Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Kembali


__ADS_3

Mungkin Rendi memang memiliki tubuh Dewa yang memiliki ketahanan luar biasa, bahkan bisa menyembuhkan dirinya sendiri dengan luka separah apapun, asalkan jantungnya tidak hancur. Namun, di sisi lain ia masih memiliki sebagian sisi manusianya.


Jika ada yang bilang kalau Rendi seharusnya memiliki kepekaan terhadap bahaya itu memang benar adanya, tapi itu tidak bisa mencakup jarak yang jauh, mengingat sebagian tubuhnya masih manusia biasa dan dia bukan Dewa itu sendiri yang bisa melihat seluruh alam semesta dengan kemampuannya.


Kemampuan Rendi semuanya masih terbatas, meskipun sudah diluar nalar manusia, artinya Rendi masih memiliki sisi lemah dalam dirinya, termasuk perasaannya yang menjadi titik paling lemahnya.


...***...


Mobil Rendi sampai di kota Ketanggungan. Wajah Sulis langsung berseri-seri ketika melihat kota yang tidak asing lagi, karena dekat dekat kampung Karbal.


"Ren, kita beli oleh-oleh di pasar dulu," pinta Sulis manja.


Rendi mengangguk. "Rohis, nanti dipertigaan depan, kita masuk pasar dulu!" perintahnya kepada sang sopir.


"Baik bos!" jawab Rohis mantap.


Ketiga sampai dipertigaan yang Rendi maksud, Rohis langsung membelokkan mobilnya kearah pasar. Ia mencari parkiran untuk menaruh mobilnya.


Rendi, Sulis dan Mei Ning turun dari mobil ketika sudah diparkiran. Rohis tidak ikut mereka bertiga, ia tetap di mobil sendirian.


Mei Ning langsung merangkul Rendi ketika berjalan ke pasar, membuat semua pria yang ada di pasar menatap Rendi dengan iri.


Bagaimana mereka tidak iri, Mei Ning sosok wanita Chinese yang cantik. Wajahnya bisa dikatakan mirip artis China, di tambah tubuhnya yang proposional. Mana bisa pria yang berpikiran mesum mengabaikan kecantikan seperti itu.


Apa lagi ketika Mei Ning merangkul Rendi, Sulis juga tidak mau kalah, gadis yang kecantikannya sebelas dua belas dengan Mei Ning itu juga melakukan hal yang sama dengannya.


Rendi menghela napas berat, padahal ia tidak mau jadi pusat perhatian, tapi kedua wanitanya itu seolah tidak peduli sama sekali dengan hal itu.

__ADS_1


"Kita mau beli apa?" tanya Rendi kepada Sulis.


"Emm... buah-buahan sama makanan kesukaan Ayah," jawabnya yakin.


Rendi mengangguk mengerti, ia yang sudah tinggal dengan Pak Kosim cukup lama, tentu tahu dengan makanan kesukaan calon mertuanya tersebut.


Merekapun berbelanja ke pasar dengan cukup senang. Mei Ning dan Sulis tampak menikmati berbelanja dengan tawar menawar di pasar tradisional tersebut, walaupun Mei Ning tidak mahir bahasa Jawa, tapi ia menggunakan bahasa Indonesia sudah sangat lancar.


"B-B-Bos Re-Re-n-di!" tiba-tiba terdengar suara gagap menegur Rendi.


Rendi yang merasa tidak asing dengan suara itu, ia langsung menoleh. "Ajis, Lehor!" serunya terkejut.


"Bos, kenapa tidak bilang mau pulang?" tanya Lehor yang langsung menghampiri Rendi sambil menentang barang belanjaan mereka.


"Iya, aku juga pulang mendadak ini, kalian sedang apa di sini?" tanya Rendi memastikan.


Rendi mengangguk mengerti. "Bagaimana kabar kalian semua?"


"B-B-Baik B-B-os!" jawab Ajis bersemangat.


Rendi tersenyum simpul. "Baguslah kalau begitu, nanti malam aku akan ke kedai, kalian kumpulkan semuanya."


"Siap Bos!" jawab Lehor mantap.


Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, kedua bawahannya itu pamit undur diri, karena mereka sudah selesai berbelanja, takutnya belanjaan mereka sedang ditunggu.


Rendi tidak mempermasalahkan hal tersebut, ia juga tahu kalau mereka pasti sedang sibuk mengingat kedai mereka cukup ramai.

__ADS_1


"Siapa mereka Ren?" tanya Mei Ning yang sudah selesai belanja bersama Sulis.


"Mereka bawahan Rendi, Kak Mei," jawab Sulis.


"Oh...." Mei Ning mengangguk mengerti.


Rendi tersenyum. "Sudah belanjanya?"


Sulis mengangguk mantap, mereka pun langsung kembali ke mobil setelah selesai berbelanja. Rohis bergegas membantu membawa barang belanjaan untuk dimasukkan ke dalam mobil.


Ketika semuanya sudah di masukkan ke mobil, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke kampung Karbal.


Awalnya Rendi merasa senang bisa melihat kampung halamannya lagi saat mobil sudah mulai masuk wilayah kampung Karbal. Namun, ia sedikit tercengang ketika melihat sosok-sosok yang tidak bisa manusia pada umumnya lihat.


Apa-apaan ini? Kenapa aku jadi bisa melihat sosok-sosok itu, padahal ini siang hari.


Dalam hati Rendi bingung, padahal di Jakarta ia tidak melihat sosok hantu sekalipun, tapi saat masuk wilayah kampung Karbal, ia mulai melihat sosok hantu penjaga tempat-tempat tertentu.


Sebenarnya hal tersebut sebenarnya wajar saja, karena Rendi memiliki mata Dewa, di tambah kampung Karbal orang-orangnya masih percaya dengan sosok mahluk astral, dan juga ia mendapatkan Sistem dari kampung tersebut. Artinya semua yang ia lihat merupakan keadaan sebenarnya yang sekarang ada di dalam tubuhnya.


Rendi mulai merinding ketika melihat sosok hantu tersebut ada yang terbang kearah mobil. tampak hantu tersebut duduk di atas mobil sambil kakinya bergelantungan di samping mobil tempat Rendi berada.


"Halo, lama tidak bertemu tampan," tiba-tiba sosok hantu itu menyapa.


"Brengsek!"


Prang

__ADS_1


Rendi yang terkejut reflek memukul kaca mobil hingga hancur berkeping-keping, sontak saja kedua wanita Rendi dan Rohis terkejut. Rohis langsung menepikan mobilnya, karena takut ada apa-apa dengan bosnya.


__ADS_2