
"Degh..." Jantung Angga seketika berhenti berdetak, ia menghentikan langkahnya.
"Ada apa kak?" tanya Gea, ikut menghentikan langkahnya.
Pandangan mata Angga menatap kearah ruangan inkubator yang ada bayinya didalamnya dari dinding kaca transparan menampakkan keluar.
Suara tangis bayi yang begitu kencang. Seketika air matanya meleleh melihat itu, "kak, kakak" Gea mengoyangkan tubuh Angga yang terlihat melamun.
"Eh iya... maaf. ayo kita lanjut." Ucap Angga berjalan pergi.
"Kakak kenapa sih nangis pas lihat bayi itu?" tanya Gea heran yang tadi melihat butiran bening membasahi pipi Angga.
"Cuma kakak merasa kasihan saja." Ucapnya jujur.
Sejujurnya tadi saat melihat bayi itu hatinya serasa tersentuh ingin sekali menggendong nya apalagi saat bayi itu menangis, seakan hatinya sakit mendengar itu. Entah apa yang terjadi padanya?? batinnya.
••
Beberapa jam Meyra sudah stabil dan hanya sekedar mama Delia disana menemani Meyra yang masih belum sadarkan diri.
Tuan anggaranaya beberapa menit lalu pergi bersama Alan entah kemana yang mama Delia tidak tahu.
Mama Delia memandang wajah Meyra yang terlihat dari sudut matanya menetes buliran air mata seketika ia merasakan mendengar.
"Mey... kamu kapan bangunnya nak? mama kangen sama kamu." gumam mama Delia dengan senyuman mengiris hati nya.
__ADS_1
"Mey apa kamu tahu. engak tahu pastinya, mama takut beritahu Nay dan anantha tentang kondisi mu sekarang." Ucap mama Delia dengan buliran air mata mulai turun dari sudut matanya.
Tanpa disadari ada sebuah gerakan pada jari tangan Meyra. Hanya sedikit.
"Jangan bunuh bayiku!!!"
"Jangan bunuh bayikuuuu!!!!"
"Jangan.."
"Jangan!!!!" teriakan dari mulut Meyra, seketika dirinya bangun dari koma.
Nafasnya tak beraturan saking takut nya akan mimpi yang ia alami barusan.
"Keadaan pasien mulai membaik, ini sebuah keajaiban." Ucap sang dokter sembari mengecek denyut nadi Meyra.
"Makasih dok."
"Ya, saya permisi nyonya." Jawab dokter lalu pergi.
Seketika Meyra yang tadinya masih merasa otaknya melayang - layang akan mimpinya kini tersadar mengusap perutnya yang sudah tidak membesar lagi.
Ia terbangun dari tidurnya, "Ma dimana bayiku? kenapa perut ku mengecil?" Teriak Meyra histeris. Ia takut akan kejadian beberapa bulan lalu ia keguguran.
Mama Delia tersenyum, "Tenanglah nak, kontrol emosi mu."
__ADS_1
"Tapi bayi -------"
Terdengar dari luar suara bayi menangis dengan kencang dan pintu dibuka lebar seorang perawat mengendong bayi perempuan berjalan kearah nya.
"tenang bayi Nona ada disini. bayinya sudah terlahir satu bulan yang lalu." Ucap perawat yang menaruh bayi itu disamping Meyra.
"Satu bulan? maksud nya apa?"
Mama Delia menyentuh bahu perawat dan tersenyum mengisyaratkan agar dirinya menjelaskan nya.
"Kamu ditemukan pingsan dan karena keadaan mu lemah saat itu dokter terpaksa menyelamatkan bayi itu dengan operasi Caesar dan kamu koma selama dua bulan." Jelas mama Delia.
Mata Meyra berkaca-kaca, "Aku koma selama itu..." Meyra memandangi bayi perempuan nan imut itu tidak menangis lagi setelah berada didekatnya.
"lihatlah cucuku tidak menangis lagi," Ujar mama Delia mencubit gemas hidung bayinya yang belum juga diberi nama.
Meyra hanya mampu meneteskan air mata nya, entah itu tangisan kebahagiaan ataukah kesedihan.
"tapi sayang, ayahnya tidak pernah akan tahu akan kehadiran nya." Gumam Meyra pedih.
Mama Delia hanya menghembuskan nafas nya kasar dan mengelus rambut Meyra.
"Bersabarlah semuanya akan selesai. kamu dan Angga akan pasti bertemu dan dipersatukan." Ucap mama Delia.
Meyra hanya tersenyum miris dengan perkataan mama Delia. "Itu ngak akan pernah, wanita itu tidak akan pernah membiarkan aku dan Angga bersatu." Batin Meyra.
__ADS_1