Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Pecah Perang 2


__ADS_3

Pembunuh bayaran yang melawan Rendi masih terus menyerangnya tanpa jeda. Hingga akhirnya orang tersebut menyadari kalau pisaunya tidak melukai Rendi sedikitpun.


"Baru pertama kali aku melawan orang sepertimu, ternyata ilmu kebal di Indonesia memang benar ada!" serunya yang masih terus menyerang Rendi.


Rendi menyeringai. "Sayangnya kamu salah, sudah cukup main-mainnya!"


Rendi menggunakan kecepatan super penuhnya, ia gantian menghajar orang tersebut, tapi kali ini yang ia incar telinganya.


Setelah mengamati beberapa saat Rendi menyadari, kalau telinga orang tersebut mirip dengan tunanetra, kepekaannya dengan suara sangatlah tinggi.


Pembunuh bayaran itu terkejut karena Rendi menyadari kekuatannya, di tambah serangan Rendi semakin intens dan sangat cepat, membuatnya kewalahan walaupun sudah bertahan.


Bang


Bang


Rendi berhasil mendaratkan pukulan kesalah satu telinga pembunuh bayaran, benar saja refleknya langsung melambat seketika.


Bang


Arghh


Rendi menepuk tangannya secara bersamaan dengan sangat keras di kepala orang itu, hingga gendang telinga pria tersebut pecah, darah mengalir dari telinganya. Tengkorang kepalanya juga mengalami keretakan, pria tersebut langsung ambruk di atap.


Rendi tidak diam saja, ia mengambil kaki pria tersebut melemparkannya ke atas dan memukulnya dengan kecepatan penuh, hingga pria tersebut melesat jauh dari sana dan jatuh dari ketinggian.


Rendi menepuk-nepukan tangannya, tapi tiba-tiba sebuah tembakkan memberondong dirinya dari belakang, sehingga ia tersungkur di atas.


"Sialan, aku lengah," gumamnya sambil menahan sakit.


Perlahan tubuh Rendi memulihkan dirinya, tubuh darahnya mengeluarkan semua peluru yang bersarang di tubuhnya.

__ADS_1


Pembunuh bayaran itu yang merasa sudah menang, ia dengan santainya mendekat ke arah Rendi.


Rendi pura-pura diam seperti mati, sambil menunggu tubuhnya, pulih sepenuhnya.


Ketika pembunuh bayaran tersebut mendekat dan mau menendang dirinya, dengan kecepatan super Rendi berdiri dan langsung menghantam wajahnya dengan tinju besi, sehingga kepalanya langsung hancur seketika.


Tubuh pria itu ambruk di atap dengan kepala yang sudah hancur, tidak mau lengah kedua kalinya. Rendi bergegas pergi dari sana mencari pembunuh bayaran lainnya.


Sementara itu di tempat Mei Ning, ia sedang melawan dua pembunuh bayaran bersama Malik yang menembakinya dengan senapan sergap tanpa henti.


"Nona Mei! Aku kan mengalihkan perhatian mereka, anda yang menyerangnya langsung!" usul Malik.


Mei Ning mengangguk. "Baik, jangan sampai mati tuan Malik!"


Malik menggenggam senapan sergapnya dengan kencang, ia menghirup napas dalam-dalam kemudian membuangnya.


Malik langsung menembaki mereka sambil sesekali menghindar, suara sahut-sahutan peluru senapan sergap menggema di dalam rumah Malik.


Seluruh tempat tersebut sudah hancur berantakan, begitu banyak mayat yang bergelimpangan di sana.


Orang yang terkena jarum beracun tersebut, ia menghentikan tembakannya dan mencabut jarum beracun tersebut. Betapa terkejutnya dia saat melihat jarum itu, tidak berselang lama pria itu tumbang dan kejang kemudian tewas, membuat rekannya terkesiap.


"Brengsek! keluar kau Xiashou!" teriak rekan pria yang tewas lantang sambil menembakkan senapan sergapnya tanpa henti.


Pria tersebut mengenal Mei Ning, karena hanya wanita itu di kalangan pembunuh bayaran modern yang masih menggunakan metode jarum beracun untuk membunuh targetnya.


Clap


"Apa kau mencari ku!?" Mei Ning menancapkan jarum suntik ke leher pria tersebut, menyuntikkannya dengan dosis tinggi.


Pria itu menoleh mau menembak Mei Ning, tapi Mei Ning dengan cepat menendang tangan pria itu, hingga tangannya yang mulai kebas menjatuhkan pistol tersebut.

__ADS_1


"Wanita jal...."


Belum selesai bicara, mulut pria itu berbusa, hingga akhirnya ia tewas di depan Mei Ning.


Malik mendekat ke Mei Ning. "Lebih baik kita pergi ke bawah tanah, bawahanku sepertinya sudah tidak bisa menahan mereka lagi," ucapnya yakin.


Mei Ning mengangguk mengerti, ia tahu kalau Malik akan menggunakan tempatnya sebagai alat untuk membunuh mereka yang terus berdatangan memburu mereka.


...***...


Ditempat Rendi berada, ia tampak sedang menggorok leher salah satu pembunuh bayaran di samping kiri rumah Malik.


"Ada berapa banyak mereka sebenarnya?" keluh Rendi yang mulai merasa bosan melawan mereka semua.


Terdengar suara langkah kaki beberapa orang lagi mendekat ke arah Rendi. Mereka terus menembaki Rendi tanpa henti.


Jika saja Rendi tidak memiliki kecepatan super, mungkin pria itu sudah terkena tembakkan beberapa kali.


Rendi terus bergerak, ia mengambil senjata yang di jatuhkan para pembunuh bayaran yang sudah tewas, ia balas menyerang dengan terus menembaki mereka semua hingga semuanya tewas seketika.


Pertempuran tersebut terus terjadi hingga menjelang pagi, para pembunuh bayaran seolah tidak ada habisnya sama sekali. Namun, semakin pagi serangan pembunuh bayaran sudah semakin mengendur, mungkin karena jumlah mereka yang sudah sedikit.


Ratusan mayat orang yang terdiri dari pembunuh bayaran dan bawahan Malik bergeletakan di halaman dan seluruh isi rumah, hampir semua bawahan Malik juga tewas, tapi ada beberapa juga yang masih hidup dan melarikan diri, daripada harus tewas di sana.


Kediaman Malik sudah seperti wilayah peperangan saja, mayat dan darah yang bersimbah dimana-mana membuat orang yang tidak pernah melihat hal itu pasti akan tercengang ketika melihatnya.


Rendi yang berlumuran darah, ia masuk ke rumah Malik untuk mencari makan dan minum, mengingat dari semalam ia tidak bisa minum sama sekali.


Rendi membuka lemari es, dia meminum air dingin dengan begitu rakus, hingga satu botol air mineral ia habiskan dalam satu tegukan. "Ah... segarnya."


Rendi mengambil buah apel dan memakannya, bersamaan dengan itu terdengar suara langkah kaki yang menghampiri dirinya.

__ADS_1


"Hebat juga kamu masih bisa bertahan dan santai!" tegur salah satu dari dua pembunuh bayaran dengan suara berat dan dingin.


Rendi menoleh dengan apel yang masih ia gigit di mulutnya, sementara kedua tangannya memegangi air mineral dan pisang.


__ADS_2