
Taman
Plakkkk!
Tamparan begitu keras mendarat dipipi mulus pria itu. Dan itu tamparan dari gea untuk kakaknya Angga.
Angga membulatkan matanya begitu kaget.
"apa yang kamu lakukan?!" seru Angga. Ia memegangi pipinya. Ia tidak tahu mengapa adiknya itu menamparnya.
"Seharusnya aku yang bertanya sama kakak! kenapa kak Meyra sampai keguguran?! aku tahu ini perbuatan kakak, itu sebabnya kak Meyra keguguran kan!" teriak Meyra ia tidak peduli dengan tatapan orang - orang disana menatap nya dengan binggung.
Tadinya Angga menunduk tetapi kini ia memberanikan diri nya menatap kedua bola mata adiknya itu yang kini memerah akibat marah - marah kepada nya.
"Iya memang benar kakak yang mendorong nya hampir jatuh! kenapa?! ingin marah! menampar kakak! tamparlah sepuasnya! kakak memang bersalah tetapi kakak menyadari itu!" teriak Angga ia menahan air matanya yang hampir akan jatuh.
Meyra menyadari hal itu dan mendengarkan kata - kata kakaknya dengan penuh amarah kini merasa amarah nya mereda. Ia melihat dari kedua mata kakaknya bahwa ia menyadari kesalahannya.
__ADS_1
Ia memeluk kakaknya itu, "Sudah kak, Gea percaya. maafkan Gea kak. maaf." Lirih Gea dan Angga merasa dipeluk kini membalas pelukan nya.
"Ngak ge. Ini semua salah kakak, kakak harus menerima perbuatan kakak." Ucap Angga ia meneteskan air matanya. Ini ketiga kalinya Angga menangis setelah dikhianati oleh masa lalu nya dan sekarang menangis karena kesalahannya yang ia perbuat menyebabkan Meyra keguguran.
"Iya Gea tahu. Ini sebab kakak tidak bisa menahan emosi. Lebih baik kita kedalam sekarang pasti mama dan papa menunggu." Gea melepaskan pelukan nya dan menarik lengan kakak nya yang masih berdiam diri.
"tunggu ge. kakak ngak bisa menemui Meyra, kakak akan menunggu disini saja."
"Kenapa?"
"Pasti Meyra akan membenci kakak. kakak lebih baik tidak bertemu dengan dulu."
••
Disana mama Delia dan tuan anggaranaya masih menunggu Meyra terbangun. Mereka duduk disofa dengan posisi tuan anggaranaya memangku kepala mama Delia yang sedang tertidur disana. Sedari tadi mama Delia sangat begitu mengantuk, dan memutuskan untuk tidur sebentar sembari menunggu Meyra terbangun.
Ceklek. pintu itu terbuka dan ternyata gea dan Angga yang masuk.
__ADS_1
Gea dan Angga mendekati kedua orang tuanya yang sedang tertidur. "Pa, ma," Lirih gea menepuk bahu kedua orang tuanya pelan.
"Eh sayang mama ketiduran yah." Ucap mama Delia bangun dari tidur nya.
"Kita pulang yuk pa, ma. biarkan kak Angga yang menjaga kak Meyra, seperti nya Kalian sangat lelah, lagipun besok papa bakalan kerja." Ucap Gea menatap raut wajah tuan anggaranaya yang semakin keriput itu sangat begitu lelah.
"Tapi nanti jika Meyra bangun gimana?"
"Nanti Angga kasih tahu mama sama papa kok kalau Meyra siuman kalian pulanglah." Ucap Angga.
"Baiklah kalau begitu kami akan pulang." Jawab mama Delia.
"Kak, Gea pamit dulu. jangan lupa telpon." Ucap Gea dan dijawab dengan acugan jempolnya.
Setelah kepergian Gea dan kedua orang tua nya, Angga kini mendekati brankar Meyra dan duduk dikursi samping brankar.
Angga menatap tubuh Meyra yang terbaring di brankar dengan dipenuhi dengan alat bantu oksigen pernapasan dan monitor yang berbunyi.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote setelah membaca makasih ❤️