
Rendi yang sudah melepaskan rindunya kurang lebih satu jam di makam, ia pulang saat hari menjelang petang.
"Ren, kamu habis dari makam nenekmu?" tanya Pak Kuncen yang kebetulan lewat, karena rumahnya memang di samping makam.
"Eh ... iya pak, terimakasih karena bapak sudah mau merawat makam keluarga saya." jawab Rendi sopan.
"Tidak perlu berterimakasih, itu sudah tugas Bapak." ucap Pria sepuh tersebut sambil tersenyum.
Rendi merogoh sakunya, ia mengambil uang dua ratus ribu dan memberikannya pada Pak Kuncen.
Pak Kuncen berusaha menolak pemberian Rendi, tapi bocah SMA itu tetap memaksanya agar Pak Kuncen mau menerimanya.
"Ambil saja pak, saya juga jarang kemari, itu tanda terimakasih saya buat Bapak." ucapnya sopan.
"Ren, tapi ini sangat banyak, kamu bukannya butuh buat biaya sekolah?" Pak Kuncen masih berusaha menolak.
Rendi tersenyum. "saya sekarang sudah bekerja Pak, untuk biaya sekolah saya masih ada, itu buat Bapak."
"Kamu ini yah, Bapak salut sama kamu, walaupun hidup kamu dulu susah, tapi sekarang sepertinya sudah sukses." Pak Kuncen menepuk-nepuk bahu Rendi.
"Iya Pak, saya juga bersyukur di beri kemudahan mencari riszki."
"Ya sudah, ini Bapak terima." Pak Kuncen mengantongi uang pemberian Rendi.
Rendi mengangguk. "kalau begitu saya pamit pulang Pak, sudah mulai petang soalnya."
Rendi menyalami pria sepuh tersebut sebelum pulang, Pak kuncen tersenyum melihat Rendi yang masih seperti dulu.
__ADS_1
Pak Kuncen kemudian pergi dari tempat itu setelah Rendi sudah tidak terlihat lagi.
...***...
Perasaan Rendi sedikit lega setelah ia menangis di makam orang tuanya, walaupun hanya berbicara sendiri, entah kenapa Rendi merasa lebih damai.
Rendi sampai di kontrakannya, ia mengernyitkan dahi saat Novi dan Sulis sedang menunggunya di kontrakan.
"Kamu habis kemana sih Ren?!" tegur Novi sambil menggembungkan pipinya.
"Iya, kami menunggu kamu di sini lama! Hp kamu juga gak aktif." Sulis juga berekspresi sama seperti Novi.
Rendi menghela napas. "aku sengaja mematikan ponselku, kenapa kalian malah menunggu? Seharusnya kalian tidak usah menungguku."
"Ih ... aku mau jalan sama kamu, mulai besok kan, kamu sudah ke Jakarta." ucap Novi manja.
"Aku juga Ren." jawab Sulis yang mengikuti Novi.
Rendi membuka pintu kontrakannya lalu masuk ke dalam, Novi dan Sulis mengikuti dari belakang. Kedua wanita itu terlihat tidak mau pulang walaupun hari sudah petang.
Rendi masuk ke kamar mandi, cuci muka, tangan dan Kaki, sebelum ia memasak air untuk membuat Mie rebus.
"Biar aku saja Ren." Sulis mengambil alih Rendi yang sedang memasak air.
Novi juga ikut membantu Sulis, Rendi yang melihat tingkah kedua gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Rendi duduk di tempat tidurnya, ia menyalakan ponselnya yang semenjak mau pergi di matikan, benar saja di sana banyak pesan dari kedua gadis itu yang masuk.
__ADS_1
"Ren, pakai telor gak?" tanya Sulis dari dapur.
"Iya, pakai dua yah, aku lapar." jawab Rendi jujur.
Sulis dan Novi dengan semangat membuatkan Mie rebus untuk Rendi, jika para jomblo melihat itu, pasti mereka akan menangis iri.
Bayangkan saja, hanya membuat mie rebus saja, kedua gadis cantik itu berebut, kalau di kasih sosis bakal berebut tidak kayaknya yah? Eh....
Mie rebus matang dan langsung di sajikan untuk Rendi, ternyata keduanya juga sama-sama buat Mie rebus juga, karena mereka memang tujuannya akan pergi makan bersama Rendi.
"Ren, kata Ayah kalian paling cepet pulangnya seminggu, apa benar?" tanya Novi sambil memakan mie rebusnya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu juga, tapi aku juga mau mengecek perusahaan dan properti ku yang ada di Jakarta, mungkin benar kata Ayahmu." jawab Rendi santai.
"Kamu punya perusahaan di Jakarta juga?" tanya kedua gadis itu bersamaan.
Rendi mengangguk." perusahaan kecil."
Novi dan Sulis saling menatap, mereka sekarang benar-benar heran dengan Rendi, semakin lama keduanya mengenal Rendi, kekayaan Rendi seolah semakin bermunculan.
Kalau Novi mungkin masih percaya dengan Rendi, sementara Sulis yang melihat kondisi Rendi sejak masih kecil, tentu ia benar-benar terkejut dengan kondisi Rendi yang sekarang.
Mau di bilang ngepet, tapi Rendi punya perusahaan? Mana ada Babi ngepet yang dapatnya Perusahaan, sehingga hal tersebut membuat Sulis bingung, ia seperti tidak mengenal Rendi saja.
"Ren, tapi kamu beneran pulang kemari lagi yah." Novi menghentikan makannya.
"Iya Ren, kami bakal kesepian jika tidak ada kamu." timpal Sulis.
__ADS_1
"Kalian ini kenapa sih? Aku sudah bilang bukan, kalau aku pasti kembali, sudahlah jangan bahas itu terus." jawab Rendi melanjutkan makannya.
Rendi memang berniat melihat perusahaan dan Rumahnya, jadi kemungkinan ia akan cukup lama di Jakarta. Untuk masalah kembali atau tidak, Rendi pasti kembali, karena di Jakarta ia tidak memiliki siapa-siapa.