
Setelah menemui Adrian, Bian tak ingin membuang-buang waktu lagi, dia pun segera bertolak menuju alamat Pengacara Adrian yang bernama Reka.
Kediaman Reka terdapat dalam sebuah blok perumahan, sehingga Bian harus melapor dulu pada satpam yang berjaga di depan kompleks untuk menyatakan tujuannya.
Hingga sampailah Bian pada sebuah Rumah yang merupakan kediaman Reka itu, dia langsung menghentikan mobil tepat didepan gerbangnya, dia keluar dari mobil sembari merapikan pakaiannya sendiri.
Lalu, tanpa menunggu persetujuan siapapun, dia segera menekan bel rumah yang termasuk dalam kategori mewah itu.
Rumah itu memiliki desain klasik, didominasi dengan warna putih, dengan pilar keemasan yang menyangga didepannya.
Gerbang terbuka otomatis, pertanda Bian boleh masuk kedalamnya. Seseorang sudah membuka pagar itu melalui remote dan itu menyadarkan Bian bahwa kedatangannya sudah diketahui oleh sang pemilik rumah.
Bian berjalan menysuri halaman yang tak begitu luas, hanya ada sebuah taman kecil yang asri didepannya.
Bian harus melewati beberapa undakan tangga untuk menuju teras depan rumah hingga kemudian dia bisa mencapai pintu utama rumah itu.
Bian ingin mengetuk pintunya, tapi kepalan tangan yang siap mengetuk itu harus melayang diudara karena sang pemilik rumah sudah membuka pintu lebih dulu untuk menyambut kedatangannya.
"Selamat sore," sapa Bian ramah. Dia memperhatikan seorang Pria muda yang berkisar sebaya dengannya tengah menatapnya serius.
"Sore," jawab pria itu akhirnya, namun tetap dengan tatapan menyelidiknya.
"Dengan Bapak Reka?" tanya Bian lagi.
Pria dengan setelan santai itu mengangguk kemudian memintanya duduk di kursi kayu mengkilap yang tersedia diteras rumah.
"Duduklah, saya tadi mendapat telepon dari Satpam komplek tentang kunjungan Anda," kata Reka.
Bian mengangguk, dugaannya benar jika Reka sudah mengetahui kedatangannya kesini tapi Reka pasti belum tahu tujuan dan maksud kenapa Bian menyambangi kediamannya.
"Sebenarnya, Anda ini siapa? Kenapa datang ke rumah pribadi saya? Dan dapat alamat saya darimana? Jika ada yang ingin dikonsultasikan, Anda bisa datang ke firma hukum saya atau membuat janji pertemuan dengan saya disuatu tempat." cecar Reka menatap Bian. Nada suaranya pelan namun sangat jelas jika tengah mengintimidasi.
Bian tahu pasti jika Reka seorang pengacara, sehingga diapun memaklumi gaya bahasa dan tatapan penuh selidik yang Reka berikan kepadanya.
"Sebelumnya maaf jika mengganggu waktu santai Anda. Saya Bian, saya adalah rekan kerja dari Raya Syakila. Anda tentu mengenalnya, bukan?" tanya Bian memulai pembicaraannya.
Reka menoleh ke lain arah, entah apa yang ada dikepalanya saat Bian menyebut nama Raya.
Reka menggosok dagunya sendiri, kemudian dia kembali menatap Bian.
__ADS_1
"Ada perlu apa dengan Raya?" tanyanya.
Bian tersenyum kecil. "Jika Anda berkenan, saya ingin tahu dimana keberadaan Raya sekarang. Sebelumnya Saya sudah meminta izin pada Ayah Raya." jawab Bian.
Dan Reka tersenyum miring, menyadari bahwa sebelumnya mungkin Bian telah berselisih dengannya saat di Pengadilan tadi.
Bian memasang sikap santai, sementara Reka terus menelisik ke arahnya.
"Sebenarnya, kenapa mencari keberadaan Raya? Setahu saya, Raya itu bekerja sebagai seorang pengasuh. Lalu Anda rekan seperti apa? Apa sesama pengasuh juga, begitu?" tanya Reka seperti tengah menyindir Bian.
Bian menanggapi sindiran halus Reka dengan tetap bersikap tenang. "Jadi Anda tahu kalau Raya bekerja sebagai seorang pengasuh?" tanyanya memastikan.
"Of course, yes..." Reka menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, semuanya akan mudah. Saya adalah Sekretaris Tuan Nev, pria yang diasuh oleh Raya. Jadi, saya mohon kerja sama Anda untuk memberitahu dimana tempat tinggal Raya sekarang." ucap Bian tak mau berbasa-basi lagi.
Reka tersenyum kecut. "Jika saya memberikan alamat Raya yang baru, untungnya untuk Anda, apa?" tanyanya.
"Saya ada keperluan yang begitu mendesak dan...pribadi," jawab Bian.
