rasa tak ada yang akan membuatku menyesal," jawab Rahelsa yakin.


"Kau cantik, masih muda, pintar dan berbakat. Aku juga yakin kau bukan berasal dari kalangan menengah kebawah, tapi kenapa kau mau menikah dengan lelaki itu?"


"Apa salah?" Rahelsa balik bertanya.


"Maaf, tapi kondisinya...." Zack tampak ragu melanjutkan kata, namun Rahelsa memahami maksud pemuda ini.


"Aarav memang tidak sempurna. Tapi aku mencintai dia dari ketidaksempurnaannya itu." Rahelsa tersenyum kecil.


"Secinta itu? Apa kau tidak memikirkan akibat jangka panjangnya?"


"Akibat apa yang kau maksud?"


"Pernikahan bukan cuma tentang cinta, Hel. Ada banyak faktor yang memperkuat hubungan itu. Misal, hubungan r an jang," kata Zack tersenyum tipis.


"Menurutku pernikahan juga bukan cuma tentang hubungan itu," kata Rahelsa yakin.


Zack menggeleng. "Kau benar, tapi tidak dipungkiri jika itu akan menjadi sebuah kebutuhan apabila kalian sudah menikah. Maaf, melihat dari kondisinya, aku yakin jika calon suamimu itu tidak akan mampu memberikanmu hak dalam hal itu," kata Zack tampak penuh kehati-hatian.

__ADS_1


"Jadi inti dari pembicaraan ini, apa?"


"Aku ingin kau memikirkan lagi mengenai pernikahan itu."


"Kau siapa berani memintaku untuk hal itu?" Rahelsa tertawa sumbang.


"Aku menyukaimu, Hel."


"Lalu? Aku tidak peduli, kau cari saja gadis lain. Lihat Deana, dia juga cantik!" kata Rahelsa serius.


"Aku hanya menyukaimu bukan Deana ataupun yang lain."


"Aku juga mencintai Aarav, bukan kau atau pemuda lainnya!" jawab Rahelsa tak mau kalah.


Zack akhirnya tertawa. "Baiklah, sekarang ku tanyakan padamu hal yang lain."


"Apa?"


"Kira-kira Aarav bisa sembuh atau tidak?"


"I don't know..." kata Rahelsa tak mau ambil pusing.


"Jika begitu, kau juga tidak akan tahu kapan kau melepas kegadisanmu, kan?" Zack mengangkat bahu dengan senyum getir.


"Itu bukan urusanmu! Kenapa kau harus repot mengurusi hal itu!"


"Hel, biarkan aku yang menggantikan posisi Aarav untuk hal itu. Dia bisa mendapat status sebagai suamimu tapi aku mau mendapat tempat dalam kehidupanmu," ujar Zack dengan wajah serius.


Rahelsa berdiri, ia amat terkejut dengan penawaran yang Zack lontarkan kepadanya. "Breng sek! Apa kau pikir aku serendah itu? Apa kau pikir aku ini ja lang!"


"No!" lirih Zack. "Hal itu sudah biasa, aku hanya ingin memilikimu meski tidak seutuhnya," sambungnya.


Rahelsa menatap nyalang pada Zack. ”Biasa kau bilang? Ucapanmu itu melecehkan ku, Zack!"


"Maaf jika kau merasa begitu, aku hanya menawarkan.”


"Tarik kata-katamu atau jangan pernah temui aku lagi!" tegas Rahelsa.


Rahelsa berjalan cepat, meninggalkan area club', sementara Zack mengejar langkahnya dengan tergesa-gesa.


"Rahel... maafkan aku, aku hanya belum rela jika kau akan menikah dengan lelaki seperti Aarav!"


"Dasar breng sek!" umpat Rahelsa sambil terus berjalan menyusuri koridor untuk mencapai pintu keluar.


"Aku tahu, aku hanya mencari peruntungan... mungkin kau mau menerima tawaranku."


Seketika itu juga Rahelsa menghentikan langkah, berbalik menatap Zack yang ikut terdiam sebab melihat aura kemarahan diwajah gadis itu.


BUGH !!!


Rahelsa meninju wajah Zack membuat pria itu sedikit terhenyak sebab pukulan itu terasa cukup kuat untuk dilayangkan oleh seorang gadis.


Rahelsa tersenyum masam, kepandaian bela dirinya tidak sia-sia, dia bisa melindungi diri atau paling tidak, ia bisa membungkam mulut lelaki seperti Zack dengan bogem mentahnya.


"Jangan temui aku lagi, KAU MENGERTI!" bentak Rahelsa sebelum akhirnya ia benar-benar pergi meninggalkan area club' itu, menyisakan Zack yang sedang memegang rahangnya sendiri.


******

__ADS_1


__ADS_2