
"Apa benar ini alamat nya??" Angga turun dari mobilnya masuk kedalam gedung apartemen yang menjulang tinggi.
Ia menaiki lift menuju lantai tiga dan berjalan melewati lorong - lorong sembari matanya mencari kamar nomor 10 seperti yang dikirimkan oleh seseorang diponsel.
Ting tong...
Tanpa menunggu lama, ia membunyikan bell.
"Ge ka-------," Mama Sonya memotong pembicaraan saat pintu itu terbuka, yang mengira itu menantu dan putranya.
Ia mengerutkan keningnya, "Siapa ya?" merasa heran dengan pria yang belum pernah ia temui tetapi wajah nya begitu tidak asing.
"Maaf menganggu apa disini ada Meyra, istri saya..?" tanya Angga basa basi.
"masuk saja dulu nak, tunggu disini jangan kemana - mana." Mama sonya berlari menuju kamar nya.
"Ma, bilang sama orang didepan.. bahwa aku ngak ada..." Ucap Meyra yang tadinya tahu bahwa Angga datang kesini.
"Tapi--------"
"pliss ma, kumohon." Meyra mengatupkan kedua tangannya. "Baiklah." Ucap mama Sonya.
"Nak, Meyra nya ngak ada disini seperti nya sedang keluar..." Ucap mama Sonya kepada Angga yang duduk diruang tamu.
__ADS_1
"Begitu ya, baiklah saya permisi dulu." Ucap Angga sedih, ia pergi begitu saja dengan rasa kecewa.
Mama Sonya hanya menatap kepergian Angga dan kembali ke kamar nya menemui Meyra.
"Bagaimana ma?"
"Dia sudah pergi."
Meyra pun bisa bernafas lega, tetapi dihatinya ada rasa ingin sekali bertemu dengan Angga dan memeluk lelaki itu tapi ia hanya mampu menahannya.
"Kamu ada masalah dengan suamimu?? jika ada masalah selesaikan baik - baik." ucap mama Sonya memandang wajah Meyra yang begitu sedih.
"Tidak kok ma, tidak ada masalah apa - apa. cuma Meyra ngak mau ketemu sama dia saja." Ucap Meyra dengan tersenyum getir.
Gea dan Dafa masih dipasar malam, begitu sangat ramai orang - orang disana.
"Ge, kita pulang saja ya. udara malam gak baik untuk ibu hamil," Ucap Dafa melihat Gea hanya memakan burgernya yang ia beli barusan.
"Tidak ah,"
"Ayolah ge, apa kamu ngak kedinginan?" tanya Dafa yang sudah Mengigil.
"tidak, malahan panas." Jawab Gea seadanya, melanjutkan melahap burgernya.
__ADS_1
"Mungkin nih anak kebal kali ya." Batin Dafa. "Ayolah ge, apa kamu lupa ada Meyra disana. bagaimana jika suaminya mencari nya?? apa ngak kasihan." Terang Dafa.
"Ya, bawel banget sih. tapi ada satu syarat nya." gea menatap wajah Dafa yang terlihat begitu enak dipandang.
"Apa?" Dafa membalas tatapan mata Gea dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"tapi janji jangan marah." Gea mengarahkan jari kelingking nya tepat dihadapan Dafa membuat nya mengerutkan keningnya.
"Ya apa? pakai janji segala."
"Dafaa! janji dulu!" kesal Gea yang kini dengan paksa Dafa menautkan jari kelingking nya pada Gea.
"Aku mau kamu cari ayah dari bayi ini. bisa..?" Gea menginggit bibir bawahnya, takut akan kemarahan Dafa.
"Kamu gila Ge, aku ngak mau! untuk apa mencari pria yang sudah tidak mau bertanggung jawab dengan perbuatannya hah?!" Bentak Dafa, terlihat dari kedua manik matanya sudah memerah.
"Kamu jangan salah paham dulu, aku cuma ingin menyelesaikan semua ini. karena aku tidak mau disaat akan melahirkan bayi ini, aku akan merasa bersalah!" tegas Gea.
"Tetap aku ngak mau titik !"
"Kalau begitu aku ngak akan pulang, sampai kapanpun!" ancam Gea memalingkan wajahnya kearah lain.
Dafa hanya mampu menghela nafasnya, "Baiklah!" Ucap Dafa dengan paksa.
__ADS_1