
"Hmh, shttt.." Angga meringis kesakitan kepalanya begitu berdenyut.
Ia melihat sekeliling tempat ini ruangan nya begitu gelap gulita tidak ada lampu sama sekali.
"Dimana ini...??"
Tak!
Tepat saat ia terbangun ia mengerjapkan kedua matanya akibat silau, lampu yang tiba - tiba dinyalakan dan seseorang berjalan kearah nya.
"Papa..!"
"Hallo putraku Angga, gimana kabarnya??" tuan anggaranaya memeluk putranya yang tidak lama berjumpa.
"Pa, ini beneran papa kan?? aku ngak lagi mimpi kan?" Angga mencoba mencubit pipinya dan terasa begitu sakit.
"Enggak, kamu nggak mimpi." Ucap tuan anggaranaya.
"Cepat sana kamu siap - siap, kamu maukan ketemu sama Meyra istri mu." ia mengusap Surai rambut Angga dengan lembut.
"Meyra? Papa bohong, ngak mungkin Meyra bersama papa."
"Kamu siap - siap aja dulu, papa tunggu dimobil." Tuan anggaranaya menepuk bahu Angga sebelum pergi.
Angga hanya memandang kepergian tuan Anggaranaya dengan tidak mengerti perkataan sang papa kembali memegang kepalanya terasa berdenyut.
Sementara disisi lain, debby yang belum tahu bahwa Angga tidak ada dikamar rumah sakit dan mendapatkan kabar dari dokter yang menangani Angga beberapa jam lalu bahwa dirinya bisa bertemu dengan suaminya.
__ADS_1
Sebelum itu ia membeli makanan dulu untuk Angga, tetapi setelah ia masuk kedalam ruangan Angga tidak ada siapapun disana, ruangan kosong.
"Dimana Angga?! apa dia melarikan diri?! tidak mungkin!" Debby merasa gelisah.
Ia mencoba untuk keluar tetapi seseorang dengan berpakaian serba hitam mencengahnya.
"Maaf apa benar dengan nona Debby?" tanya salah satu seorang berpakaian serba hitam.
Debby mengerutkan keningnya heran, "Iya dengan saya sendiri. ada apa ya?"
"Bisa ikut kami ada yang ingin kami sampaikan secara baik - baik."
"Mari ikuti kami." Salah satu nya mempersilahkan Debby untuk berjalan terlebih dahulu.
"Mereka mau bicara apa sih?" batin Debby.
Meyra terduduk sudah hampir setengah jam di bangku taman belakang rumahnya sembari menangis meratapi nasibnya yang sekarang.
"Aku tidak bisa melupakan nya, aku tidak bisa." Ucap Meyra dengan menangis.
"Ini tisu. lap air matamu itu." Suara seseorang berdiri tepat dihadapan nya dengan memberikan tisu.
Meyra menghentikan tangisnya, menatap kearah pria yang tersenyum manis kepada nya lalu duduk disampingnya.
"Alan..."
"Ada apa? kenapa menangis? Jika ada sesuatu cerita saja, anggap aku ini saudara mu." Ucap Alan.
__ADS_1
"tidak ada apa - apa. hanya aku..." Meyra tidak meneruskan perkataannya ia kembali meneteskan air mata nya.
Alan menghadap Meyra, ia tersenyum. "Sudah jangan menangis lagi, aku tahu kamu merindukan nya." Alan menghapus air mata Meyra dengan tangannya karena tisu tadi sudah dipakai Meyra.
"Kok.. kamu tahu aku lagi... merindukan nya?"
"Karena aku...."
"Ah sudahlah lupakan, terus kamu kenapa bisa ada disini?" tanya Meyra mengubah topik pembicaraan.
"Ya karena aku kesini meminta pamit padamu."
Meyra terbangun dari duduknya saking kagetnya, "Maksud nya? kamu akan pergi ninggalin aku, mama dan papa gitu?" Meyra tersenyum kecut.
"Kenapa kamu kaget gitu?? ah aku tahu kamu pasti sedih kan aku pergi." Tebak Alan.
"Ya jelas, lalu siapa ajak aku bercerita kalau ngak ada kamu? Terus gimana kalau Merta nanti cariin kamu? Dia kan sudah nyaman sama kamu." tangis Meyra seketika kembali pecah.
"Kan ada papanya, dia akan senang jika ada papa nya disampingnya. kamu ngak usah sedih akan hal itu." Alan menghapus air mata Meyra kembali.
"Enggak! kamu gak boleh pergi! aku ngak mau kehilangan teman lagi!" Meyra memukul dada Alan dengan air mata nya keluar semakin banyak.
Setelah ia kehilangan Gea, ia tidak mau lagi kehilangan sosok Alan. Karena Alan lah selama ini teman yang selalu menemani hari - harinya dirumah jika sang mama mertua dan papa mertua tidak ada dirumahnya.
"aku harus pergi Mey! aku ngak bisa! maafkan aku!" Alan memeluk Meyra erat, sebetulnya ia tidak ingin pergi jauh dengan Meyra.
Tapi mau bagaimana lagi, ini jalan satu - satunya agar Meyra dan Angga bersatu. Jika Angga dipersatukan, Alan lah yang harus dikorbankan dan itu janjinya pada tuan anggaranaya, mereka telah menyepakati janji itu telah lama sebelum Alan mengenal Meyra.
__ADS_1