PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Setelah kamu menjadi milik saya


__ADS_3

Seminggu sudah Airish dan Zio berstatus sebagai suami istri, keduanya tampak semakin cocok satu sama lain. Pacaran setelah menikah, itulah yang mereka lakukan sekarang. Sejauh ini mereka menjalani semuanya dengan kompak, apalagi Zio tidak pernah menuntut apapun dari Airish. Pemuda itu benar-benar menunggu Airish siap termasuk tentang perpindahan mereka dari Apartmen keluarga Nev ke sebuah Apartmen lain yang dibeli Zio untuk ditinggali bersama sang istri.


"Kamu gak apa-apa kalau kita beneran pindah hari ini?"


"Ya, gak apa-apa, Sayang. Lagian aku juga harus terbiasa, besok-besok juga bakal pindah lebih jauh dengan balik ke Indonesia, kan?"


Zio mengangguki ucapan sang istri, kemudian melabuhkan sebuah kecupan hangat di dahi Airish.


Setelah semua barang-barang Airish siap disusun dalam sebuah koper, Zio membantu mengangkat itu ke luar kamar. Didepan kamar sudah ada kedua orangtua Airish yang menunggu mereka.


Walaupun Raya tampak tak begitu yakin melepaskan Airish yang manja untuk tinggal terpisah darinya tapi walau bagaimanapun anak gadisnya itu sudah menjadi seorang istri bagi Zio, jadi Raya dan Nev harus menghargai keputusan Zio yang ingin memboyong Airish untuk tinggal lebih mandiri lagi.


"Kamu sering-sering main kesini liatin Mama ya, Rish." Mata Raya tampak berkaca-kaca, mau tak mau ia harus rela.


"Iya, mamaku yang paling cantik. Lagipula ini masih satu kota, Ma. Kalau Airish udah selesai kuliah dan balik ke Indo, gimana? Apa Mama bakal nangis?"


Raya memukul pelan lengan Airish. "Kamu ini, ngeledekin Mama aja bisanya."


Mereka semua pun tertawa berbarengan.


"Zi, papa yakin kamu bisa jaga Airish dengan baik. Papa titip dia dikehidupan kamu. Kalau dia nakal, papa serahin semua keputusannya sama kamu karena dia udah jadi tanggung jawab kamu sekarang. Tapi, ingat! Jangan mengambil keputusan disaat hati sedang marah. Ya, papa yakin kalau kalian bisa sama-sama dewasa sekarang." Nev memberi petuah sambil menepuk-nepuk pundak Zio dengan akrab.


"Iya, Pa. Zio akan jaga Airish semampu Zio. Airish akan jadi prioritas utama buat Zio." Zio berucap dengan yakin sambil menatap wajah Papa mertuanya itu.


"Ya, Mama dan Papa harap rumah tangga kalian berjalan baik selamanya," kata Raya menimpali.


#####


"Sayang, biar saya aja yang nyusun barang-barangnya. Kamu istirahat aja, ya." Zio mengambil alih kegiatan Airish yang tengah menyusun baju-baju ke dalam lemari pakaian di kamar baru mereka.


"Gak usah, Zi. Ini sedikit lagi juga selesai."


Sebenarnya Airish menyusun pakaian sambil membaca artikel di pencarian internet melalui ponselnya. Tapi, karena kedatangan Zio ke kamar mereka, ia langsung menyembunyikan ponsel ke belakang tubuh sebab ia malu jika Zio tahu apa yang sedang ia cari di search engine.


Meski Airish menolak bantuan, Zio tetap membantu Airish menyusun pakaian ke dalam lemari. Meski begitu Airish pun tak beranjak sesuai perkataan Zio semula.


