
Ketika mereka berhenti menembak. Betapa terkejutnya Mei Ning dan Malik ketika melihat Rendi yang terkena berondongan tembakan mereka berdua.
"Astaga Rendi!" Mei Ning bergegas menghampiri Rendi yang langsung tumbang didekat mayat para pembunuh bayaran yang ia bunuh tadi untuk menyelamatkan Malik dan Mei Ning.
"Tuan Rendi!" Malik melemparkan senapan sergap ditangannya dan langsung menghampiri Rendi.
Mei Ning memapah Rendi yang tampak berlumuran darah, tapi perlahan lukanya beregenerasi. Wanita itu merasa sangat bersalah karena telah menembaki Rendi.
"Kenapa kamu tidak memberikan kode, bodoh!" bentak Mei Ning sambil menitihkan air matanya.
Rendi tersenyum. "Aku tidak apa-apa, sebentar lagi juga sembuh," jawabnya lirih.
"Tetap saja kamu terluka," ujar wanita itu.
"Tuan Rendi maafkan aku," ucap Malik tidak berdaya.
Rendi menghela napas. "Sudahlah, aku tidak apa-apa. Lebih baik kamu hubungi seseorang untuk membersihkan tempat ini dan kita akan memburu Danton!" perintah Rendi langsung.
Malik mengangguk mengerti. Ia bergegas naik ke atas, meninggalkan Rendi dan Mei Ning berduan di sana.
Mei Ning tiba-tiba mengecup bibir Rendi. Membuat pria yang di kecupnya tersebut mengernyitkan dahi.
"Bisa-bisanya kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan?" tegur Rendi lembut.
Mei Ning menghapus air matanya, ia kemudian tersenyum. "Kalau nanti kamu tidak akan mau melakukannya," jawabnya pura-pura bodoh.
"Kamu ini, kita sedang dalam kondisi bahaya." tegur Rendi tidak berdaya.
Mei Ning menjulurkan lidahnya, ia malah menggoda Rendi dengan mengecup bibirnya berkali-kali, membuat pria itu tidak bisa berkata-kata lagi.
"Sudah cukup!" Rendi beranjak dari pangkuan Mei Ning, karena lukanya sudah pulih.
__ADS_1
Mei Ning tersenyum simpul. "Mau membalas Ren?" tanyanya menggoda.
"Tidak!" jawab Rendi ketus yang langsung berdiri dan pergi dari ruang bawah tanah tersebut. Mei Ning mengekorinya dari belakang.
Kenapa aku tidak kepikiran untuk melukai Rendi dulu, baru setelah itu aku bisa memperlakukan tubuhnya sesukanya, toh tubuhnya bisa beregenerasi? Kamu memang pintar Mei.
Dalam hati Mei Ning memiliki ide gila agar Rendi mau menyentuh tubuhnya, ia pikir dengan memaksa Rendi melihat tubuh bugilnya, mungkin pria itu akan menjadikan ia sebagai wanitanya.
Rendi yang mendengar ide gila Mei Ning, ia mengerutkan kening sambil berhenti melangkah.
Mei Ning yang sedang membayangkan angan-angan gilanya, tidak melihat Rendi, hingga ia menabrak Rendi.
"Aduh," pekiknya ketika jatuh terduduk.
Rendi menatap Mei Ning dengan tajam, sehingga membuat wanita itu yang baru mendongak menatapnya ketakutan.
Mei Ning tahu kalau tatapan tersebut layaknya Rendi akan membunuh musuhnya, karena itulah ia begidik ngeri saat melihat hal tersebut.
Mei Ning menelan ludah, ia terkejut ketika Rendi mengatakan hal tersebut. Membuat tubuhnya begidik negeri membayangkan pipa besi panas masuk ke dalam tubuhnya.
Rendi mendengus kesal dan meninggalkan wanita yang masih tertegun di sana, akibat perkataan nya. Mei Ning yang baru tersadar ia dengan cepat mengejar Rendi.
...***...
Sementara itu di sebuah Bar. Danton dan para Mafia lainnya sedang merayakan kemenangannya. Mereka pikir telah berhasil membunuh Rendi dengan ratusan pembunuh bayaran yang mereka semua.
"Bersulang untuk kemenangan kita! Hahahaha...." Danton mengangkat gelasnya.
"Bersulang!"
"Bersulang!"
__ADS_1
Timpal para Mafia itu yang merasa sudah menang. Mereka semua tentu sangat percaya diri. Mengingat para pembunuh bayaran yang menerima misi sudah tingkat internasional.
"Idemu memang brilian tuan Danton! Dengan begini tidak ada lagi yang akan mengganggu kita!" ucap salah satu diantara mereka.
"Benar, walaupun keluar duit banyak, tapi itu sepadan dengan hasilnya!" timpal yang lainnya.
"Kalian terlalu memuji, bagi kita mencari uang itu hal yang mudah! Selama negara ini masih berada digenggaman kita, maka uang akan tetap mengalir deras di saku kita," ujar Danton percaya diri.
"Hahahaha... bersulang!"
Mereka semua tampak sangat senang, di temani para wanita penghibur, pria-pria rakus dengan harta itu tidak memperdulikan benar salahnya kehidupan. Bagi mereka dengan mempunyai uang, kehidupan mereka akan sangat damai. Apalagi di Negara Rendi, hukum bisa dibeli dengan uang, sehingga mereka semua tentu tidak takut sama sekali dengan hukum di sana.
Miris memang, tapi kenyataannya hukum di Negara Rendi tumpul ke atas, tajam kebawah, hal tersebut sudah menjadi rahasia umum. Banyak orang yang mengetahuinya, tapi walaupun sudah bersuara, tetap saja tidak ada yang memiliki niat untuk merubah hal tersebut.
Rendi memang berencana untuk merubah kenyataan tersebut, ia tidak mau negaranya semakin lama semakin hancur. Karena itulah ia memburu para mafia, agar antek-antek mereka semua nantinya bisa ia lenyapkan dengan mudah.
Ketika Danton dan yang lainnya masih sedang bersenang-senang, tiba-tiba seorang pengawal Danton masuk dengan tergesa-gesa.
"Tuan Gawat!" serunya dengan napas terengah-engah.
Sontak saja semua orang yang ada di sana berhenti berbicara dan menoleh ke arah bawahan tersebut.
Danton mengerutkan keningnya. "Ada apa!" tanyanya dengan suara tinggi.
"Tuan, anda harus pergi dari sini! Semua pembunuh bayaran yang anda sewa sudah tewas, bahkan Rocky dan Sryd juga tewas!" lapornya yakin.
"Apa! Kamu jangan bercanda bodoh!" raung Danton marah.
"Tuan, saya serius! Lebih baik anda cepat pergi dari negara ini!" ucap Pria itu lagi dengan yakin.
Seketika tempat yang tadi penuh dengan canda tawa itu, berubah menjadi tempat yang sangat mencekam.
__ADS_1