
Satu bulan telah berlalu Debby melahirkan bayi seorang putri begitu sangat cantik. Dan Angga melihat itu dari luar kamar ruangan yang menampakkan bayi itu dalam pelukan sang ibu sekarang dan menangis hanya tersenyum.
Dokter pun keluar dan berhadapan dengan Angga. "Silahkan tuan boleh masuk menemui istri anda dan bayi anda terlahir perempuan." Ucap dokter.
"Terima kasih dok." Ucap Angga.
"Sayang lihat ini bayi kita. cantik kan??" tanya Debby memandang bayi nya.
"Iya cantik." Ucap Angga, ia mencoba menggendong bayi itu.
••
Sementara disisi lain, masih rumah sakit yang sama.
"Bagaimana dia sudah sadar dari komanya??" tanya tuan Anggaranaya kepada seseorang.
"Dia belum sadarkan diri." Jawab Alan, seseorang yang menolong Meyra sebulan lalu.
"Kasihan bayinya pasti sekarang ia membutuhkan ibunya disamping nya." Ucap tuan anggaranaya mampu memandangi wajah Meyra yang masih tertidur sangat pulas.
"Ini semua gara - gara papa sih, coba saja papa tidak melakukan rencana gila itu. mungkin Mey gak kayak gini." Ucap mama Delia.
"Inikan papa juga melakukan nya untuk rumah tangga mereka."
__ADS_1
"Mama tenang saja tinggal menunggu beberapa bulan lagi pasti semuanya akan terbongkar dan mereka bisa sama - sama lagi." Ucap tuan anggaranaya dengan menyilangkan kedua tangannya didadanya.
"Terus Angga apa kita harus beritahu. bagaimana pun dia harus tahu keadaan istri nya."
"Tidak perlu. Jika ia tidak tahu itu lebih baik."
Tiba - tiba suara dari alat monitor itu berbunyi dan terlihat monitur yang bergerak itu terlihat tidak bergelombang lagi dan berubah menjadi garis.
"Pa cepat panggil dokter! cepat pa!" teriak mama Delia panik.
"Ya ma!" Tuan anggaranaya berlari memanggil dokter.
"Silahkan tuan, dan nyonya keluar kami akan segera menangani pasien." Ucap salah satu dokter menutup pintu ruangan.
"Cukup ma, jangan berbicara seperti itu. Mey tidak akan meninggal, percayalah."
"Tapi------"
"Tante, om lebih baik kita berdoa saja. kita serahkan pada yang maha esa," Ucap Alan.
"Kamu benar nak. seharusnya Tante tidak boleh berfikir negatif." Mama Delia menghapus air matanya dan bergumam agar Meyra bisa terselamatkan.
••
__ADS_1
Angga duduk dikursi taman rumah sakit dan pikiran nya begitu berkabut entah ia tidak tahu tiba - tiba hatinya merasa sedih.
"Jangan melamun begitu nanti kesambet setan loh kak." Gea tiba - tiba berada disampingnya.
"Astaga kamu kagetin kakak aja deh, kakak cuma memikirkan Mey. Dia sedang apa sekarang ya??" Ujar Angga, mengingat wanita itu saja rasanya air mata Angga mengalir dipelupuk matanya.
"Yang sabar ya kak. suatu saat nanti pasti kakak akan bertemu kembali dengan kak Meyra." Gea hanya mampu memeluk kakaknya dengan penuh prihatin.
Ia juga sama dengan sang kakak merasa kehilangan dengan sosok seorang sahabat, yang biasanya Meyra selalu ada buatnya jika sedang terpuruk butuh teman cerita.
Apalagi sekarang Dafa sering keluar kota karena pekerjaan nya dari dunia akting, model begitu pesat terlebih lagi Dafa juga mencoba menghindari nya alasan nya ia tahu karena Dafa tidak ingin mencari lelaki yang telah menghamilinya itu.
^
^
"Eh iya iya, kamu kok diluar sih bukannya kamu sebentar lagi akan melahirkan?" ucap Angga heran.
Ya, ia mendengar kabar itu dari Gea sendiri.
"Hehehe cuma males aja diam terus di dalam ruangan banyak bau obat apalagi gak ada yang nemenin kan Dafa masih ada pemotretan."
"Yah kasihan banget adek aku, bagaimana kakak aja yang nemenin kamu melahirkan." Tawar Angga.
__ADS_1
"boleh aja." Gea bergelayut manja dilengan sang kakak mengiringnya masuk kedalam ruangan Gea berada.