Dan walaupun sudah seminggu menyandang status sebagai istri, tapi Airish selalu saja tetap berdebar jika di dekat Zio. Perlu digarisbawahi, sebenarnya mereka belum melalui malam per tama layaknya sepasang suami istri pada umumnya--dikarenakan Zio tidak mau memaksakan Airish dalam hal ini. Seperti yang pernah lelaki itu ucapkan, bahwa dia ingin semuanya mengalir sesuai naluri mereka saja. Atau bisa dikatakan ia menunggu Airish yang benar-benar siap.


"Jangan liatin aku kayak gitu, Zi." Airish menunduk saat matanya bersitatap dengan mata hitam milik Zio. Ia gugup, selalu gugup.


"Kenapa?" tanya Zio. "Saya cuma mandangin wajah istri saya sendiri. Emang, gak boleh?" Zio tersenyum seperti biasa, menunjukkan dua lesung di bagian kiri-kanan pipinya.


"Boleh, sih. Tapi...."


"Tapi?"


"Tapi aku jadi meleleh." Airish menjawab disertai pipinya yang merona.


Zio tertawa pelan mendengarnya. "Udah pintar merayu kamu, ya?" tanyanya.

__ADS_1


"Merayu? Enggak lah!" sanggah Airish.


"Terus, itu tadi namanya apa?"


"Itu bukan merayu. Kalau merayu itu beda lagi."


"Emang kalau merayu itu, gimana?" tantang Zio menaikkan sebelah alisnya.


Airish berdehem-dehem sejenak, kemudian kedua tangannya terulur dan berhenti di kedua pipi Zio, membingkai wajah tampan itu demi menghadap lurus kearahnya. Seketika itu juga Zio terdiam, dia menunggu bagaimana kiranya istrinya ini yang akan menunjukkan sikap merayu.


"Sayang, mau gak kalau kita menghabiskan malam bersama?" Suara Airish terdengar bergetar. Dalam hatinya ia malu mengutarakan hal ini.


"Seminggu ini kita bersama, tidur juga bareng," kata Zio sekenanya. Ia merasa geli dengan pernyataan Airish tapi tidak menunjukkan sikap itu, berusaha tetap tenang seperti biasanya. Entah apa yang merasuki istrinya sekarang, sebenarnya Zio juga tidak menyangka jika perkataan Airish menjurus kesana, ia tahu dan ia paham maksud Airish saat ini mengenai apa tapi ia masih mau melihat aksi istri cantiknya yang ingin merayunya.


"Bukan tidur yang begitu," kata Airish gugup, ia menggigit bibir bawahnya sambil menundukkan kepala. Sekarang ia malu untuk melanjutkan.


"Terus yang gimana?" Zio mengapit dagu Airish dengan jarinya agar istrinya tetap menatap padanya.


"Eng-enggak."


"Enggak apanya?"


"Kayaknya aku enggak bisa merayu." Airish menatap Zio sambil tersenyum lembut, membuat Zio tak tahan lagi dan akhirnya ikut tertawa.


"Sebenarnya pernyataan kamu tadi gimana? Kenapa terdengar ambigu begitu?" tanya Zio. "Menghabiskan malam bersama?" Zio mengulang kalimat Airish yang awalnya ingin merayu tadi.


"Udah ah, aku mau mandi aja!" Airish bangkit dan berlari menuju kamar mandi, ia menghindar daripada semakin malu karena coba-coba mau merayu suami sendiri tapi ternyata tak bisa dan terlalu malu melakukannya.


"Hah?" Zio melongo membaca itu. Ia melihat lebih dalam di seluruh kata kunci yang sempat Airish ketik disana dan tertinggal di histori pencarian. Sesaat membacanya Zio terkikik geli.


"Airish, Airish...." gumamnya sambil geleng-geleng kepala. Ia beranjak dan menunggu Airish di depan pintu kamar mandi.


######


Airish terkesiap begitu keluar dari kamar mandi. Bagaimana tidak, ada Zio yang bersandar di sisi dinding. Pemuda dengan tinggi 182 CM itu bersedekap santai seolah memang sengaja menunggunya disana.


