Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Cerita


__ADS_3

Sementara Novi yang menceritakan semua tentang Rendi dengan Ibunya.


Sulis di rumahnya juga mulai di cecar pertanyaan oleh Ayahnya. Pak Kosim yakin kalau Sulis hanya berbohong ketika mengatakan kalau ia pergi dari siang sampai sore untuk mengerjakan tugas sekolah di temannya.


"Cerita saja sama Ayah, siapa yang kamu temui? Kamu itu wanita, tidak baik main ke rumah lelaki." Pak Kosim mengusap rambut anaknya.


"Beneran Ayah, Sulis cuma main ke rumah temen." elak Sulis.


Pak Kosim menghela napas, "Ayah sudah tahu, kamu menemui Rendi, bukan?"


Sontak saja Sulis terkejut, karena Ayahnya tahu kalau dirinya menemui Rendi, padahal sebisa mungkin, Sulis menyembunyikan semua itu.


Melihat ekspresi Sulis yang panik, Pak Kosim tersenyum, ia mencubit hidung anaknya dengan gemas.


"Kamu ini yah, waktu Rendi tinggal di sini kamu marahin, sekarang dia sudah pergi malah di samperin, jadi orang jangan plin-plan kaya gitu, gak baik."


Sulis hanya bisa menundukkan kepalanya malu, karena ternyata Ayahnya sudah mengetahui kalau ia beberapa hari ini menemui Rendi.


Pak Kosim tidak memarahi Sulis, ia hanya menasehati anaknya itu, agar tidak terlalu berlebihan mengejar Rendi.


Sulis pun mengerti maksud Ayahnya, ia pun menceritakan semuanya tentang Rendi, Pak Kosim kagum dengan Rendi, karena ternyata anak tersebut sudah tidak hidup kesusahan lagi.


...***...

__ADS_1


Ke esokan harinya, di kontrakan Rendi, ia bangun terlebih dahulu, dari bawahannya yang menginap di sana kembali.


Rendi bergegas mandi, karena ia hari ini akan berangkat sekolah, setelah dua hari ia absen.


Setelah sudah rapi semuanya, ia membangunkan Harisman untuk titip kontrakan padanya.


"Ada apa bos?" tanya Harisman sambil menguap.


"Aku berangkat sekolah dulu, kalau kalian mau pergi kunci kontrakannya, dan taruh kuncinya di bawah pintu."


"Iya bos." Harisman yang masih mengantuk, ia kembali merebahkan dirinya lagi di lantai dan kembali terlelap.


Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela napas, ia bergegas berangkat ke sekolah sendirian, karena hari ini entah kenapa Novi tidak datang ke rumahnya.


"Apa ada yang salah denganku?" Rendi melihat-lihat seluruh tubuhnya, ia merasa tidak ada yang aneh sama sekali dengannya.


"Apa cuma perasaanku saja yah?" gumamnya lirih.


Rendi menghela napas panjang, ia tidak memerdulikan lagi teman-temannya yang menatap dirinya, ia masuk ke kelas, membiarkan mereka semua melihatnya. Bagi Rendi itu semua sudah menjadi hal yang biasa untuknya.


Tidak berselang lama, bel pelajaran berbunyi, Bu Lina wali kelas Rendi memasuki ruangannya, ia pun langsung menyapa murid-muridnya.


"Rendi, kamu sudah sehat kembali? Maaf kami tidak bisa menjengukmu," tegur Bu Lina sopan.

__ADS_1


"Ah, tidak apa-apa Bu, lagian aku juga sudah baik-baik saja." jawabnya sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu, dan satu sekolah mengucapkan terimakasih banyak untukmu, karena mau membantu pihak sekolah membayarkan seragam sekolah untuk anak-anak yang tidak mampu." ucap Bu Lina lagi.


"Iya Ren, terimakasih banyak!"


"Aku juga berterimakasih, Ren!"


"Aku juga!"


Semua siswa yang kurang mampu tentu langsung berterimakasih kepada Rendi, karena walaupun cuma seragam sekolah, tapi setidaknya bisa mengurangi beban orang tua mereka.


Rendi terkejut dengan pernyataan teman-temannya, ia sekarang tahu kenapa dari tadi semua temannya banyak yang menatap dirinya.


Rendi hanya membalas dengan senyuman dan anggukan, ia tidak mau terlihat lebih menonjol lagi lebih dari itu.


Setelah semuanya sudah mengucapkan terimakasih, pelajaran pun di mulai. Rendi seperti biasanya belajar dengan sungguh-sungguh, meskipun sudah memiliki uang, tapi ia sadar kalau pendidikan itu sangatlah penting.


Jam pelajaran pertama telah usai, Rendi langsung menuju kantin, ia yang biasanya mengambil tempat duduk seorang diri, kali ini banyak teman-temannya yang mendekat dan duduk bersama Rendi.


Tentu hal tersebut membuat Rendi sedikit terkejut, karena ini pertama kalinya di kerumuni teman-temannya.


Sulis yang melihat itu cemberut, ia ingin duduk bersama Rendi, tapi di sekeliling Rendi sudah penuh oleh teman-temannya yang mulai menjilat Rendi satu-persatu.

__ADS_1


__ADS_2