Pria Itu Ayah Dari Anak Ku

Pria Itu Ayah Dari Anak Ku
Part 153 -S2


__ADS_3

Gea yang terbangun dari tidur nya, menatap kesekeliling nya.


"Aku ada dimana??" Pekik Gea terlonjak bangun dari tempat tidurnya, hanya terlihat warna putih abu - abu saja didalam kamar itu.


"Kamu sudah bangun, ayo kita makan aku sudah siapkan makanan untuk kita." ucap Dafa muncul dari balik pintu.


"Dafa kamu yang bawa aku kesini." Gea menatap kearah pria itu yang kini berjalan kearah nya.


"Iya, ayo cepat aku sudah buatkan makanan untukmu. kita makan malam bersama sama." Ujar Dafa menyentuh lembut pipi Gea yang memanas itu.


Bukan memanas karena sakit ya.


"Apa sih kamu Dafa, lepaskan!" Gea menepis tangan dafa, menyembunyikan wajahnya yang terlihat bersemu merah merona membayangkan wajah nya disentuh oleh Dafa saja membuat jantung nya sudah berdetak sangat cepat.


"Hey kamu sakit?" tanya Dafa.


"tidak, aku harus pulang. pasti bi Jamilah sedang menunggu kepulangan ku." Gea beranjak buru - buru keluar dari kamar Dafa.


"Hey kamu mau kemana?? Jangan pergi!" Dafa dengan cepat menahan tangan Gea dari nya dan terjadi lah saling tatap menatap.


"Lepaskan tidak." Ucap Gea.


"tidak." Jawab Dafa sekilas.

__ADS_1


"Lebih baik kita makan malam bersama." Dafa menarik lengan Gea menuju meja makan tanpa ada paksaan Gea menuruti nya.


Dimeja makan terlihat begitu banyak makanan tersaji dan itu yang banyaknya sayur bayam dan sayur sop.


"Makanlah makan yang banyak agar bayi dalam kandungan nya sehat dan kamu tidak lesu melayaniku nanti malam." ucap Dafa mampu membuat pipi Gea kembali merah merona.


"Tapi aku sedang hamil, mana boleh melakukan hubungan.." Ucap Gea mengerucutkan bibirnya.


"Bisa, jika melakukan nya dengan hati - hati." Ucap Dafa sambil menyajikan makanan untuk Gea.


"Ini makanlah." Dafa menaruh piring berisi nasi, lauk dan pauk itu tepat didepan Gea.


Lalu Dafa menangkup wajah imut itu, "Makan yang banyak ya." Ucap Dafa memberikan ciuman singkat dibibir Gea.


••


Dikediaman anggaranaya


Sementara situasi diruang makan begitu mencekam sekarang tidak ada obrolan sama sekali. Tuan Anggaranaya yang baru tahu tadi sore dari istri nya hanya mendiamkan putranya karena ia sudah berjanji dengan istri nya untuk tidak memarahi Angga, itu akan percuma.


"Ma, Pa, Mey, kalian berbicara sedikit lah sama Angga. Kenapa diamkan Angga seperti ini." Ucap Angga memandang orang tua nya dan istri nya bergantian sibuk dengan makanan nya.


"Papa sudah selesai, aku kedalam dulu." Ucap tuan anggaranaya dingin berjalan menuju kamar nya.

__ADS_1


"Mama juga sudah kenyang." Ucap mama Delia juga pergi begitu saja.


"Mey juga." Ucap Meyra berjalan pergi.


Angga hanya memandang kepergian mereka dan menghela nafas.


"apa segitu marah nya mereka padaku?? padahal aku tidak melakukan nya, apa mereka bisanya percaya dengan orang lain ketimbang anaknya sendiri?" ucap Angga dengan dirinya sendiri.


"Tuan muda bersabar lah, bibi sedikit prihatin pada tuan muda." ucap bi Minah ketua pelayan yang ada dirumahnya tiba - tiba muncul mendengar perkataan Angga.


"Bibi bagaimana bisa tahu semuanya??" tanya Angga heran.


"Bibi tidak sengaja melihat semuanya tadi siang diruang tamu. maaf karena ikut campur dalam keluarga tuan muda. tapi bibi percaya bahwa tuan muda tidak seperti yang dilihat mereka." ucap bi Minah.


"Terima kasih bi karena mau percaya dengan Angga. tapi Angga tidak tahu harus bagaimana agar mereka percaya." Angga menundukkan kepalanya sedih.


"tuan muda jangan menyerah, tunjukkan lah pada mereka bahwa tuan itu benar. mintalah petunjuk Tuhan dan pasti Tuhan akan menunjukkan jalannya." Ucap bi Minah.


"atau tuan bisa menggunakan kekuasaan tuan bukankah perusahaan tuan besar sangat berpengaruh." Ucap bi Minah.


Angga mencerna perkataan bi Minah dan ia mendapatkan ide sekarang lalu ia bangkit dari tempat duduknya.


"Baiklah bi terima kasih atas semuanya, aku ke kamar dulu." Ucap Angga dengan penuh semangat dan keyakinan.

__ADS_1


"Iya tuan." Ucap bi Minah.


__ADS_2