
Angga malam ini terpaksa tidur di kamar tamu, ia terpaksa tidur disana karena Meyra mengunci pintu kamar nya dari dalam.
Segitukah marah Meyra sampai - sampai Angga tidak dimaafkan? pikir nya.
Kini Angga menatap kearah langit kamarnya, mencerna perkataan bi Minah.
"Apa yang dikatakan bi Minah benar. aku harus melakukan sesuatu, tapi apa ya?" gerutu Angga berpikir mencari cara agar semua ini bisa dibenarkan kembali.
"Shittt. Debby? Kau benar - benar wanita iblis!"
Umpat Angga terbangun dari tempat tidurnya. "Dia benar tidak main - main dengan ucapan nya." Ujar Angga dengan mengeretakkan giginya.
••
Pukul 12.30
Meyra tidak bisa tidur ditempatnya sekali - kali menatap kearah jam di dinding sudah akan pukul setengah satu pagi.
Dengan tidak terlalu berpikir, ia mengambil selimut didalam lemari kamar nya. Berjalan keluar kamar menuju ke arah kamar tamu. Ia tahu pasti Angga tidur dikamar tamu.
"Buka ngak ya?" Batin Meyra.
"tapi gimana kalau dia masih bangun?? apa yang harus ku katakan??" Ucap Meyra ingin Membalikkan badan kembali ke kamar nya.
"Ah tidak - tidak." Meyra kembali mencoba mengintip lewat lobang pintu yang terlihat sedikit berlubang memperlihatkan kedalam kamar itu.
__ADS_1
Terlihat Angga tertidur sudah pulas. "Aman." batin Meyra.
"Maaf. aku belum bisa memaafkan mu. tetapi aku tidak berpikiran untuk tidak memperhatikan mu." batin Meyra menyelimuti tubuh Angga lalu pergi menuju kamar nya.
Angga membuka kedua matanya yang sedari tadi hanya berpura pura tidur seketika tersenyum sedih.
"Aku tahu kamu masih peduli sama aku, tapi kamu belum memaafkan ku." batin Angga.
••
Apartemen ayu.
Berbeda lagi dengan dua insan yang masih saling bertumbuk dengan tenaga mereka. sedari tadi Gea sudah kehabisan tenaganya untuk memukuli wajah Dafa dengan bantal tetap saja tidak ada rasa sakit ataupun lelah sedikit pun.
"Diam!!!" Bentak Dafa.
Ia sudah lelah meladeni Gea, seketika ia menarik lengan Gea dan menatap mata cantik itu.
"Dia tidak akan kenapa - kenapa, mengerti." ucap Dafa, ia langsung saja ******* bibir Gea terlihat manis dipandang itu.
"Emphhhhh----- Dafa..." Gea tidak bisa lagi melepaskan diri nya dari cengkeraman pria itu.
Dafa menciuminya dengan begitu sangat kasar dan lama kelamaan semakin lembut, membuat Gea tidak lagi memberontak memilih menikmati ciuman itu dan membalas nya.
Tanpa mereka sadari kedua nya sudah tidak menggunakan sehelai benang pun dan terjadi lah-------
__ADS_1
Ting.. tong...
Suara bell berbunyi.
Ting tong...
Dafa menyudahi ciuman nya, suara nafas mereka seakan memburu.
"Tunggu sebentar, nanti kita lanjutkan lagi." Ujar Dafa memasang celana bokernya kembali dan keluar membuka pintu apartemen.
"Siapa sih?? nganggu orang tidur malam - malam.. apa ngak ada kerjaan bertamu malam - malam begini hah!" oceh Dafa.
"Hai sayang!" Dafa begitu terkejut saat mendapati sang mama Sonya berada didepan dengan membawa koper.
"Astaga ma! Ini kenapa datang malam - malam?! lalu koper? mama ngapain bawa koper?" Ucap Dafa.
"Mama mau minggat dari rumah. Papa kamu benar - benar sudah kelewatan!" Ucap mama Sonya berjalan biasa saja masuk keruang tamu.
"Kamu sudah cari tahu tentang istri mu??" tanya mama Sonya.
"sudah." Jawab Dafa memutar bola matanya malas. "sudahlah ma jangan bahas itu dan sekarang mama akan tinggal disini begitu?" tanya Dafa mengalihkan pembicaraan.
"Yes."
"Ma, Ngapain harus tinggal disini? kalian jugaan cuma bertengkar masalah kecil kan? palingan cuma rebutin bantal guling."
__ADS_1