Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Kepandaian Rendi


__ADS_3

Rendi baru masuk di gerbang sekolah, ia langsung di tarik Sulis. Tentu Rendi terkejut dengan kejadian tersebut.


"Astaga! Kamu bikin aku kaget saja, Lis!" tegur Rendi lirih.


"Hehehe ... habisnya dari tadi kamu tidak memerhatikan jalan, menunduk terus, memangnya apa yang sedang kamu cari?" tanya Sulis sedikit menggoda Rendi.


"Kamu ini ada-ada saja," ucapnya sambil tersenyum kecut.


"Oh iya Ren, kamu masih ingat Pak Kadrun gak? Dia pagi tadi di tangkap Polisi!" celetuk Sulis saat berdua berjalan ke kelas bersama.


Rendi mengerutkan keningnya. "Kenapa dia memangnya?"


"Itu loh, kamu tahu kan, kalau Pak Kadrun seneng main judi, dia membunuh temannya sendiri, dan kata Ayah harta bendanya juga sudah habis buat main judi," terang Sulis masih sambil berjalan beriringan dengan Rendi.


Rendi mengangguk-anggukkan kepalanya. "Pantas saja sawahnya jadi milikku."


"Apa Ren? Serius sawah Pak Kadrun jadi milik kamu?" tanya Sulis terkejut.


Rendi tersenyum getir, ia keceplosan bicara. "Hehehe ... iya kebetulan bawahanku yang memberitahukan kalau Pak Kadrun menjual sawahnya, tanpa pikir panjang aku beli saja."


Rendi menggaruk belakang telinganya yang tidak gatal sambil terkekeh lirih, untuk menutupi kebohongannya.


Sulis hanya bisa diam terpaku menatap Rendi, ia tidak pernah menyangka kalau Rendi ternyata kekayaannya sudah melebihi imajinasinya.


"Sudahlah, jangan bahas itu, ayo ke kelas!" ajak Rendi sambil meraih tangan Sulis.


Sulis mengikuti dengan pasrah, dalam hati ia bertanya-tanya, apakah ia masih layak jika bersanding dengan Rendi.


Tidak, aku pasti bisa bersanding dengannya, setelah bekerja nanti, aku akan membuktikan kalau aku layak untuk Rendi!

__ADS_1


Sulis membulatkan tekadnya agar bisa bersama Rendi kelak, karena ia yakin hanya pria itu yang bisa membuat dirinya merasa nyaman.


Rendi masuk ke kelasnya, teman-teman sekelasnya menyapa Rendi dengan ramah, mereka semua sekarang menjadi penjilat semuanya, padahal dulu tidak ada yang mau berteman dengan Rendi.


Rendi menanggapi hal tersebut dengan biasa saja, ia tidak menggubris mereka, mau mereka menjilatinya seperti apa juga, Rendi sudah tahu watak mereka, jadi ia tidak bakal terpengaruh dengan semua itu.


"Kamu sudah pulang Ren?" tanya Bu Lina yang baru masuk kelas.


"Iya Bu, kebetulan urusannya selesai cepat," jawab Rendi ramah.


"Baguslah, jadi kamu tidak tertinggal pelajaran," ucap Bu Lina sambil tersenyum ramah.


Rendi balas tersenyum pada wali kelasnya itu. Bu Lina pun memulai pelajaran seperti biasanya. Rendi merasa sedikit aneh dengan pelajarannya, karena ia begitu mudah dan seolah sudah mengerti tentang semua pelajaran yang di berikan Bu Lina.


Melihat Rendi yang kebingungan, Bu Lina menegurnya. "Ren, ada apa? Apa ada yang tidak kamu mengerti?"


Seketika teman-teman Rendi saling menatap, mereka semua kebingungan dengan Rendi, pasalnya pelajaran tersebut belum pernah di terangkan sebelumnya.


"Apa maksudmu Ren? Ibu baru pernah memberikan materi ini, coba kamu isi soal ini!" Perintah Bu Lina lirih.


"Baik Bu," Rendi maju ke depan dengan percaya diri, ia mengisi semua jawaban pertanyaan yang di papan tulis dengan begitu mudahnya.


Bu Lina tentu saja terkejut, karena semua jawaban Rendi benar, ia sampai terbengong sambil menatap jawaban Rendi.


"Bagaimana Bu?" tanya Rendi yang langsung menyadarkan Bu Lina.


"Semuanya benar! Ren, coba kamu isi jawaban ini!" Bu Lina asal membuka soal yang belum pernah di kerjakan dan bahas sebelumnya, di buku pelajaran.


Hasilnya, Rendi sangat mudah mengurai semua itu, dari sepuluh soal ia hanya perlu waktu lima menit untuk menjawabnya dan itupun Rendi terlihat sangat santai.

__ADS_1


Bu Lina menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya, semua jawaban Rendi benar, dan semua penjelasannya juga masuk akal.


"Ren, sesudah ini kamu ikut ke kantor," ucap Bu Lina serius.


"Baik Bu," jawabnya sambil berlalu kembali duduk di kursinya.


Bu Lina kembali mengajar teman-teman Rendi, sementara Rendi terlihat bosan di tempat duduknya, karena ia sudah tahu semua materi yang di berikan Bu Lina.


Setelah jam pelajaran usai, Rendi langsung di bawa ke kantor guru oleh Bu Lina untuk membahas masalah Rendi.


"Ada apa ini Bu Lina? Kenapa Rendi di bawa kemari?" tanya Pak Julianto penasaran.


"Pak, sepertinya kita harus mengeluarkan surat rekomendasi dan ijasah Rendi sekarang," jawab Bu Lina percaya diri.


"Apa maksud anda Bu Lina? Itu tidak mungkin di lakukan, walaupun Rendi adalah Sis...."


"Saya tahu pak, ini bukan pakai jalur khusus karena dia kaya atau apa, tapi pengetahuannya sudah melampauinya teman-temannya, coba Bapak berikan soal apapun pada Rendi!" perintah Bu Lina dengan semangat.


Rendi hanya menyaksikan pembicaraan kedua gurunya itu tanpa berbicara sepatah katapun.


Pak Julianto menghela napas, akhirnya ia menuruti permintaan Bu Lina dengan memberikan soal Semester akhir pada Rendi.


Rendi pun menerimanya, dengan sangat mudah ia mengerjakan semua soal itu, sehingga membuat Pak Julianto tercengang, apa lagi semua jawabannya benar.


"Astaga, ini seriusan?" ucapnya sambil memegangi kertas soal dengan tangan bergetar.


Pak Julianto menatap Rendi dengan seksama, ia tidak menyangka kalau Rendi sebenarnya secerdas itu, lagi-lagi para guru seolah di tampar Rendi dengan kenyataan, mereka mengira kalau Rendi selama ini hanya pura-pura bodoh saja.


Hingga akhirnya, detik itu juga Rendi di suruh melakukan beberapa tes yang membuatnya lulus SMA dan mendapatkan ijazah lebih awal.

__ADS_1


__ADS_2