
Sudah hampir dua bulan Meyra dan Angga tinggal di Korea dan kini papa anantha satu bulan terakhir sudah bisa berjalan dan kembali bekerja di perusahaan nya.
Setelah kesembuhan papa anantha, Angga sudah memutuskan akan kembali ke Indonesia untuk melanjutkan pekerjaan nya yang sudah lama ia tunda dan diserahkan kepada sekretaris nya kayla.
"Ya pa, aku dan Meyra akan segera pulang. Hm.." Angga pun mematikan sambungan telepon nya. ia juga baru mendapatkan kabar dari mama Delia tentang adeknya Gea yang sudah menikah beberapa bulan yang lalu.
"Mama ya?" Ucap Meyra yang sedari tadi sibuk berkutat dengan makanan nya yang kini menyembol dalam mulutnya karena kebayakan makanan ia masukkan.
"Ya, katanya Gea sudah menikah beberapa bulan yang lalu." Angga menghembuskan nafas nya berat.
Pyurrr.. Meyra menyemburkan makanan nya ke wajah Angga saking terkejutnya. "maaf, aku ngak sengaja." Ucap Meyra segera mengambil tisu diatas meja dan mengelap wajah Angga yang tidak ada tanda - tanda menahan marah.
"enggak papa. Biar aku cuci saja." Angga bangkit dari duduknya menuju wastafel yang ada didapur mencuci wajah nya.
"kenapa Gea ngak pernah menghubungi ku,kalau dia sudah menikah?" Batin Meyra dalam hati.
••
Setelah selesai mereka sarapan, Meyra dan Angga sudah bersiap - siap sedari tadi mempacking koper Meyra karena Angga dari awal tidak membawa koper jadi meminjam pakaian milik Andre yang tidak dipakai lagi.
Keluarga itu mengantarkan Meyra dan Angga sampai bandara Incheon airport. Kecuali papa anantha, yang kini sibuk dengan pekerjaan nya tidak bisa meluangkan waktu nya untuk mengantarkan putri tercintanya.
"Ingat Angga, kamu harus selalu jaga putri mama dengan baik dan juga bayinya." Mama Nayra mengingatkan. Kini ia memeluk Angga bergantian dengan Meyra.
"ma, bilang sama papa. Selalu telpon Mey setiap hari biar Mey gak selalu mikirin papa terus. Takutnya ujungnya bakalan datang kesini lagi." Ucap Meyra yang kini memeluk mama nayra.
"Pasti sayang."
"Siap ma. Angga pasti akan ingat pesan mama." Angga memberikan hormat pada mertuanya itu dengan semangat.
__ADS_1
"ya udah kalau gitu Mey sama Angga pergi dulu ya ma."
"Eh tunggu dulu, masa kakaknya ngak dipeluk, dipamitin lagi pengen tinggal aja." Gerutu Andre yang kini baru muncul dari belakang mama Nayra.
"eh lupa. Lasingan kakak kemana aja?"
"Cari makan dulu tadi bentar." Ucapnya ia berjalan mendekati Meyra dan akan memeluknya tetapi Angga terlebih dahulu menarik lengan istri nya dan Andre salah memeluk seseorang.
"Eh tuan apa yang anda lakukan! Langsung peluk - peluk orang aja!" Ketus wanita itu dengan mendorong tubuh Andre berlalu pergi dengan langkah tergesa gesa.
Mama Nayra, Angga dan Meyra tertawa kecil melihat adegan itu. Andre hanya tersenyum malu - malu dan mengaruk kepalanya.
"Maaf ya kak, aku ngak bisa peluk kakak. Soalnya ada pria posesif disini. Istri nya ngak mau disentuh." Ucap Meyra menyiku perut suaminya itu.
"Lain kali Mey kalau punya suami posesif kayak dia. Mending ceraiin aja," ceplos Andre. Angga hanya menatap Andre dengan tatapan tajam.
"Sudah mending kalian cepetan masuk kedalam, entar ketinggalan pesawat." Ucap mama Nayra yang sedari tadi melihat para lalu lalang sudah semakin sepi menuju pintu masuk pesawat.
"Hati - hati dijalan! Nanti saat kamu lahiran mama sama papa bakalan datang!"
"Kakak juga!"
Meyra mengacungkan jempol nya dari kejauhan.
••
Diapartemen Jakarta Selatan.
Gea sekarang sudah tinggal disebuah apartemen itu hadiah dari mama Sonya untuk nya. Katanya ia akan tinggal sementara diapartemen itu sendirian tanpa suami. Karena saat acara nikahan nya saat itu, mama Delia meminta agar tidak memberitahukan Dafa terlebih dahulu siapa calon istri nya biarkan dia yang mencari tahu jadi mama Sonya memutuskan untuk menyewa dua apartemen yang bersebelahan jadi bisa dikatakan Gea dan Dafa tinggal bersebelahan. Tetapi Dafa tidak tahu itu semua.
__ADS_1
"Membosankan apa yang harus aku lakukan tinggal di apartemen Segede gini?" Pikir Gea meselonjorkan kakinya di sofa dan menonton televisi.
Ting tong...
Suara bell apartemen nya berbunyi. Ia begitu malas untuk bangun dari tempat nya, pagi - pagi sudah ada yang bertamu.
"Bi Jamilah! Bi tolong bukain pintunya bi!" Teriak Gea.
ya Gea tinggal dengan satu pembantu yang selalu membantunya bersih - bersih, masak, dll pekerjaan ibu rumah tangga karena itu perintah dari mama Sonya katanya takut kehamilan Gea kenapa kenapa.
aduh baik banget punya mertua kayak gitu.
"siapa bi?" Tanya Gea setelah bi Jamilah membuka pintu apartemen.
"Itu tetangga sebelah. Katanya ini ada makanan dari mama nya." ucap bu Jamilah memberikan makanan berisi rantang.
Oh ya Bu Jamilah ngak tahu tetangga sebelah itu suami Gea.
Gea clingak - clinguk mencari keberadaan seseorang dimaksud." Terus dimana dia sekarang? Kenapa ngak suruh masuk." Ucap Gea.
"Katanya lagi ada urusan penting, lain kali aja.." ucap Bu Jamilah.
"Ya udah taruh aja dulu dimeja, Gea ke kamar dulu mau mandi." Ucap Gea berlalu masuk kedalam kamar nya.
Sementara diapartemen sebelah, Dafa hanya duduk disofa nya menelpon seseorang karena merasa jenuh.
"Hallo, my bi cepat sini. Aku sedang bosan nih." Ucap Dafa dari balik telpon.
"Oh oke, i'm coming honey." Suara seseorang wanita dari balik telpon.
__ADS_1
Setelah Dafa mematikan ponselnya ia melempar nya begitu saja. "Mama kenapa sih harus kasih makanan ke tetangga sebelah harus nitip - nitip ke aku. Kan bisa kasih langsung, memangnya sejak kapan mama kenal sama tetangga sebelah." Gerutu Dafa menatap ke langit - langit kamar nya.