
Meyra duduk dikursi taman yang ada disekitaran dekat kampusnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sembari menangis.
"Hikssss Angga kamu salah paham,, kenapa kamu tidak mengerti!"
"Ge, kamu ada dimana sih??? aku kangen sama kamu, tolong kembalilah... biasanya kamu yang menenangkan ku. hikssss...." Meyra semakin menangis.
Tetapi untungnya ditaman itu tidak ada siapapun disana hanya dirinya sendiri. Jadi ia bisa leluasa menangis disana, tidak akan ada siapapun yang mengganggunya.
••
Disisi lain Angga yang merasakan hatinya sesak dan sakit, ia mencoba menenangkan hatinya ke tempat dimana biasanya jika dirinya sedang bersedih hati.
'Pemakaman'.
Angga berjalan ke arah pemakaman yang bertuliskan 'Gisella' yang sudah ditutupi oleh ilalang. Ia berjongkok disana, mengusap batu nisan itu disana.
"Hay adik kecilku, bagaimana kabar nya??" Angga tersenyum kecil disana, seketika air matanya mengalir begitu deras.
"pasti kau baik - baik saja kan disana. Jika seperti itu kakak senang sekali."
"Apa kau tahu. Kakak lupa mengatakan bahwa sudah menikah, Meyra nama nya istri kakak dia sangat mirip dengan mu, wajah nya. matanya, semua nya tidak ada bedanya dengan mu itu sebab nya kakak sangat mencintai nya." Ucap Angga dengan tatapan mata nya penuh dengan kesedihan.
"Tapi,,, dia tidak mencintai kakak.... kakak tidak tahu lagi apa harus menyerah atau tidak???"
^
^
__ADS_1
•
Hotel plaza
Gea dan Dafa telah sampai disebuah hotel plaza acara yang akan diselenggarakan. Dafa turun dari mobil mewah itu terlebih dahulu lalu Dafa menjulurkan tangannya dan tanpa bertanya sedikit pun ia membalas uluran tangan pria itu lalu keluar dari mobil itu.
Saat mereka masuk begitu banyak pasang kamera memotret mereka, dan beberapa para media mendatanginya.
"Hallo tuan Dafa, apa dia kekasih tuan???" tanya salah satu reporter.
"Apa anda memiliki hubungan yang lebih spesial selain kekasih??"
"tolong dijawab tuan??"
para reporter- reporter itu terus saja bertanya - tanya tetapi Dafa tidak menjawab nya dan membuat Gea merasa risih.
setelah berada didalam.
"Tunggu sebentar tuan," Gea menghentakkan langkahnya. Kakinya terasa sakit saat ia berjalan.
"Jangan panggil aku tuan nona, panggil saja Dafa atau baby juga boleh." goda nya.
Gea hanya memutar bola matanya malas, "Cih, dia kira aku kekasihnya apa." Gumam gea dalam hati.
"Hm, tu--- eh maksudnya Dafa, boleh aku tanya mengapa para reporter itu---? apa kau orang yang penting??" Ucap Gea menunjuk kearah luar yang terlihat dari sana para reporter itu berusaha untuk masuk tetapi dilarang oleh beberapa penjagaan ketat.
"apa kamu tidak tahu siapa aku???"
__ADS_1
Gea hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku itu seorang artis papan atas diparis nama aku algara devino." Ucap Dafa.
Gea mencoba mengingat - ingat nama itu, ia memekik nama itu begitu tidak asing lagi.
"Whattt?? are you seriously???" Seru Gea tidak percaya.
Ya, Dafa itu adalah seorang artis papan atas dinegara Paris. Tetapi ia tidak ingin sebetulnya menjadi artis karena ia ingin menjadi seorang penulis tetapi karena ini adalah keinginan kakek nya ia memulai karirnya dengan menjadi seorang artis demi kakek nya yang menjadi seorang produser film.
Kini Dafa dan Gea menemui si pemilik acara.
Dan memberikan selamat kepada acara ulang tahun hotel nya yang diselenggarakan hari ini.
"Tuan Laurent." Sapa Dafa.
"Oh Hay Dafa, putra alga. Papa mu tidak ikut???" Mereka saling menjabat tangan.
"Tidak tuan, itu sebabnya saya dikirim kesini untuk menggantikan nya." Ucap Dafa.
Tatapan tuan Laurent, kini terarah ke Gea yang terlihat begitu seksi dipandang.
"Hmm dia siapa??? kekasih??" tanya tuan Laurent.
"Ah dia???" Dika memeluk pinggang Gea dan itu mampu membuat Gea merasa risih. "apaan nih??" gumam Gea dalam hati. "Dia adalah calon istri."
"Whattt!!! calon istri!!!!"
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️❤️