Airish memandangi dirinya yang saat ini hanya memakai jubah mandi. Ini bukan pertama kalinya Zio melihatnya seperti ini tapi bukan itu masalahnya, sekarang ia ingin berganti pakaian dan biasanya Zio akan meninggalkan kamar jika keadaanya sudah begini. Tapi sekarang kenapa Zio seolah menunggunya?


"Kamu mau mandi juga?"


Zio hanya menggeleng tak menyahut.


"Terus?".


"Saya mau balikin ponsel kamu." Zio menunjukkan ponsel milik Airish dengan sikap tenang.


"Oh," kata Airish belum menyadari sesuatu. "Kan, bisa disimpan di laci atau di atas nakas, Sayang," sambungnya santai tapi itu hanya berlaku sedetik karena sesaat kemudian Airish nampak panik sebab mengingat sesuatu yang sempat terlupakan.


Zio mengulumm senyum didepannya. "Kenapa?" tanya pemuda itu.

__ADS_1


"Kamu.... gak---gak lihat isi ponsel aku, kan?" tanya Airish gugup.


"Gak boleh?"


"Bukan, bukan gitu tapi...."


"Ada yang kamu sembunyikan?"


"Gak juga sih, tapi..." Airish bingung dan tampak kelimpungan. "Ya udah sih, yang penting kamu gak cek ponsel aku, kan?" Airish meraih ponsel itu dari tangan Zio dan kembali hendak menghindar dari hujaman tatapan tajam sang suami.


"Sayangnya saya udah lihat, sih...." ucap Zio membuat langkah Airish terhenti. Airish kembali menggigit bibir bawahnya sendiri.


"A--Apa?"


"Kamu lagi cari tahu bagaimana cara menyenangkan suami..." kata Zio membuat Airish memejam barang sejenak dalam posisi membelakangi Zio.


"Kamu juga lagi cari tahu gimana melewatkan ma lam per tama yang berkesan," sambung Zio.


"Ng---itu, aku .... anu.... hanya penasaran aja."


"Penasaran?" Zio berjalan mendekati Airish yang membeku di tempat.


"I-iya, aku penasaran aja kan kita belum sampai di tahap itu," akui Airish.


"Kenapa gak tanya sama saya ,biar saya yang kasi kamu gambaran tentang hal itu. Kenapa cari di internet?"


"Ya, niatnya kan biar gak bego-bego banget, Zi."


Lagi, Zio menahan tawa dengan jawaban polos yang diberikan Airish kepadanya.


"Karena kamu udah penasaran dan cari-cari tahu, gimana kalau praktekan langsung aja?" Zio mendekap Airish dari belakang, entah kapan dia sudah membuat tubuh mereka tanpa jarak seperti ini.


Airish menoleh pada Zio yang kini membungkuk dan menyandarkan dagu di pundaknya.


"Zi...." lirihnya.


"Kenapa?" Suara Zio berubah berat sekarang.


"Geli...." Airish memang kegelian karena Zio menciumi lehernya sekarang.


"Kamu udah penasaran soal ini, jadi saya anggap kamu udah siap untuk hal ini, hmm?"


Mata Airish membola seketika, namun ia tak menolak dan pasrah dengan perbuatan Zio selanjutnya.


"Saya mau kamu tahu satu hal, hal itu adalah sekarang, setelah kamu menjadi milik saya sepenuhnya."


*******


Walau novel ini udah othor kasi predikat end, boleh dong tetap kasi vote dan hadiah. Abis part Zio dan Airish beberapa bab lagi, Othor akan kasi bocoran tentang kisah Abrine, ya....πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


makasih banyak buat yang udah dukung novel ini sampai ditahap ini. Tanpa pembaca, novel ini gak bakal naik popularitasnya. Makasih banyakkπŸ₯³πŸ₯³πŸ₯³ Sehat selalu ya kita semua.πŸ’œπŸ’œπŸ’œπŸ’œ


__ADS_2