Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Ruko


__ADS_3

Dua becak yang membawa barang-barang belanjaan mereka sampai di ruko milik Rendi, Pria sepuh yang mengayuh becaknya, ia terlihat bermandikan keringat.


Rendi menghampiri pria sepuh tersebut, "minum dulu kek."


Rendi menyerahkan air mineral dingin pada pria sepuh dan tukang becak satunya, mereka berdua langsung menenggaknya sampai habis.


Samiun dan Sengkuni menurunkan barang-barang belanjaan mereka dan membawanya masuk ke dalam ruko yang di beli Rendi itu.


"Gila, gede banget bos membeli rukonya? Aku kira cuma tempat pangkalan biasa." celetuk Samiun saat masuk ke dalam ruko tersebut.


"Iya, bos kalau membeli sesuatu gak kira-kira." jawab Sengkuni yang sama kagumnya.


"Eh, ngomong-ngomong bos dapat uang dari mana yah? Kan dia masih muda tuh?" tanya Samiun pada sahabatnya itu.


"Ngepet, kalian berdua nanti jadi tumbalnya!" Novi menjawab dengan ketus.


"Eh, Mbak bos, kami cuma bercanda kok Mbak bos, jangan jadikan kami tumbal yah." ucap Samiun memelas.


"Astaga! Kalian serius percaya kalau Rendi ngepet?" tanya Novi tidak percaya.


Dengan polosnya mereka berdua mengangguk bersamaan, tentu saja Novi semakin marah, candaannya di tanggapi serius oleh mereka.


"Rendi! Apa aku boleh membunuh mereka berdua?!" teriak Novi yang benar-benar kesal.


"Ampun Mbak bos, kami tidak akan memberitahu siapapun, sumpah!" Samiun bersimpuh di bawah Novi bersama dengan Sengkuni.


"Iya Mbak bos, kami akan merahasiakan ini semua, sumpah!" Sengkuni membentuk jarinya seperti huruf 'V'.

__ADS_1


Novi benar-benar tidak tahu dengan pemikiran mereka berdua, ingin rasanya ia mengumpat dan mencabik-cabik mereka berdua yang tidak tahu mana jokes dan mana yang serius.


"Ada apa Nov?" tanya Rendi yang langsung menghampiri Novi, setelah ia berteriak tadi.


"Bawahanmu, Arghhh ...." Novi geram sekali dengan keduanya.


Rendi tidak tahu apa yang terjadi, ia mengernyitkan dahi menatap kedua bawahannya itu, agar mereka berdua mau berbicara padanya.


"Bos, kami tidak akan bilang dengan siapa-siapa kalau bos ngepet, Sumpah bos!" ucap Samiun sambil memeluk kaki Rendi.


Sontak saja Rendi terkejut dengan pernyataan Samiun, ia menoleh ke arah Novi, gadisnya itupun terlihat tersenyum getir, karena bawahannya begitu bodoh.


"Siapa yang ngepet?! Astaga kalian ini!" bentak Rendi.


Samiun mendongak menatap Rendi, "tadi Mbak bos bilang gitu, kami akan di jadikan tumbal katanya."


"Lagi pula setanpun mana ada yang mau dengan kalian!" timpal Novi ketus.


"Oh ... bercanda yah!" ucap Samiun dan Sengkuni bersamaan sambil saling menatap satu sama lain.


Rendi dan Novi menghela napas, mereka tidak tahu otak Samiun dan Sengkuni itu sebenarnya sebesar apa, sehingga pemikirannya begitu lurus sekali.


"Sudah, kembali banyu mereka sana!" perintah Rendi pada keduanya.


"Baik bos!" jawab keduanya yang langsung berdiri dan membantu tukang becak yang sedang menurunkan barang-barang.


Rendi dan Novi kembali menghela napas, mereka berdua saling menatap kemudian terkikik geli bersamaan, karena tingkah konyol Sengkuni dan Samiun sudah di luar nalar.

__ADS_1


"Ren, apa mereka benar-benar preman?" tanya Novi yang masih sedikit tertawa.


"Entahlah, aku juga tidak yakin dengan hal itu, mereka terlalu polos untuk jadi preman, tapi anehnya kadang tingkah mereka tidak seperti itu." jawab Rendi yang juga bingung dengan para bawahannya.


"Kamu benar juga yah, Harisman juga kadang lugu dan idiot, tapi dia juga kadang dewasa dan bijaksana, apa mereka cuma berpura-pura saja?" tanya Novi penasaran.


"Aku juga tidak tahu, biarkan sajalah, lagi pula yang penting mereka mau merubah hidup mereka menjadi lebih baik lagi." jawab Rendi sambil menggendikkan bahu.


Novi mengangguk setuju dengan ucapan Rendi, jika ada orang yang mau berubah menjadi lebih baik lagi, tentu harus di dukung, jangan malah mengolok-oloknya, yang ada malah nanti kena mental dan selamanya akan terjerumus di kehidupannya yang buruk.


Setelah semua barang-barang belanjaan sudah dimasukan ke dalam ruko, Rendi membayar ongkosnya dua kali lipat dari ongkos biasanya, tentu kedua tukang becak itu sangat berterimakasih kepada Rendi.


Selepas itu mereka menutup ruko kembali dan kembali ke kontrakan Rendi, untuk mengambil motor Novi dan mengantarnya pulang ke rumahnya.


Rendi tidak langsung pulang setelah mengantar Novi, ia mengendari motornya ke lapangan karang birahi untuk menyelesaikan masalahnya dengan orang-orang yang berani mengeroyok Harisman dan bawahannya.


Rendi sengaja tidak memberitahu Harisman dan bawahannya, karena ia yakin bisa menghadapi mereka seorang diri, mengingat dirinya punya tubuh darah yang tidak akan membuat dirinya terluka sama sekali.


Di lapangan karang birahi, terlihat Reno dengan teman-temannya dan geng motor yang memukuli Harisman sedang berkumpul di sana.


"Kamu yakin bos, dia akan kemari?" tanya salah satu bawahan Reno.


"Benar bos, aku juga tidak yakin kalau dia akan datang, palingan dia sedang ketakutan bersembunyi di kolong meja." timpal bawahan lainnya.


"Benar itu, hahahaha ...."


Mereka semua tertawa terbahak-bahak, karena yakin kalau Rendi tidak akan datang, tapi saat mereka sedang tertawa, sebuah lampu motor menyoroti mereka yang sedang berkumpul di pinggiran lapangan.

__ADS_1


"Wah, wah, wah, nyalinya gede juga." ucap Reno sambil menyeringai.


__ADS_2