
Tin.. tin...
Tiba - tiba bunyi klakson memekakan telinga kedua gadis itu sehingga membuat nya terlonjak kaget dan membalikkan badannya kearah mobil yang kini keluar seseorang dari dalam mobil.
"Kalian ini ngapain ditengah jalan mau bunuh diri!" seru Angga keluar dari dalam mobil, kini pandangan nya terhenti pada Meyra.
"Ini motor siapa? dan kalian ngapain diam disitu?" tanya Angga heran.
"Oh ini motor pak Iwan." Ucap Meyra.
Iya pak Iwan itu nama penjaga gerbang rumahnya setiap hari kecuali hari Minggu sebagai hari libur untuk nya. Dan semua orang juga hari Minggu adalah hari libur juga, hehehe.
"Terus, mama dan papa tahu kalau kalian keluar?" tanya Angga lagi kini tangannya menyilang diatas dadanya.
"Ngak. kami diam - diam keluar rumah hehehe." Ucap Meyra dengan Cegegesan.
"Bagus dong kalau gitu? siapa yang ngajarin?" Tanya Angga lagi lebih suaranya berat.
"Gea." tunjuk Meyra kepada Gea yang sedari tadi hanya sibuk mendengarkan kakak nya dan kakak iparnya berbicara melontarkan beberapa pertanyaan, membuat nya mengerutu kesal dalam hatinya terhadap Kakak nya karena saking cerewet nya. Banyak bicara!
Angga mengalihkan perhatian nya pada adiknya itu yang kini hanya Cegegesan tidak jelas, dan kini menatap kearah Meyra lagi.
"Ayo turun dari motor, masuk kedalam mobil." titah Angga.
"lah terus nih motor?"
"Biarin biar Gea yang bawa." Ucap Angga menarik lengan Meyra masuk kedalam mobil setelah turun dari motor.
"Lah kak kok ditinggal!" seru Gea tidak terima.
__ADS_1
Angga membuka jendela mobilnya kini terhenti disamping Gea. "Ingat dibawa pulang motor nya jangan malah dijual." Goda Angga lalu menancap gasnya menuju kediaman.
"Ihhhh kakak benar - benar yah ngak punya perasaan. Udah tahu aku ngak bisa naik motor, masih suruh adiknya yang bawa." gerutu Gea dengan menghentakkan kakinya. Dengan paksa ia mendorong motor itu dari komplek - komplek perumahan sampai kediaman nya.
"Uuuhh berat banget lagi," gerutu Gea mendorong motor itu secara perlahan.
••
Sore harinya, Angga bersiap - siap dengan berpakaian rapi tetapi dengan pakaian begitu santai. Meyra baru masuk kedalam kamar, ia sungguh kaget mendapati penampilan Angga begitu terlihat sangat tampan. Entah perasaan dari mana tiba - tiba pipinya merah merona.
"Hey itu wajah kenapa?" tanya Angga mendekati Meyra dan mencoba memegang wajah gadis itu.
"Ih apaan sih." Ketus Meyra dengan menghempaskan tangan Angga agar tidak menyentuh nya lalu pergi.
"Galak amat." Ucap Angga.
Meyra masuk kedalam kamar mandi dan ia menatap wajahnya dicermin benar adanya. Pipinya sedikit merona.
"Tapi kalau dilihat- lihat tadi itu dia benar mirip dengan Angga. tapi tunggu - tunggu namanya kok hampir sama ya?" Pikir Meyra.
"Ahhhh gak mungkin," Ucap Meyra menghilangkan bayang - bayang yang ada dalam pikiran nya lanjut untuk mencuci wajah nya sebelum melakukan rutinitas yang lainnya.
Sementara diluar.
Angga mondar - mandir semenjak Meyra berada didalam kamar mandi. Ia menjadi sedikit gelisah, ia sebenarnya ingin mengetuk pintu tetapi takut Meyra akan marah lagi.
"Kenapa lama amat sih dia didalam? dia lagi mandi atau semedi sih!" Gerutu Angga.
"Ketuk gak ya? ngak usah deh." Ucap Angga kini ia mulai berdiri tepat didepan pintu kamar mandi.
__ADS_1
Ceklek..
tiba - tiba pintu itu terbuka dengan sempurna.
"Kamu ngapain?" tanya Meyra mengerutkan keningnya.
"ah. ketauan deh. hehehe." Ucap Angga mengaruk kepalanya yang tak gatal.
Meyra mengelengkan kepalanya dengan kelakuan suaminya. Ia berjalan kearah meja rias dan menggunakan beberapa skincare rutinnya.
"Mey, kamu mau jalan - jalan keluar ngak?" tanya Angga basa basi, ia kini berdiri tepat dibelakang Meyra.
"Mau sih, mau tapi emang kamu mau ngajak aku? kayaknya ngak deh."
"Siapa bilang? aku mau kok makanya aku nanya tadi gimana sih." kesal Angga.
"Ya deh kalau gitu kamu tunggu diluar aku mau siap - siap."
"Ya, aku tunggu diluar." ucap Angga berlalu keluar dari kamar itu meninggalkan Meyra sibuk mengoles pelembab pada wajah nya.
•
•
•
•
•
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote setelah membaca. makasih ❤️