
Mobil Rendi sampai di rumah Sulis, ketika melihat kaca mobil terbuka, jelas saja Satpam penjaga gerbang rumah Sulis terkejut.
"Rendi!" serunya terkejut.
"Lama tidak bertemu Pak, bisa buka gerbangnya?" sapa Rendi sopan.
"Tentu saja!" Satpam bergegas membuka pintu gerbang, mengingat ia sudah tahu kalau Rendi sekarang sudah kaya dan akan menjadi menantu juragan bawang tempatnya bekerja.
Rendi mengeluarkan uang dua ratus ribu dan menyerahkannya ke satpam tersebut ketika mobil masuk ke dalam gerbang. "Buat beli kopi bapak," ucapnya ramah.
"Terimakasih Ren!" jawabnya bersemangat dan sangat senang.
Uang dua ratus ribu dikampung itu cukup banyak, buat mendapatkan uang segitu saja dikampung harus kuli nyangkul empat hari. Karena itulah satpam sangat senang.
Pria itu kagum dengan Rendi yang tidak lupa dengan masalalu nya dulu, walaupun kadang sering menjaili Rendi tapi Satpam juga sering membelikannya jajan atau kopi ketika jaga malam.
Mobil mereka sampai didepan rumah, Rendi, Sulis dan Mei Ning turun dari mobil, tampak rumah itu sepi, mengingat Pak Kosim pasti sedang membeli bawang para petani di sawah.
Sulis tanpa ragu membawa masuk Rendi dan Mei Ning, hanya ada pembantu rumah tangga yang langsung menyambut mereka bertiga.
"Non Sulis, kenapa tidak bilang mau pulang hari ini?" tanya pembantu tersebut yang begitu semangat menyambut Sulis.
"Ssst... aku mau memberikan surprise sama Ayah dan Ibu, Bibi buatkan minum buat Rendi dan Kak Mei yah," perintahnya sopan.
"Baik Non!" jawabnya langsung bergegas pergi ke belakang.
__ADS_1
Rendi menyuruh Sulis dan Mei Ning beristirahat, sementara ia mau pergi ke suatu tempat yang sudah dijanjikan dengan Mba Kunti.
Sulis mengira kalau Rendi akan menemui Harisman dan yang lainnya, jadi ia membiarkannya dan memberinya kunci motor miliknya untuk dibawa Rendi.
"Mau kemana Ren?" tanya Satpam ketika Rendi sampai gerbang dengan motor.
"Lihat-lihat kampung, kangen dengan pemandangan di sini Pak," jawabnya ramah.
"Ya sudah hati-hati," ucap Satpam itu sopan.
Rendi mengangguk, ia menarik gas dan pergi dari kediaman keluarga juragan bawang tersebut.
Pria itu mengendarai motornya ke gunung Suplawan, karena di sana Mba Kunti memintanya untuk bertemu.
Lokasi pertemuan ada di sebelah selatan gunung Suplawan, dimana tempat tersebut jarang dilewati seseorang karena banyak yang melihat sosok mahluk astral di sana. Namun, Rendi yang sudah tahu kebenaran tempat tersebut, ia datang ke sana tanpa rasa takut sedikitpun.
Baru saja ia masuk wilayah tersebut, Rendi dikagetkan dengan sosok hantu pria dengan mata melotot keluar.
"Astaga, bikin kaget saja kamu," celetuknya sambil mengelus dada.
"Eh, kamu bisa melihatku?" tanya sosok tersebut yang sama terkejutnya.
"Kalau tidak bisa melihat untuk apa aku kaget," jawabnya santai.
"Lah, kok kamu gak takut denganku?" tanya sosok itu tampak bingung.
__ADS_1
Rendi menghela napas. "Aku tidak ada urusan denganmu, tuh dia yang memanggilku ke sini."
Rendi menunjuk Mba Kunti yang sedang duduk didalam pohon waru doyong dengan santai, seolah dahan pohon itu tempat kesukaan nya.
"Astaga, kamu mau menikahinya agar bisa kaya raya?" hantu tersebut terkejut.
"Sialan, mana ada aku mau menikahi mahluk seperti kalian, daging segar saja banyak di luar sana," jawab Rendi kesal.
"Lah buktinya itu kamu mau menemui Sari, pasti mau melakukan pesugihan, sudah ngaku saja," cecar hantu tersebut.
"Kamu mau aku bunuh dua kali?!" hardik Rendi kesal.
"Eits, woles dong, aku cuma bercanda," jawabnya sambil tersenyum.
Rendi tidak bisa berkata-kata, karena ia melihat hantu yang seperti manusia saja, bisa bercanda segala.
Pria itu menghela napas berat dan meninggalnya, jika terus ngobrol dengannya bisa-bisa ia gila juga.
Rasa takut dalam tubuh Rendi sudah tidak ada sama sekali, walaupun ia bisa melihat sosok mahluk astral yang jumlahnya lumayan banyak di tempat itu, tapi ia tampak cukup santai.
Ketika Rendi sedang buru-buru mendekati Mba Kunti yang diketahui namanya Sari ketika masih hidup itu. Tiba-tiba muncul sosok hantu dengan tubuh hitam besar dengan rambut gimbal dan berbulu.
Rendi sedikit tertegun ketika melihatnya, apalagi sorot mata sosok tersebut sangat tajam dan mengeluarkan darah si sela-selanya, membuat sosok itu semakin terlihat sangat menyeramkan.
"Eh ada cowo tampan," ucap sosok tersebut ngondek seperti bencong.
__ADS_1
"Hah...." Rendi melebarkan rahangnya terkejut, sosoknya menyeramkan itu ternyata bisa ngondek juga.