
Malam harinya Rendi terbangun, ketika Sebastian mengetuk pintu kamarnya. Ia mengucek matanya dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh.
"Tuan, makan malam dulu!" Sebastian sedikit teriak dari luar pintu kamar Rendi.
Rendi beranjak dari tempat tidur, menyahuti teriakan Sebastian. "Ya, aku mandi dulu!"
Sebastian yang mendengar hal tersebut, ia berhenti berteriak dan meninggalkan kamar Rendi.
Selang beberapa saat, Rendi yang sudah selesai mandi. Ia turun ke bawah untuk makan malam.
Sesampainya di ruang makan, ia melihat Sasa sudah ada di sana dengan memakai pakaian santai dengan kacamata di lepas dan rambut yang terurai.
"Bagaimana, nyaman istirahatnya?" tanya Rendi sembari duduk.
Sasa terkejut saat Rendi berbicara, karena daritadi ia fokus melihat berbagai makanan mewah yang di sajikan pelayan Rendi.
"Eh... nya-nyaman bos!" jawabnya gugup.
__ADS_1
Rendi tersenyum. "baguslah kalau begitu, ayo makan!" ajak Rendi lembut.
Sasa mengangguk, ia menatap seksama bosnya itu yang masih berumur belasan tahun itu, ia tampak sedikit tertegun melihat tangan Rendi yang kekar, karena Rendi hanya mengenakan kaos oblong.
Gila nih berondong, masih kecil tapi tubuhnya kekar seperti itu, apa dia sering ngegym yah?
Rendi tentu saja mendengar saat Sasa berbicara dalam hati berkat kemampuan membaca pikiran yang di berikan Sistem.
Rendi hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum simpul.
Sasa sesekali melirik-lirik Rendi ketika ia sedang menyantap makanannya, walaupun ia sempat tidak suka dengan Rendi, tapi setelah sedikit mengenalnya, ia kurang lebih tahu kalau Rendi orang yang baik.
Sasa hanya mengangguk, karena mulutnya penuh dengan makanan, jarang-jarang ia bisa makan enak seperti itu.
...***...
Sementara itu, Fang Guan yang merasa di permalukan Rendi karena ia harus menyerahkan semua proyeknya ke Spin Konstruksi. Ia sudah berada di negaranya, menemui seorang pembunuh yang sangat terkenal di Tiongkok.
__ADS_1
Mereka bertemu bukan di kafe ataupun restoran, melainkan bertemu di sebuah tempat sepi yang ada di pinggiran kota Guangzhou.
Terlihat Fang Guan yang mengenakan mantel tebal, topi dan kacamata sambil menghisap rokok sedang duduk dengan gelisah di tempat tersebut, karena orang yang ia tunggu belum datang-datang juga.
"Jangan membalik badan, serahkan foto dan uang muka sesuai perjanjian," tiba-tiba terdengar suara di belakangnya.
Fang Guan dengan patuh menyerahkan selembar foto Rendi dan uang yang ada di amplop coklat.
Pembunuh bayaran tersebut melihat uangnya sekilas untuk memastikannya, di dalam amplop juga ada tiket pesawat untuk terbang ke Indonesia.
"Bagus, sesuai dengan perjanjian, aku akan terbang ke sana besok, saat kamu sudah mendengar berita kematiannya, kamu kirimkan uangnya di sini lagi!" perintah orang tersebut lugas.
Fang Guan mengangguk, hanya dalam sekejap mata orang tersebut sudah menghilang dari tempat itu.
Fang Guan yang sudah tidak merasakan hawa kehadiran orang tersebut, ia menghela napas lega, mengambil tisu dan mengelap dahinya yang sedari tadi berkeringat dingin.
"Benar kata orang-orang, ternyata menemuinya saja sudah membuat diriku sangat ketakutan seperti ini, tapi tidak apalah, setidaknya aku akan bisa menghabisi anak kecil yang sok berkuasa itu! Rendi Murdianto bersiaplah menemui ajalmu!" ucap Fang Guan sambil menyeringai.
__ADS_1
Pria itu bergegas pergi dari tempat tersebut, karena ia tidak mau ada orang yang melihatnya berurusan dengan seorang pembunuh.