
"Arghhh...!"
"Angga!!!!" teriak Debby disaat Angga terhantuk dengan meja kayu yang terlihat banyak pakunya.
Ia begitu mengeluarkan banyak darah sehingga Angga pingsan.
Dengan cepat Debby membawa Angga kerumah sakit takut akan terjadi sesuatu padanya. Ia juga tidak mau kehilangan Angga.
Sementara disisi lain, Meyra yang sudah kembali kerumah yang dibelikan oleh mama Delia untuk Meyra dan anaknya termasuk cucunya.
"Sayang kamu sudah pulang nak." Mama Delia memeluk menantunya itu.
"Ayo sini duduk sayang." Mama Delia membantu Meyra membawa baby Margaretha dekat sofa.
"Kapan mama kesini? kok ngak kasih tahu Meyra sih." Ujar Meyra.
"Surprise dong, gak boleh kasih tahu."
"Dan mama juga mau kasih surprise yang lainnya juga."
"Apa?" Meyra mengerutkan keningnya.
"Kalau kasih tau, dong gak surprise namanya dong.." Mama Delia mengulum senyumnya.
"Eh iya lupa." Meyra tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Eh gimana - gimana menurut mu Alan tampan gak?" tanya mama Delia mengalihkan pembicaraan.
"Tampan juga baik, memang kenapa ma?" tanya Meyra heran, ini pertama kalinya mama Delia mempertanyakan tentang lelaki padanya jika Meyra sedang dekat dengan lelaki.
"Menurut mama sih ini ya. Kayaknya Alan suka deh sama kamu. kalau semisal kamu dilamar Alan mau ngak kamu?"
"Ihhh mama apaan sih, Mey ngak akan nikah lagi. meskipun Alan sekalipun itu, Meyra tak akan nikah lagi cukup satu kali dengan Angga."
"Apa karena kamu masih tidak bisa melupakan nya?"
"Mama aku ke kamar dulu, jangan bahas itu lagi.. Mey keatas dulu." Dengan cepat Meyra membawa baby Margaretha menuju kamar nya.
Mama Delia hanya mampu menghembuskan nafas kasar. "Mama tahu kamu masih sangat mencintai Angga, mama juga ngak tahu Angga bakalan bisa kembali kepadamu. tapi mama selalu berharap kamu bisa membuka hati pada lelaki lain Mey." Batin mama Delia menatap kepergian menantunya.
Meyra membaringkan baby Margaretha diatas kasur, ia tidak menangis sama sekali semenjak ia keluar dari rumah sakit. Entah baby Margaretha tidak seperti kebanyakan bayi yang lainnya pasti sedikit sedikit menangis sementara baby Margaretha dipegang orang lain pun ia tidak menangis sama sekali malahan tertawa.
Ia menutup pintu kamar mandi rapat - rapat seketika air matanya keluar menetes dan ia terduduk dikloset.
"Angga aku merindukan mu." Batin Meyra, disetiap kali ia menyebutkan nama suami nya itu ia hanya mampu menangis.
"Andai kamu bisa kembali padaku, aku tidak akan sedih seperti ini. kenapa harus sesakit ini, kehilangan mu."
••
"Tuan kami memberikan info."
__ADS_1
"Cepat katakan."
"Tuan, tuan Angga sudah tahu kebenaran nya."
"Dan tuan Angga sekarang berada dirumah sakit. dan ditemani nona Debby."
"Bagus, kalau begitu kalian awasi saja nona Debby lalu bawalah Angga ke markas."
"Tapi tuan,"
"Membantah itu berarti kalian dipecat."
"Baik tuan."
Setelah mengakhiri percakapan diponsel, tuan anggaranaya langsung tersenyum.
"Mey sedikit lagi kamu akan bertemu dengan suamimu..." Batin tuan Anggaranaya kembali melanjutkan pekerjaan nya.
Tok tok...
"Masuk!" titahnya.
"Permisi tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda..."
"Baiklah persilahkan dia masuk saja." tuan anggaranaya tahu siapa yang datang.
__ADS_1
Yang pasti nya tamu istimewa dari keluarga nya dan mereka sudah lama tidak bertemu jika tidak percakapan diponsel atau diwaktu senggang saja lewat video call.
"Baik tuan."