
Pukul 12.30
"Kemana Meyra?" Angga menatap jam tangannya terus menerus mondar - mandir di ruangan nya.
"Astaga, aku lupa Meyra tidak tahu ruangan ku." Angga menepuk jidatnya yang ia rasa otaknya sudah terlihat sangat bodoh. Saking khawatir nya ia lupa akan hal itu.
Sehingga suara ketukan pintu nya berbunyi.
"Masuk." Angga kembali duduk di singgasana nya tepatnya kursi kerjanya. "Ada apa?" tanya Angga ia menatap leptopnya.
Ia tidak peduli didepannya sekarang ada lelaki ataupun wanita.
"Dia begitu sangat tampan." Ucap Kayla didalam hatinya. Seakan disaat melihat wajah Angga, hatinya begitu bergetar meronta - ronta ingin memilikinya.
"Apa kau melihatku?! Jika sebagai bawahan harus menundukkan kepala bukan menatap ku seperti itu mengerti." Tegas Angga dengan mata tajamnya siapapun yang menatap mata tajam itu akan takut terhadap nya. Dan benar saja Kayla menundukkan kepalanya.
"Maaf tuan."
"Sudah lah sinikan berkas itu, dan kau kerjakan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan." Angga memberikan sebuah beberapa berkas lainnya.
"Baik tuan," Ucapnya.
"Ingat jika sedang berhadapan dengan saya jangan pernah menatap saya. cukup tundukkan kepala mu itu mengerti." tegas Angga sekali lagi dengan nada dinginnya.
"Baik tuan."
__ADS_1
"baiklah pergi sana." Usir Angga.
"Saya permisi tuan." Kayla menutup pintu itu rapat - rapat dan ia tersenyum penuh arti.
"Oke kali ini aku tunduk kepada anda tuan Angga tetapi suatu saat nanti kau yang akan tunduk kepada ku," Gumam nya dalam hati.
••
Meyra dengan nafas memburu dadanya turun naik membuat nya menghentikan langkahnya dan mengatur nafasnya itu seimbang.
Ia baru habis melewati tangga darurat, karena ia terpaksa menggunakan tangga darurat, lift yang ia cari tidak diketemukan. Dari lantai 8 ke lantai 1. Sungguh melelahkan.
"Huh (Menghela nafas) akhirnya aku sampai juga dibawah." Ucap Meyra.
"Hay nona cantik," sapa beberapa karyawan laki - laki yang berlalu lalang disana.
"Mereka bilang aku cantik? emangnya aku cantik yah? biasa aja kok." Ucap Meyra dalam hati.
Sedangkan beberapa karyawan perempuan yang melihat itu hanya tersenyum kecut.
"Lihatlah dia disapa bukannya menjawab. dasar cewek sombong, sok kecantikan lagi." bisik nya pada temannya.
"Iya, mungkin lelaki itu matanya katarak. lihatlah penampilan nya gak dibayangkan. Lebih mending cantikan aku." Ucap teman lainnya lagi menyindir Meyra. Tetapi masih terdengar ke telinga Meyra karena mereka tidak begitu jauh dari tempat Meyra.
"Mey!" teriak seseorang.
__ADS_1
Meyra pun menoleh ke arah seseorang itu.
"Astaga ge!"
"Mey.. kamu kenapa kamu lama amat sih pulangnya? aku tungguin Berjam - jam."
"Hehehe iya aku dari tadi sibuk keliling perusahaan ini tapi aku malah tersesat dan mencari jalan keluar nya."
"Astaga Mey kenapa bisa?! apa kak Angga tidak menemanimu atau menyuruh beberapa suruhan nya untuk mengawalmu?" pekik Gea.
Meyra hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa kau lihat - lihat!" seru Gea menyadari bahwa dirinya ditatap oleh beberapa karyawan perempuan terlihat begitu tidak suka.
"Siapa melihat anda nona. geer banget jadi orang. emang kau cantik? biasa aja." Jawab salah satu karyawan.
Gea mengeretakkan giginya begitu kesal dengan jawaban karyawan perempuan itu.
"Hey meski aku tidak terlalu cantik! kau belum tahu siapa aku?! kau bisa saja dipecat oleh pemilik perusahaan ini" seru Gea ingin mendekatinya.
"Sudah ge, jangan diladeni mereka nanti semakin meledek." Lirih Meyra menahan lengan Gea.
"Awas saja kalian! aku akan membuat kalian berlutut dihadapan ku!" seru Gea.
"Ayo kita pergi," gea menarik lengan Meyra keluar dari perusahaan itu.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️