
"Whatt?!" Pekik Angga, setelah melihat foto Meyra sedang bersama dengan dua pria yang entah ia tidak tahu siapa.
"Apaan ini? Aku ngak akan membiarkan ini terjadi enak aja deketin calon istriku." Geram Angga dengan tatapan mata tajamnya. Ia meremas foto itu hingga berbentuk sebuah bola, amarahnya sudah berada diubun - ubun.
Ia sedang tidak cemburu tetapi melainkan ia tidak suka jika miliknya akan disentuh oleh orang lain. Tetapi ia tidak tahu siapa kedua pria bersama calon istri nya itu.
"Cepat kalian cari asal usul kedua pria di foto itu dan bawakan berkas nya padaku, secepatnya." Perintahnya dengan begitu tegas.
"Baik tuan, akan saya kerjakan.. permisi." Ucap Devan dengan langkah terburu - buru.
Kediaman Anantha Prayoga
Meyra, Andre dan Calvin telah sampai dikediaman kedua orang tua mereka. Mereka disambut oleh mama Nayra dan bi endang.
"Bi tolong bawa masuk semua koper ini ke kamar nya den Andre," perintah Mama Nayra kepada Bi Endah.
"Baik nyonya," Ucap bi Endah dengan menarik semua koper - koper yang sudah dikeluarkan oleh sang sopir dari bagasi mobil.
Mereka saling berpelukan dan tidak lupa mama Nayra mencium wajah putranya berkali - kali sampai Andre kewalahan.
"ma sudah," Ucap Andre dengan wajah ditekuk.
__ADS_1
"Mama itu beneran kangen sama kamu gimana kabar mu? apa pekerjaan mu di Indonesia sedang tidak baik - baik saja hm..?" tanya mama Nayra menangkup wajah putra nya.
"mama lihat sendiri aja aku baik saja dan masalah pekerjaan baik saja," Jawab Andre.
Sedangkan Meyra dan calvin yang berada disekitar mereka hanya dihiraukan bagaikan nyamuk.
"Eh iya ini siapa?" Tanya mama Nayra yang kini baru menyadari keberadaan orang lain disekitarnya.
"eh iya aku sampai lupa, ini kenalin teman aku namanya Calvin.." Ucap Andre merangkul pundak temannya itu.
"Halo Tante," sapa Calvin dengan senyuman ramahnya tidak lupa menyalami tangan mama Nayra dan mencium nya.
...•••••...
Jakarta, Indonesia bagian barat.
Angga yang kini disibukkan dengan pekerjaan nya diruang kerjanya, hari ini ia tidak pergi bekerja karena larangan dari sang papa. Karena dirinya sedang dihukum karena membantah sang papa untuk menerima perjodohan.
"Ah sial, aku benar tidak fokus!" geramnya mengebrak meja kerjanya dengan begitu kesal.
"kalau begini caranya bagaimana aku harus menemui Mia?" gumamnya dalam hati membuka beberapa lembar berkas yang akan ia tulis ulang.
__ADS_1
Dreeet dreeet...
Ponselnya kini mulai berdering dan menampakkan nama tukang selingkuh alias Mia mantan kekasih nya yang ia anggap sudah putus.
Ia pun mengangkat ponselnya, "Halo sayang," Ucapnya dengan memutar bola matanya malas. Sebenarnya ia malas mengangkat ponselnya.
"Sayang bisakah kamu kesini? temani aku diapartemen aku sangat begitu bosan." rengek Mia dengan memayunkan bibir nya.
"aku tidak bisa datang kesana, aku dilarang oleh papa keluar rumah.. lain kali saja ya?" Ucap Angga dengan suara begitu lembut.
tut.. Tut ..
"sayang? halo... halo--- kenapa dimatikan ponsel nya?" kesal Mia tidak ada jawaban dari Angga.
Ternyata ponsel nya dimatikan begitu saja oleh seseorang yang tiba - tiba masuk kedalam ruang kerjanya.
"Papa kenapa dimatikan ponsel nya? aku belum selesai bicara dengan kekasih ku." Kesal Angga kepada papanya.
"papa sudah bilang berkali - kali padamu, jangan pernah berhubungan lagi dengan cewek matre itu lagi, kalau begini papa akan mempercepat perjodohan mu biar sekalian menikah langsung tanpa persetujuan" Tegas tuan anggaranaya dengan suara berat nya. Ia begitu kesal dengan putranya yang selalu membantah perkataan nya.
"Whattt? pa aku ngak mau menikah kenapa papa selalu memaksa?" Tentang keras Angga dengan tatapan mata nya yang begitu sangat kesal.
__ADS_1