
Rendi tentu senang dengan kehadiran orang tua Ajis dan Nino, karena dengan begitu ia bisa sekali jalan meninjau sawah yang sudah ia miliki.
"Jis, kamu bawa motorku, kasihan bapakmu naik motor kaya gitu, nanti bisa sakit pinggang, jalan di kampung Karbal parah banget soalnya," ucap Rendi mengingatkan, pasalnya motor Ajis memang boncengannya terbuat dari besi sambungan tanpa jok, mirip sepeda ontel.
"H-he-h-he b-b-a..."
Ceplak
"Baik bos!" saat di tepuk punggungnya oleh sang Ayah, Ajis langsung berbicara lancar seketika.
Rendi tersenyum kecut melihat hal tersebut, ia menggelengkan kepalanya kemudian mengambil kunci motornya.
"Ini ambil, kalian ikut di belakang mobilku saja, atau bapak-bapak mau ikut mobilku?" tawar Rendi pada kedua pria paruh baya itu.
"Tidak usah mas, kami naik motor saja," jawab Ayah Ajis lancar, tidak seperti anaknya.
__ADS_1
"Ya sudah, Ayo berangkat!" ajak Rendi pada mereka semua.
Rendi dan Hendri naik mobil, sementara Ajis dan Nino berboncengan dengan orang tua masing-masing naik motor.
Mereka ke kampung Karbal, tepatnya di sawah Pak Kadrun yang sudah di beli oleh Rendi. Karena jalanan sawah yang tidak memungkinkan untuk mobil masuk lebih ke dalam, mereka akhirnya terpaksa jalan kaki. Namun, sawah tersebut juga sudah dekat, karena memang jaraknya tidak jauh dari jalan besar sawah.
Rendi juga merencanakan akan membangun jalan sawah tersebut agar kalau Musi penghujan tidak rusak parah, sekaligus meningkatkan kemudahan para petani Karbal untuk mengangkut hasil panen mereka.
Mereka berenam sampai di sawah Pak Kadrun, ternyata di sana sudah ada Sulis dan Pak Kosim yang sudah menunggu Rendi di gubuk yang ada di tengah-tengah sawah.
"Loh, Pak Kosim juga ada di sini?" tanya Rendi sambil mengulurkan tangannya.
"Bapak bisa saja, orang aku juga masih sama seperti dulu kok Pak," ucap Rendi sambil tersenyum.
Mereka kemudian berbicara membahas rencana Rendi, Pak Kosim hanya menyimak saja, menurutnya rencana Rendi sangat bagus mau mempekerjakan orang-orang untuk menggarap sawahnya.
__ADS_1
Orang tua Ajis dan Nino mereka langsung mengangguk setuju, apa lagi Rendi juga berjanji akan memberikan kemudahan buat mereka untuk mengolah lahan, dengan memberikan mereka modal.
"Kalau bapak-bapak sudah setuju, aku juga turut senang, mulai sekarang kita akan bekerja sama," Rendi mengulurkan tangannya.
"Tentu Mas!" Ayah Ajis sangat bersemangat bersalaman dengan Rendi, di susul dengan Ayah Nino.
Setelah sudah sepakat, Nino, Ajis dan Ayah mereka pamit pulang, Rendi membiarkannya karena ia tahu kalau orang-orang seperti mereka punya kesibukan lain di rumah.
"Pak Kosim, apa Bapak bisa membantu aku untuk meminta ijin membangun jalan desa, dan sawah?" tanya Rendi selepas kepergian Ajis dan Nino.
"Maksud kamu Ren?" Pak Kosim sedikit bingung dengan apa yang di ucapkan Rendi.
"Begini Pak, saya berniat membangun Desa Karbal dengan uangku sendiri, aku sudah jengah menunggu para pejabat kampung ini bergerak, dari dulu sampai sekarang tidak ada kejelasan sama sekali, kampung ini tidak pernah ada perubahan selama ini," ucapnya sedikit kesal.
"Kalau kamu mau membangun kampung ini ya itu bagus, tapi yang ada mereka para tikus got itu malah senang, karena mereka akan menggerogoti uang pembangunan dengan mudah, pikirkan lagi lah Ren," jawab Pak Kosim memberikan peringatan.
__ADS_1
Rendi tersenyum. "Justru itu yang aku cari Pak, dengan membangun Kampung ini menggunakan seluruh uangku tanpa dana dari pusat, nantinya aku bisa mendapatkan bukti tikus-tikus ini, dan saat itu juga, aku akan mengakhiri kegagahan mereka!"
Pak Kosim terkejut dengan pemikiran Rendi, ia tidak menyangka kalau Rendi berniat melawan para hama tersebut, tapi dari sorot matanya tidak ada keraguan sama sekali, sehingga Pak Kosim sangat yakin kalau Rendi pasti bisa melakukannya.