
Hari berganti malam, Sera pun pamit pulang. Rendi menyuruh Rohis untuk mengantar Ibunya pulang.
Setelah Ibunya sudah pulang dari rumahnya, Rendi bergegas masuk ke dalam mencari Mei Ning yang seharian itu membuatnya marah dengan wajah yang begitu dingin.
Sayangnya Rendi tidak menemukan Mei Ning dimanapun, hingga ia masuk ke dalam kamar, terlihat Mei Ning yang sudah mengenakan pakaian serba hitamnya dan berdiri di balkon kamar.
"Aku tahu kamu marah sama aku karena telah lancang merayu Ibumu, " Mei Ning menghela napas panjang. "Jujur setelah sekian lama aku hidup sendirian, ini pertama kalinya merasakan kehangatan kasih sayang dari seseorang, tapi aku sadar kalau diriku bukanlah orang yang bisa mengubah pendirian mu, beberapa hari ke depan kamu akan mendengar berita kematian Fang Guan, terimakasih Rendi Murdianto."
Mei Ning tersenyum kepada Rendi, kemudian melompat dari balkon. Ia bagaikan ninja saja yang bisa meringankan tubuh.
Rendi melihat ke bawah, Mei Ning berlari sangat cepat setelah ia sampai di tanah, kemudian menghilang saat melompat dari pagar rumahnya.
Pria yang baru genap berusia delapan belas tahun itu menghela napas lega, akhirnya orang yang mirip dengan Fina itu pergi dari rumahnya.
"Terserah dia mau berbuat apa di luar sana, kalau sampai nanti datang kemari lagi, aku hajar dia!" gumam Rendi geram.
Rendi masuk ke dalam kamarnya, baru saja ia merasa lega karena Mei Ning telah pergi, urat-urat di kepalanya terlihat menonjol wajahnya menggelap ketika melihat segitiga Mei Ning yang penuh cairan kental, berada di tempat tidurnya.
"Mei Ning!" teriak Rendi geram.
...***...
Hari berganti hari, berita kematian Fang Guan benar-benar di rilis, karena orang itu merupakan pengusaha yang terkenal di Indonesia. Rendi yang mendengar berita itu, ia hanya tersenyum getir, ternyata Mei Ning benar-benar melakukan tugasnya. Namun, setelah berita kematian Fang Guan, Mei Ning sudah tidak menunjukkan batang hidungnya lagi di hadapan Rendi.
__ADS_1
Kekuasan Rendi tidak terbantahkan lagi. Sistem menjadikan Rendi orang yang terkenal di Indonesia hanya dalam beberapa bulan belakangan. Perusahaannya semakin menjamur di seluruh Indonesia, bahkan di Eropa juga, ia mulai memiliki perusahaan selain Spin Internasional Industri.
Tiga bulan telah berlalu....
Novi sudah mendaftarkan dirinya di Universitas yang Rendi maksud, tapi sayangnya pria itu tidak melanjutkan studinya, mengingat dirinya sekarang sudah semakin sibuk. Karena perusahaannya yang semakin bertambah.
Sementara Sulis juga kebetulan mendapatkan kerjaan di suatu perusahaan yang ada di Jakarta, berkat rekomendasi dari pamannya yang ada di Jakarta.
Novi tinggal di Apartemen orang tuanya, ia terlihat baru akan berangkat ke Universitas.
"Niat hati ingin terus bersama Rendi, eh malah dia tidak masuk Universitas, nana rumahnya jauh dari sini," gerutu Novi sambil menghela napas berat.
Novi berjalan dengan langkah gontai, ia turun dari Apartemen menggunakan Lift, ketika ia keluar dari Lift terlihat seorang pria dengan pakaian sudah rapi menunggunya di depan Lift.
"Rendi!" seru Novi sangat senang ketika melihat Rendi datang kepadanya.
"Kamu jahat ih... katanya mau kuliah, nyatanya kamu tidak kuliah sama sekali," gerutu Novi dalam pelukan Rendi.
"Maaf Nov, pekerjaan aku semakin bertambah, sepertinya aku tidak sempat untuk kuliah," ucap Rendi sambil memeluk gadis yang sudah ia rindukan itu.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu bisa tahu Apartemenku?" tanya Novi sambil mendongak menatap wajah Rendi dalam pelukannya.
"Ayahmu yang memberitahu aku, entah kenapa dia malah memberikan alamat apartemen kamu, apa dia tidak takut anaknya aku culik?" goda Rendi pada gadis itu.
__ADS_1
"Ih... apaan sih kamu," rajuknya manja.
Rendi melepaskan pelukan Novi. "Ya sudah aku antar kamu ke Universitas, oh iya sekalian aku akan memberitahu kamu, Hendri akan mengantar dan menjemput kamu pulang ke Universitas, kamu meminta nomor teleponnya saja, biar kalau butuh dia segera hubungi dia," ucap Rendi sambil mencubit hidung gadis itu gemas.
Tentu saja Novi sangat senang, baru saja ia memikirkan cara agar bisa ke rumah Rendi, tapi Pria itu malah memberikannya seorang sopir.
Kamu memang selalu tahu apa yang aku inginkan, Ren. Dengan begini aku bisa main ke rumahnya kapanpun aku mau.
Novi tidak tahu saja kalau Rendi bisa membaca pikiran orang lain, saat itu juga Rendi tersenyum kecut saat mendengar suara hati Novi.
Kamu terlalu berlebihan kepadaku, Nov. Padahal aku selama ini tidak memberikan apapun untuk kamu, tapi ya sudahlah, asalkan dia senang tidak masalah.
Pria itu tersenyum kepada Novi dan menggandeng tangannya pergi ke Mobil, di sana Hendri sudah menunggu.
"Apa kabar Nona Bos?" tanya Hendri ramah sambil membukakan pintu mobil untuk Novi.
"Baik, terimakasih Hendri," jawab gadis itu sambil tersenyum.
Hendri balas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, ia menutup pintu dan bergegas masuk ke dalam mobil, karena Rendi juga sudah masuk ke dalam mobil.
"Hen, seperti yang aku bilang tadi malam, kamu akan mengantar jemput Novi, tapi nanti kamu antar aku dulu ke Spin Property yah!" perintah Rendi lugas.
"Baik bos!" jawabnya tidak kalah lugas.
__ADS_1
Hendri menginjak pedal gas, mobil pun meninggalkan tempat tersebut dengan cepat, untuk mengantar Novi ke Universitasnya.
Novi menatap Rendi penuh dengan kebahagian, siapa yang menyangka kalau pujaan hatinya akan menjemputnya, dalam mimpi pun ia tidak pernah melihatnya.