
"Ayo Mey kita lebih baik pulang," Ucap Gea menarik lengan Meyra keluar dari villa itu sementara Angga masih berdiri sejenak disana masih menahan rasa sakit pada pipinya akibat tamparan sang adik.
Dalam mobil
"Apakah masih terasa sakit?" tanya Gea menyentuh pergelangan tangan milik Meyra yang memerah. Darahnya kembali mendidih seakan emosi nya kembali memburu, ingin menonjok wajah kakaknya kembali.
"Tunggu disini." Gea ingin membuka pintunya tetapi dihalangi Meyra.
"Jangan ge. kamu jangan kemana - mana lebih baik pulanglah, aku ingin istirahat." lirih Meyra dengan suara nya seakan tercekat di tenggorokan nya, dada nya terasa sesak.
"baiklah terserah saja. tetapi aku akan melindungi mu dari kakakku. maafkan kelakuan kakakku dia memang seperti itu." Ucap Gea dengan emosi.
"Aku tidak menyalahkannya, aku yang seharusnya meminta maaf. Aku yang salah karena membuat nya salah paham." Ucap Meyra.
"Tetapi dia tetap saja salah. karena ia tidak ingin mendengar penjelasan dari mu." Kesal Gea ia melajukan mobilnya pergi dari villa itu kembali kediaman.
••
Sementara Angga ia ingin berusaha mengejar Meyra dan Gea. Tetapi karena mobil gea sudah tidak ada diparkiran membuat nya menjambak rambut nya dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
"Arghhhhhh!" teriaknya.
"Angga aku boleh menumpang mobil mu?" tanya Gebi yang kini mulai menenangkan laki - laki itu dengan mengelus bahunya.
"Maaf aku tidak bisa." Ketus Angga berlalu masuk kedalam mobilnya dan mengunci pintu mobilnya.
"Angga. Angga tunggu. Angga buka pintunya. Angga!" teriak Gebi mengedor - gedor jendela kaca mobil milik Angga tetapi percuma Angga tidak menghiraukan nya kini ia fokus menyetir mobil nya.
"Anggaaa!" teriak Gebi menatap kepergian mobil lelaki itu dan pergi menjauh.
"Ah sial, aku harus mendapatkan Angga kembali bagaimana pun caranya meskipun dengan mengancamnya." ucap Gebi dengan penuh amarah.
"kita lihat saja nanti apa kamu bisa kembali ke pelukan ku lagi Angga. dan istri mu itu akan ku buat kamu sendiri mengacuhkan nya." Ucap Gebi menyilangkan kedua tangannya diatas dadanya.
••
"Mey. ge kalian sudah pulang cepat sekali." Beo mama Delia mengetahui kepulangan kedua putrinya. Ya Meyra sudah dianggap putrinya, bukan menantu saja.
"Ya ma, tadi ada sedikit kendala." Jawab gea menatap kearah Meyra yang masih terdiam sedari tadi semenjak dirinya dalam mobil tidak berbicara sedikit pun.
__ADS_1
"oh, " jawab mama Delia. Matanya kini terhenti kearah tangan Meyra sebelah kanan terdapat memerah.
"itu tangan nya kenapa sayang?" tanya mama Delia, ia begitu sangat khawatir lalu mendekati nya dan menyentuh tangannya itu dengan perlahan.
"tidak kenapa - kenapa. ini cuma kejedot sama pintu mobil tadi." jawab Meyra dengan berbohong ia menatap kearah Gea hanya terdiam saja.
"Astaga sayang kenapa tidak hati - hati. tunggu sebentar." Ucap mama Delia, ia mendudukkan Meyra disofa panjang itu.
"Aya, kamu ambilkan saya es batu dikulkas sama kain untuk mengompres lengan Mey." titah mama Delia.
"Baik nyonya." Jawab Naya dengan cepat menuju ke dapur mencari yang diperintahkan mama Delia.
Sementara Angga yang baru saja sampai mendapati Meyra ada disana hanya terdiam dan menundukkan kepalanya berlalu menuju kamar nya tanpa menyapa salah satu dari mereka.
"Astaga Angga! kamu kenapa tidak-----" brukkk suara pintu yang dibanting itu membuat mama Delia kaget dan memutuskan kata - katanya.
"Anak itu tidak sopan sekali!" amarah mama Delia.
"Kaka memang seperti itu, sampai tangan kak Mey dilukai." lirih Gea membuat mama Delia terkaget - kaget.
__ADS_1
"Apaa!"
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️