
Meyra yang mendengar orang - orang yang berbisik - bisik tentang nya hanya tersenyum kecut.
"Seperti nya mereka mengira aku cowok ?" Batin Meyra.
Sebetulnya Meyra hanya menggunakan, baju kaos hitam polos, dengan jaket Hoodie yang menutupi kepalanya, celana jeans panjang dengan sepatu snikers putih, kacamata hitam membaluti matanya dan mulut ditutupi dengan masker. Itu mampu membuat nya terlihat seperti laki - laki. Apalagi dengan setelan itu mampu membuat nya terlihat tinggi.
Meyra menghentikan langkahnya menyadari akan sesuatu, "Eh bentar, tadi mereka bilang aku bukan orang biasa maksud nya ?" Pikir Meyra. Ia membalikkan badannya, begitu terkejut dibelakang nya ada dua orang berseragam serba hitam.
Meyra menelan ludah nya dalam, "Si... siapa kalian ?" Ucap Meyra ketakutan.
Dua orang itu membungkukkan badan nya memberi hormat. "Maaf nona,kami utusan dari tuan anantha."
"Papa ?"
"Kami ditugaskan menjemput nona, silahkan nona ikut kami." Ucap salah satu pria itu memberi Meyra jalan.
"I... iya." Jawab Meyra. Ia mengikuti apa yang dikatakan oleh dua pria itu.
"Kenapa papa tahu aku pulang ?" Batin Meyra menggaruk kepalanya yang tak gatal.
••
"Mey mama senang kamu pulang sayang.." Mama Nayra memeluk putrinya dan menghujani nya dengan ciuman.
"Sudah ma ini geli." Jawab Meyra.
"Oh ya dimana kakak ?" Tanya Meyra.
__ADS_1
"Cieee cerita nya lagi kangen sama kakaknya ya nih ?" Sahut Andre dari anak tangga sembari membawa teh yang ia celup - celupkan Roma kelapa lalu dimakannya.
"Kakak gimana kabar nya ? Mey kangen banget sama kakak tahu." Meyra memeluk Andre.
"Baik. Tunggu, adek kakak lagi hamil ?" Andre menyadari perut adeknya sedikit membesar.
"Eh iya ya anak mama sedang mengandung ?" tanya mama Nayra yang baru menyadari perut putri nya sedikit membesar.
"Iya ma,"
"Akhirnya mama bisa punya cucu," seru mama Nayra dengan loncat - loncat girang seperti anak kecil.
"Ma, sudah jangan loncat lagi.. mama itu sudah tua." Cibir Andre.
"Biarin."
"dikamar nya, lagi istirahat."
"Ya udah Mey kesana dulu, mau jenguk papa."
Meyra menaiki anak tangga itu meninggalkan dua orang yang hanya menganggukkan kepalanya itu.
••
Ting !
Suara seseorang melempar sesuatu mengenai kaca kamar Meyra mampu membuat Meyra terbangun.
__ADS_1
"Siapa sih ? nganggu orang tidur aja ! Jangan - jangan setan lagi !" Meyra mengambil sapu lidi yang ada dikamar nya itu.
Disaat ia membuka jendela, ia begitu terkejut melihat siapa yang melakukan itu.
"Angga !" pekik Meyra.
Angga melambaikan tangannya kearahnya.
Meyra menutup jendela kamarnya itu.
"Astaga tuh suami bisanya nyusul ke sini ? terus malam - malam datang kerumah orang lagi " Batin Meyra.
Ia keluar rumahnya diam - diam semua penghuni rumah sudah tidur, dan ia menatap Angga sedang jongkok di dekat tembok gerbang rumah nya.
Saat Angga menyadari Meyra keluar, " Akhirnya kamu mau keluar juga." Ucap Angga. Ia melangkah maju mendekati Meyra.
Meyra langsung menghadapkan sapu lidi yang ia bawa keluar dihadapan nya sebagai garis pembatas mereka.
"Jangan dekat - dekat! Ingat aku masih marah sama kamu tahu !" Ucap Meyra, ia mengerucutkan bibirnya lucu mampu membuat Angga ingin memakannya sekarang juga tapi sayang ia harus Menahan nya sebelum ia mampu meluluhkan hati Meyra terdahulu.
"Kamu masih marah sama aku ? Maaf." Angga menundukkan kepalanya.
"Kasihan juga suamiku, tapi gak papa deh cuma beberapa hari aja didiemin biar mampus siapa suruh dekat cewek lain !" Batin Meyra.
"Mending sekarang kamu pergi sana ! Aku sedang ngak mau lihat muka kamu !" Ucap Meyra.
Ia pergi meninggalkan Angga masuk kedalam rumah nya.
__ADS_1
"Mey ! Aku akan tetap diam disini sampai kamu mau memaafkan ku !" Itu terdengar dari telinga Meyra tetapi ia tetap tidak peduli.