Reka terkekeh pelan. "Lalu, untungnya untuk saya?" tanyanya lagi.
Bian tahu jelas, seorang pengacara seperti Reka sangat pandai memainkan kata hingga membuatnya tidak bisa menjawab lagi.
"Saya tahu, untungnya untuk Anda tidak akan ada. Tapi, mempermudah urusan oranglain tidak ada salahnya, bukan?" ucap Bian lagi dan Reka terlihat memaksakan untuk tersenyum.
"Saya dan Raya memiliki urusan pribadi dan saya harap Anda tidak mempersulitnya." ujar Bian
"Boleh saya tahu mengenai apa?" selidik Reka.
Kini giliran Bian yang terkekeh. "Apa anda juga mengurusi hal pribadi Raya? Melewati batas Anda sebagai pengacara Ayahnya?" sindir Bian.
Dan Reka tertawa sumbang.
"Saya tidak mengurusi kehidupan pribadi Raya, hanya saja saya takut Raya berada dalam masalah." jawab Reka.
"Anda tenang saja, ini bukanlah sebuah masalah. Ini murni tentang pekerjaannya. Kenapa Anda menganggap saya akan membuat Raya berada dalam masalah? Saya bukan debt collector, Pak Reka." kata Bian menekankan kata-katanya.
Dan setelah menghela nafas berat, akhirnya Reka mau membuka suara untuk memberinya sebuah alamat.
__ADS_1
"Itu alamatnya," kata Reka sembari menyerahkan secarik kertas memo yang sudah dibubuhi tulisan tangannya sendiri.
"Terima kasih atas kerja samanya," Bian tersenyum senang.
"Jika terjadi sesuatu pada Raya setelah Anda mendatanginya, maka saya tidak akan segan-segan mencari Anda," kata Reka saat Bian ingin meninggalkan kediamannya.
"Tentu," jawab Bian percaya diri, sembari menyerahkan namecard-nya pada pengacara muda itu.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Bian mengantarkan Nev pulang kerumah setelah jam kerjanya usai, hari ini begitu melelahkan karena dia sudah menuju kebeberapa tempat dalam waktu kurang dari setengah hari.
Menjelang kepergiannya meninggalkan kediaman Nev, Bian tak lupa menyerahkan secarik kertas berisikan alamat Raya yang baru pada Nev. Alamat yang didapatnya dari Reka sore tadi dengan cara melawan sedikit argumentasi Reka yang terkesan memojokkannya.
Nev menatap Bian dengan tatapan semringah, tapi Bian segera meminta Nev untuk diam mengingat mereka telah berada dirumah dan takut Nenek mengetahui segalanya.
Nenek masih tinggal dikediaman Nev dan memutuskan untuk menemani cucunya yang dalam keadaan dilema itu. Nenek akan tetap menetap disana paling tidak sampai Nev dan Feli benar-benar telah resmi berpisah.
"Terima kasih, Bian. Kau memang selalu bisa diandalkan," ucap Nev menepuk pelan lengan Bian dihadapannya.
"Sama-sama, Tuan. Saya permisi."
Seperginya Bian, Nev melihat isi kertas itu dan tersenyum lega. Setidaknya dia bisa memantau keadaan Raya dari jauh.
Walau sebenarnya Nev sangat ingin menemui Raya tapi dia harus bersabar demi kebaikan semuanya.
Nev sangat menghargai usaha Bian untuk tahu keberadaan Raya sekarang. Nev tahu pasti Bian mencari tahu dengan tidak mudah.
Seharusnya ini akan mudah jika Jimmy mau bekerja sama, tapi mengingat Jimmy membuat Nev menjadi kesal. Pasalnya, Jimmy seakan sudah terdoktrin ucapan Neneknya, atau justru Jimmy dan Neneknya memang sepemikiran, sehingga sekarang menjadi satu aliran untuk menutupi keberadaan Raya.
Nev bahkan masih ingat ucapan Jimmy yang mengejeknya kemarin.
"Mungkin Raya bisa tidak bertemu denganmu, Nev. Tapi aku tidak yakin dengan dirimu. Saat kau tahu keberadaan Raya, mungkin kau akan memeluknya sampai dia sulit bernafas," kelakar Jimmy pada saat itu.
Dan, untuk membuktikan jika ucapan Jimmy itu tidak benar, Nev berniat melihat keadaan Raya besok.
Apakah benar saat dia bertemu Raya nanti, dia tak akan bisa mengontrol perasaannya seperti yang dikatakan Jimmy?
Entahlah, maka dari itu Nev sangat ingin membuktikannya.
__ADS_1
Namun dilain sisi, dia juga harus menyiapkan mental, jikalau keadaan ini memang mengharuskannya untuk menatap Raya dari jauh saja, tanpa bisa berbicara dan tanpa bisa menanyakan kabar wanita itu secara langsung.
...Bersambung ......