
Melihat semuanya sudah terdiam kembali dengan tenang. Rendi tersenyum simpul ke arah mereka.
"Aku tidak akan membatasi kehidupan kalian, aku tidak akan mengatur hidup kalian! Namun, yang aku mau dari kalian, perubahan pola pikir kalian!" ucap Rendi dengan mantap.
Semua tunawisma menatap Rendi dengan seksama, kini mereka sudah mau mendengarkan perkataan pria yang baru genap delapan belas tahun itu dengan seksama.
"Punya rumah saja apa kalian sudah cukup? Kalau buatku itu tidak cukup sama sekali! Mau sebagus apapun rumah kita, kalau kita tidak bekerja dengan benar, hasilnya apa? Kemungkinan rumah itu bisa di gadaikan atau mungkin akan di jual oleh kalian! Karena itulah aku membawa orang-orang yang akan membantu kalian menitih karir dari nol! Masalah biaya kalian jangan khawatir, aku akan menanggung semuanya! Jika kalian tidak punya bakat berdagang atau yang lainnya, aku sudah menyiapkan pekerjaan untuk kalian! Aku yakin kalian akan puas dengan gajinya," ucap Rendi mantap.
Pemuda yang tadi berbicara dengan Rendi buka suara lagi, kali ini suaranya pelan dan sopan. "Boleh aku bertanya, apa motivasi kamu, kenapa mau menanggung beban kami?"
"Hati Nurani! Mungkin itu yang hanya bisa aku katakan, karena sejujurnya aku sangat sedih melihat bangsaku tidak menghargai mereka yang sedang berada di bawah, mereka yang di atas hanya mementingkan kepentinan sendiri! Karena itulah aku ada di sini, aku mengajak kalian untuk mengubah bangsa ini perlahan!" jawab Rendi dengan mantap.
Pemuda yang berbicara kepada Rendi, tiba-tiba ambruk di tanah, ia bersimpuh sambil menitihkan air matanya.
"Tuhan! Kenapa Engkau baru kirim orang baik sepertinya sekarang! Kenapa tidak dari dulu!" teriaknya antara senang dan sedih.
Semua tunawisma juga ikut bersujud syukur, mereka semua akhirnya mendapatkan secercah harapan. Tentu dalam hati mereka menganggap Rendi sebagai sosok pahlawan modern sebenarnya.
"Berbaris lah, kalian akan mendapatkan sertifikat rumah kalian!" perintah Rendi lugas.
Mereka semua langsung berbaris, bawahan Rendi juga langsung membuatkan tanda pengenal untuk para tunawisma tersebut, tujuannya agar mereka di akui negara dan mudah untuk di data.
__ADS_1
Benar saja, sebagian dari mereka tidak memiliki tanda pengenal. Membuat Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ia tahu bikin tanda pengenal di negaranya sangat susah, ada yang blankonya tidak adalah, apalah, banyak sekali alasan, tapi kalau ada dua lembar kertas merah masuk saku, pasti langsung di buatkan. Sungguh indahnya negeriku.
Rendi tersenyum kecut ketika mengingat itu semua, karena ia juga pernah bikin tanda pengenal jadinya berbulan-bulan, memang dahsyat cobaannya menjadi orang tidak mampu, karena itulah Rendi berinisiatif mempermudah jalan para tunawisma tersebut, agar mereka bisa semangat menjalani kehidupannya.
"Mas, apa kami juga bisa dapat rumah?" tanya seorang gadis kecil berusia 14 tahun bersama seorang adiknya yang berumur sekitar 6 tahunan, menarik-narik baju Rendi yang sedang memerhatikan para tunawisma mengantri.
Rendi menoleh ke arah kedua gadis itu. "Ayah dan Ibu Ade kemana? Biar Ayah dan Ibu Klain yang mengurusnya," ucap Rendi lembut.
Si Kakak menggeleng. "Ibu sudah meninggal Mas, Ayah tidak tahu kemana, dia meninggalkan kami berdua," ucap gadis itu sambil memeluk adiknya.
Perasaan Rendi tersentak, lagi dan lagi ia selalu saja menemui kejadian seperti itu, orang tua yang tega meninggalkan anaknya.
Rendi yang sedang duduk, bergegas menyuruh kedua bocah itu duduk di kursinya, sementara ia jongkok di hadapan mereka.
Kedua bocah itu kompak menggelengkan kepalanya, karena mereka bangun tidur memang di giring ke tempat tersebut.
"Rohis!" panggil Rendi pada sopir pribadinya.
"Iya Bos!" Rohis dengan sigap menghampiri Rendi.
Rendi mengeluarkan uang dua ratus ribu dari dompetnya. "Kamu belikan mereka makanan, jangan lupa minumannya juga, ingat makanan yang enak!" ucapnya sambil menyerahkan uang tersebut.
__ADS_1
"Siap bos!" Rohis mengambil uangnya dan bergegas pergi.
Rendi mengambil tempat duduk lagi, ia duduk bersama dua bocah itu, untuk mendengar cerita bocah itu lebih lanjut.
"Mas, aku bisa mencari makan sendiri, tapi kalau rumah aku gak punya, apa aku gak bisa mendapatkan rumah?" tanya bocah itu sedih.
Rendi tersenyum, ia mengusap puncak kepala bocah tersebut. "Kamu tenang saja, aku pasti akan memberikan rumah pada kalian dan Kalian mau tidak melanjutkan sekolah?"
"Aku mau kak!" adik bocah tersebut dengan semangat menjawab.
"Meli, kamu tidak boleh kayak gitu, tidak sopan," tegur sang Kakak.
"Maaf Kak." nampak si adik langsung memasang ekspresi sedih.
Rendi tersenyum. "Kalian tenang saja, biaya hidup kalian akan aku tanggung, nanti kalian fokus sekolah saja, nanti aku suruh orangku untuk mencarikan sekolah buat kalian, oke!"
"Serius Kak? Wah asyik...." si Adik terlihat sangat senang, sementara si Kakak terlihat hanya tersenyum getir.
"Mas, aku tidak mau merepotkan kamu," ucap si Kakak.
"Kamu jangan pikirkan itu, nanti semua ada yang urus."
__ADS_1
Rendi berharap kedua bocah itu bisa mendapatkan apa yang belum pernah mereka rasakan layaknya anak-anak pada umumnya, karena pendidikan itu sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat.