Pria Itu Ayah Dari Anak Ku

Pria Itu Ayah Dari Anak Ku
Part 178


__ADS_3

"Mey aku bisa jelaskan semuanya, sebenarnya..." Angga memotong perkataan nya karena Meyra sudah terlebih dahulu berlari menaiki tangga.


"Mey tunggu! Dengar penjelasan aku dulu!" Angga memberikan baby Margaretha pada mama Delia, ingin menyusul Meyra ke kamar nya tapi dicegah tuan anggaranaya.


"Hentikan Angga. Biarkan Meyra menenangkan pikiran nya terdahulu. Papa saja yang memberitahukan nya."


"Kamu kembalilah ke kamar mu dulu." Ucap tuan anggaranaya yang diberikan helaan nafas dari angga.


"Baiklah pa, aku ke kamar dulu ma, pa." Ucap Angga.


"Seperti nya Meyra marah sama aku." Batin Angga menatap kearah kamar Meyra yang terlihat dari tangga ia naiki.


"Tuhkan pa apa mama bilang, ini semua gara gara papa sih gapain juga buat rencana kayak gitu Dulu. Jadi berantakan kan." Oceh mama Delia setelah kepergian Angga.


"Sudahlah ma, jangan bahas itu lagi. Papa akan mencoba membujuk Meyra dulu."


"Ya udah pa, mama ajak baby Margaretha ke kamar aja dulu sampai papa bisa membujuk Meyra."


••


Meyra yang berada dikamar nya, ia menyembunyikan wajahnya dibantalnya dengan perasaan penuh dengan kesedihan.

__ADS_1


"Kenapa papa, mama, menyembunyikan ini semua pada Mey." Batin Meyra.


Air matanya sudah deras, membasahi bantalnya.


"Kenapa aku tidak tahu sedikit pun, Angga ada disini." seketika Meyra menghentikan tangisnya. "Eh tunggu, bukannya saat itu Angga menikah dengan Deby kenapa aku tidak melihat nya dan anaknya." Ucap Meyra heran.


Tok..tok..tok..


suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan Meyra dan menatap kearah pintu yang diketuk.


"Ini papa nak, bukalah pintu nya. papa ingin berbicara dengan mu."


"Buka saja pa, gak dikunci kok." Jawab Meyra, ia menghapus air matanya agar tidak terlihat bahwa ia sedang menangis.


Sementara disisi lain, Angga yang gelisah dikamar menunggu kabar tentang jawaban Meyra dari tuan anggaranaya.


"Semoga aja Meyra mau maafkan aku. aku takut jika Meyra membenciku." Ucap Angga dengan dirinya sendiri.


^


"Apa?! Jadi ini semua rencana papa!" mata Meyra membola sempurna.

__ADS_1


Ia begitu terkejut ternyata rencana yang menikahkan Angga dengan Deby adalah mertuanya sendiri karena alasan agar bisa mencari bukti jika anak yang dikandung Deby lahir adalah bukan anak dari Angga.


"Maafkan papa nak." Tuan anggaranaya menundukkan kepalanya.


"Tidak. papa tidak salah. ini sudah takdir pa, mau bagaimana lagi."


"Jadi kamu mau memaafkan Angga kan nak?" tanya tuan Anggaranaya meminta kepastian.


Meyra menghela nafas nya dengan kasar. "Maaf pa, untuk kali ini Mey belum memaafkan. kecuali Angga sendiri yang minta maaf dan memberi penjelasan yang lainnya." Ucap Meyra.


"Baiklah jika itu maumu, papa tidak akan melarangnya."


••


Keesokan harinya, Meyra bersiap - siap kerumah sakit untuk menjemput Naura, karena semalam pihak rumah sakit menelpon nya mengatakan bahwa Naura bisa kembali kerumah.


"Ma, Mey hari ini tidak sarapan bersama ya dan Mey titip merta dulu pada mama ngak papa kan."


"Iya sayang tidak apa - apa. Angga kamu anter Mey sampai luar nak." Ucap mama Delia, melihat putranya hanya sibuk makan berpura-pura tidak menyadari keberadaan Meyra.


"Enggak usah ma, Mey bisa sendiri kok."

__ADS_1


"Kalau gitu Mey pergi dulu, salam sama papa dan yang lainnya kalau Mey gak bisa sarapan bersama." Ucap Meyra menyalami tangan mama Delia setelah memberikan baby Margaretha dan menciumnya.


"Mey sampai segitunya membenciku sampai tidak memaafkan ku." gumam Angga.


__ADS_2