
Rendi tentu senang dengan perubahan tersebut, karena ia sekarang sudah memiliki banyak teman, tapi Rendi juga tentu tidak mau salah pilih teman.
"Ren, katanya kamu sekarang sudah memiliki usaha yah? Usaha apa memangnya?" tanya Sasa teman kelas Rendi dengan genit.
"Iya tuh, hebat dia masih SMA sudah memiliki usaha sendiri, pria idaman banget." timpal teman Sasa.
"Ajak kami makan di restoran dong Ren, kamu kan sekarang sudah banyak uang." timpal teman Sasa lainnya.
Para gadis itu merengek manja pada Rendi, padahal dulu mereka boro-boro dekat dengan Rendi, meliriknya saja katanya bikin mata mereka pedih.
Sasa dan gengnya merupakan gadis yang senang bepergian menghabiskan uang pria yang di kencani mereka.
Mereka berempat juga tidak keberatan di pegang sana-sini sama teman kencannya, asalkan mereka mendapatkan apa yang mereka mau, hal tersebut sudah menjadi rahasia umum di seluruh sekolah.
Rendi menghela napas, "kata siapa aku sudah punya usaha? Kalian salah paham sepertinya, aku kebetulan saja menang lotre, dan uangnya sudah aku belikan motor, sama buat bayar sekolah dan kontrakan, jadi sekarang aku tidak punya uang lagi."
Rendi memasang wajah sedih, ia tahu kalau Sasa dan gengnya hanya ingin memerasnya, jadi ia pura-pura saja masih miskin, agar mereka menjauhinya.
Sasa tidak percaya begitu saja, ia bertanya memastikan, "kamu yakin Ren? Masa sih kamu sudah tidak punya uang?"
"Serius, lihat ini." Rendi mengeluarkan dompet usangnya dari saku, di dalam dompet Rendi yang ia temukan di jalan itu, hanya ada satu lembar uang sepuluh ribu, dua lembar uang dua ribu dan lima buah uang koin lima ratus rupiah.
__ADS_1
Sasa mengernyitkan dahi, ia menoleh ke temannya dan memelototi mereka, karena mereka bertiga yang mengatakan pada Sasa, kalau Rendi sudah kaya, tapi nyatanya masih sama saja, sehingga membuat Sasa jengkel.
Gadis berpenampilan modis itu berdiri, ia menyilangkan tangannya di depan dada dan menatap Rendi dengan tajam.
"Aku kira kamu sudah kaya, ternyata masih saja miskin!" Sasa mengangkat tangannya mau menampar Rendi, karena ia tidak Sudi kalau tubuhnya bersentuhan dengan pria miskin. Namun, Rendi menangkap tangannya dengan mudah.
"Aku memang miskin, tapi aku masih memiliki harga diri, lebih baik kalian pergi dari hadapanku sebelum aku marah!" Hardik Rendi dengan tatapan dingin.
Teman-teman Sasa ketakutan, mereka langsung berdiri, Rendi menghempaskan tangan Sasa, dengan kasar, sehingga wanita itu hampir saja terjungkal, untung saja teman-temannya menangkap Sasa.
Mereka semua bergegas meninggalkan Rendi dengan wajah ketakutan, sekaligus jengkel karena telah di rendahkan Rendi.
Rendi menghela napas lega, ia kembali duduk dengan tenang dan kembali menikmati baso yang tadi ia pesan di Bu kantin.
Rendi menoleh, ia tersenyum kecut, "aku tahu siapa mereka, ya walaupun dulu aku tidak memiliki siapa-siapa, setidaknya aku juga mau nyari teman yang Care denganku."
"Maaf yah Ren, dulu jujur aku juga malu dekat denganmu." ucap Sulis dengan sendu.
"Sudahlah, setidaknya kamu sekarang tidak seperti mereka yang hanya menginginkan uangku, lanjutkan makanmu," Rendi tersenyum pada Sulis.
"Terimakasih Ren," jawab Sulis lembut.
__ADS_1
Mereka berdua menikmati pesanan mereka sambil ngobrol-ngobrol kecil, sesekali mereka bercanda.
Melihat kedekatan Sulis dengan Rendi, para gadis yang kurang beruntung merasa iri dengan Sulis, mereka juga ingin sepertinya yang bisa dekat dengan Rendi. Namun, sepertinya itu semua tidak bisa mereka lakukan, karena mereka sadar, selama tiga tahun mengenal Rendi di SMA, tidak ada di antara mereka yang mau mendekatinya sama sekali.
...***...
Rendi dan Sulis kembali ke kelasnya masing-masing, setelah bel jam pelajaran kembali berbunyi.
Rendi tidak merasa terusik sama sekali dengan teman-temannya yang sekarang seolah peduli dengannya, mereka juga menawarkan bantuan pada Rendi, jika soal yang di kasih guru cukup sulit.
Semua yang ada di kelas itu sudah mengakui keberadaan Rendi, sehingga di sana sudah tidak ada yang membuly nya lagi.
Jam pelajaran pun telah usai semuanya, Rendi berjalan ke arah parkiran motornya, di sana ia di hadang beberapa temannya dan pacar Sasa. Gadis itu juga berada di sana dan terlihat menatap sinis Rendi.
"Heh! Bocah miskin, berani sekali kamu menyentuh gadisku!" hardik pacar Sasa.
Rendi menghela napas, ia malas berurusan dengan orang-orang seperti mereka, karena ia yakin ujung-ujungnya akan berantem.
Rendi dengan santainya memakai helmnya, ia tidak menggubris mereka sedikitpun, tapi saat ia mau menaiki motornya, tangannya di cekal pacar Sasa.
"Brengsek! Jangan pura-pura bodoh kamu!" bentaknya sambil mencengkram lengan Rendi dengan kuat.
__ADS_1
Rendi melihat ke arah tangannya yang di cengkram pria tersebut, ia balik mencengkram lengan pria tersebut dengan tangan kirinya.