
Rendi sudah dalam perjalanan, saat sampai di rumah makan, Rendi menyuruh Hendri berhenti, ia sadar Hendri juga butuh istirahat.
"Kita makan istirahat dulu, ini buat kamu beli sesuatu." Rendi memberikan Hendri uang tiga ratus ribu.
"Bos, ini terlalu banyak." tukas hendri.
"Sudah ambil saja, rejeki buat kamu." ucap Rendi sambil tersenyum.
"Terimakasih bos." jawabnya senang.
Rendi dan Hendri menikmati makanan ringan dan minuman yang tersedia di rumah makan itu, mereka berdua bersantai untuk beberapa saat.
Tiba-tiba ada seorang pengemis wanita dengan membawa dua anaknya, yang satu ia gendong karena masih bayi, yang satunya jalan kaki, mirisnya bocah yang jalan kaki tidak mengenakan alas kaki sama sekali.
"Mas, berikan kami sedikit uang, untuk makan kami." ucapnya sendu sambil menengadahkan tangannya.
Rendi memerhatikan bocah yang di gandeng wanita itu, ia terlihat sangat lusuh, pakaiannya saja sudah sangat tidak layak, si ibu juga terlihat pucat pasi wajahnya.
Rendi teringat dengan neneknya, bagaimana sang nenek melakukan apapun demi bisa memberikannya makan, walau hanya sesuap nasi.
Rendi beranjak dari duduknya, ia jongkok di hadapan anak pengemis tersebut dan tersenyum padanya.
__ADS_1
"Ade sudah makan?" tanya Rendi lembut.
Bocah yang umurnya baru lima tahunan itu menggelengkan kepalanya, selepas itu pandanganya melihat ke arah snack yang tersusun rapi di etalase rumah makan itu.
Hati Rendi benar-benar tersayat saat memerhatikan bocah itu yang terlihat kurang gizi.
"Bu, kalian duduk dulu, nanti aku pesankan makanan." ucap Rendi seraya berdiri.
"Benar mas?" tanya Ibu itu bersemangat.
Rendi mengangguk. "iya, ayo duduk!" ajaknya lembut.
Rendi langsung memesankan makanan untuk mereka berdua, karena si bayi tidak mungkin makan nasi, sebagai gantinya Rendi membelikan susu untuk bayi yang kebetulan ada di sana juga.
"Terimakasih banyak mas." ucap Ibu tersebut sebelum memakan makanan yang sudah di pesankan untuknya.
"Sama-sama Bu, ayo makan dulu, Ade juga." ucap Rendi sambil tersenyum.
Terlihat keduanya makan dengan lahap, Rendi yang menyaksikan itu, matanya berkaca-kaca, ia merasa senang sekaligus sedih, jika saja dia bisa memberikan orang-orang seperti mereka pekerjaan yang layak.
"Sebelumnya maaf Bu, apa pekerjaan suami Ibu?" tanya Rendi setelah mereka selesai makan.
__ADS_1
Bukannya menjawab, wanita pengemis itu menundukkan kepalanya, bulir bening langsung menetes dari pelupuk matanya.
"Suami saya meninggalkan kami mas, pamitnya mau kerja, tapi sudah empat bulan tidak ada kabar sama sekali darinya." jawabnya dengan suara parau.
Rendi menghela napas. "maaf yah Bu, aku tidak bermaksud mengungkit masalah ibu, Ibu yang sabar."
"Iya mas, tidak apa-apa kok." wanita itu bergegas menghapus air matanya, ia tidak mau membuat orang yang baik padanya merasa bersalah.
"Ibu punya rumah?" tanya Rendi lagi.
"Punya mas, walaupun cuma gubug." jawabnya sambil tersenyum kecut.
"Kalau Ibu buka usaha di rumah, kayaknya mau tidak?"
"Maksud masnya?"
Rendi tersenyum. "begini Bu, kalau Ibu mau membuka usaha di rumah, aku akan memberikan modal buat Ibu, kasihan anak Ibu di bawa kesana-kemari, mereka masih kecil, di tambah adenya juga sudah hampir sekolah, bukan?"
"Mas serius?" tanya wanita itu bersemangat.
Tentu saja wanita itu sangat bersemangat saat Rendi mengutarakan hal tersebut, ia juga berharap tidak mengemis lagi seperti itu.
__ADS_1