
Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Elita bertingkat dua itu tetapi sedikit sederhana dengan dipenuhi sekelompok bunga mawar merah yang akan rontok.
"Ayo turun."
"Ini rumah siapa pa?" Ujar Angga memandangi bangunan yang baru ia lihat.
"Ya masuk aja ke dalam entar kamu akan tahu." Ucap tuan anggaranaya, keluar dari mobil.
Sementara didalam mama Delia, mama Nayra, tuan anantha masih sibuk berbincang - bincang dengan bercanda bersama baby Margaretha. Tetapi sesaat mendengar suara langkah sepatu membuat mereka menghentikan aktivitas nya, menatap kearah sumber suara.
"Loh Ra kamu kok... lah bukannya tadi katanya mau keruang kerja kok..." Tuan anantha binggung melihat besan nya tiba - tiba muncul pintu depan.
"aku lewat belakang ada yang diurusi."
"Mama, coba tebak papa bawa siapa hayo??" Ujar tuan anggaranaya.
"Emang siapa??" mama Delia mengerutkan keningnya menatap kearah Nayra tetapi mama Nayra hanya menggangkat bahunya tidak tahu.
__ADS_1
"Angga sini nak!"
Tepat saat itu suara langkah sepatu memasuki rumah mewah itu, terlihat pria yang rambut nya kini sedikit gondrong, dengan tampilan pakaian kaos polos hitam, celana jeans dan jaket berbahan jeans. Begitu lebih tampan dari sebelum - belumnya.
"Degh!" Jantung mama Delia seketika berhenti berdetak melihat putranya itu ada disini, tepat dihadapan nya.
"Mama, mama mertua, papa mertua." sapa Angga sopan, ia berdiri tepat dihadapan sang mama.
"Nak, inikah kamu nak? ini beneran kamu kan?? mama ngak mimpi kan?? ini Angga anak mama kan??" tanya mama Delia menyentuh wajah sang putra.
"Iya ma ini aku Angga, anakmu ma." Lirih Angga.
"Aku juga kangen sama mama." Angga membalas pelukan sang mama dengan begitu erat dan menangis dengan begitu kencang disana.
Mama Nayra dan tuan anantha binggung tidak mengetahui situasi yang terjadi. Tetapi ia mungkin mengira sang mama Delia sedang merindukan sang putra yang sedang bekerja diluar kota karena beberapa jam lalu mama Delia mengatakan putranya sedang ada pekerjaan diluar kota.
"Ma, pa, dimana Meyra? aku pengen bertemu dengan nya." Tanya Angga tidak sabaran, ia begitu sangat merindukan istri tercinta nya.
__ADS_1
"Ya sudah kamu temui istri mu, dia sedang dihalaman belakang rumah kamu lurus saja nanti ada pintu menuju keluar disana lah tempat nya." Ucap mama Delia memberikan petunjuk karena Angga baru - baru datang kerumah itu jadi ia tidak tahu tempat nya.
"Baiklah ma, aku kesana dulu!" Angga berlari, ia tidak sabaran ingin menemui istrinya karena saking rindu nya.
Mama Delia dan lainnya hanya menggelengkan kepalanya tertawa kecil.
"lihatlah dia sangat tidak sabar menemui istri nya... hahahaha." Tuan anggaranaya tertawa terbahak - bahak.
••
"Sudahlah jangan menangis lagi, aku tidak suka dengan orang yang menangis." Alan masih memeluk tubuh Meyra dengan erat dan Meyra masih menangis dalam pelukan nya.
"Ngak mau! sebelum kamu janji untuk tidak meninggalkan ku!" Ujar Meyra.
"Aku tidak bisa Mey! aku harus kembali ketempat tinggalku, ibuku, keluarga ku pasti merindukan ku disana." Ucap Alan menahan tangisnya sebetulnya ia ingin sekali menangis dalam dekapan Meyra tapi ia adalah lelaki tidak mungkin lemah didepan perempuan.
Angga menghentikan langkahnya, mengurungkan niatnya untuk masuk ke halaman belakang rumah itu dan hanya memandangi nya dari kejauhan.
__ADS_1
"Jadi Meyra sudah dapat yang baru ya." Batin Angga yang melihat pemandangan yang membuat nya patah hati.