
Rendi tidak habis pikir, kenapa semua wanita yang dekat dengannya begitu mudah memberikan lampu hijau padanya?
Untung saja Rendi tidak seperti pria hidung belang lainnya, sehingga ia tidak mudah terpancing dengan kenikmatan dunia yang ada di depan matanya.
Rendi kembali ke kamarnya, ia menutup pintu dan menguncinya, karena tidak mau Novi nanti nyelonong masuk begitu saja, bisa-bisa gawat urusannya.
Ia mengambil ponselnya dari saku, kemudian mencari-cari informasi tentang Singapura, negara yang akan ia kunjungi esok hari, karena pertama kalinya ia akan ke sana.
Rendi melihat-lihat tempat yang memungkinkan para mafia berkumpul. "Sepertinya aku perlu membeli laptop, agar bisa mudah mencari data mereka," gumamnya lirih.
Rendi tentu tidak mau gegabah mengambil tindakan, lagi pula ia juga perlu bukti sebelum melakukan eksekusi pada mereka.
Jika berhubungan dengan Mafia, tentu ia akan mengalami pertumpahan darah, apakah Rendi akan siap dengan semua itu? Apakah Rendi akan sanggup melukai atau bahkan membunuh mereka, karena ia secara tidak langsung akan terjun ke dunia gelap?
Tentu Rendi akan siap, ia sudah rela berkorban demi kemakmuran negaranya, pria yang sudah memiliki tekad untuk merubah bangsanya itu sudah berpikir realistis, kalau ia akan siap menghadapi kemungkinan terburuknya.
...***...
Dikamar Novi, ia sedang bersiap menunggu Rendi, karena gadis itu pikir Rendi akan datang ke kamarnya setelah ia memberikan lampu hijau.
Novi malah sudah menyiapkan piyama tipis, transparan berharap Rendi akan menyukainya, bahkan ********** juga ia memakai yang se seksi mungkin.
Gadis itu terlihat sangat gugup menunggu di kamarnya, pintu kamar juga tidak ia kunci.
Satu menit berlalu....
Setengah jam berlalu....
Satu jam berlalu....
__ADS_1
Hingga larut malam berlalu, Rendi tidak kunjung juga datang ke kamarnya, membuat Novi semakin gelisah, mau keluar malu karena piyamanya setipis iman otor saat melihat goyangan cewe-cewe tok tok, tidak keluar Rendi tak kunjung menghampiri kamarnya.
"Ih... kemana sih Rendi!" gerutu Novi kesal, sambil meremas gulingnya.
Novi beranjak dari ranjangnya, ia mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah, ia kemudian mempunyai ide untuk menelpon Rendi.
Satu kali panggilan tidak jawab, dua panggilan baru Rendi mengangkat panggilan Novi.
"Halo...." terdengar suara malas Rendi di seberang telepon.
Sontak saja Novi sangat marah, ia sudah menunggunya daritadi Rendi terdengar seperti bangun tidur.
"Rendi... bodoh!!" teriak Novi yang langsung mematikan ponselnya, mengunci pintu dan langsung berbaring di tempat tidur sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Bodoh, bodoh, bodoh! Rendi bodoh, kenapa sih ada cowo kaya dia, tidak peka sama sekali, Rendi bodoh!" gerutu Novi di dalam kamar dengan raut wajah merah padam.
Novi tentu saja sangat marah, sudah berapa kali ia memantapkan niatnya untuk memberikan yang pertama kepada Rendi, tapi kesiapannya tersebut malah di abaikan Rendi.
Sementara itu di kamar Rendi, Pria itu langsung terbangun ketika Novi berteriak padanya di ponsel karena terkejut.
Rendi mengernyitkan dahi sambil menatap ponselnya. "Kenapa dia ini? Kok marah-marah tidak jelas?" gumam Rendi heran.
Pria itu melihat jam di ponselnya, ternyata masih pukul 1 dini hari. ia menggendikkan bahunya kemudian kembali melanjutkan tidurnya.
...***...
Ke esokan harinya....
Rendi sedang berada di meja makan, Novi baru muncul setelah lama Rendi menunggu.
__ADS_1
"Pagi Nov, tidur kamu nyenyak tidak?" tanya Rendi lembut.
"Bukan urusan kamu!" jawabnya ketus, sambil mengambil sarapan yang sudah di siapkan Sebastian dengan serampangan.
Rendi mengerutkan kening, ia berpikir kemarin gadis itu baik-baik saja, tapi hari ini terlihat sangat marah dengannya. Kemudian ia teringat ketika Novi menelponnya semalam, dan ia pun tahu apa penyebabnya.
Rendi menghela napas. "Kamu marah Nov?"
"Tidak!" jawab Novi ketus.
"Kamu marah dengan orang yang mau menjaga kesucianmu?" tanya Rendi lagi.
Uhuk... Uhuk....
Novi langsung tersedak roti yang ia makan, Rendi tersenyum, ia dengan sigap mengambilkan gelas susunya, beranjak dari duduk dan memberikannya pada gadis itu.
"Pelan-pelan kalau makan," ucap Rendi sambil menepuk lembut punggung Novi.
Novi menenggak satu gelas susu sampai habis, baru ia bernapas lega dan menoleh ke arah Rendi.
Cup
Baru saja Novi mau berbicara, Rendi sudah mengecup bibirnya dengan lembut walau hanya sekilas.
"Kalau hanya sekedar melakukan itu, aku masih bisa Nov, tapi kalau untuk lebih dalam, aku sudah janji dengan pamanmu waktu itu, kamu ingat kan?" tanya Rendi sambil kembali duduk di kursinya.
Novi menundukkan kepalanya malu, wajahnya merah merona, karena ternyata pria itu benar-benar menepati janjinya.
"Ayo lanjutkan makannya, nanti aku antar kamu ke kampus, baru setelah itu aku berangkat ke luar negri," ucap Rendi lembut.
__ADS_1
Novi mengangguk lirih, wanita itu benar-benar kehilangan kata-kata, ia merasa seperti gadis bodoh yang tidak memiliki harga diri sama sekali.