
Baru saja pulang ke Jakarta, Rendi di buat pusing oleh wanita dewasa yang satu itu, entah karena apa Fina terus saja mengikutinya dari tadi, dari makan hingga sekarang sedang duduk di ruang keluarga.
"Kamu gak kuliah Fin?" tanya Rendi tiba-tiba.
Fina menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku hari ini mau bersamamu."
Fina tersenyum ke arah Rendi, tapi bukannya Rendi senang, ia malah semakin tidak tertarik dengan wanita itu.
Rendi pikir Fina wanita dewasa yang memiliki pemikiran luas, nyatanya ia hanya anak orang kaya yang suka bermainnya saja, sehingga dirinya mulai jengah dengannya.
"Fin, aku capek, mau istirahat. Lebih baik kamu pulang saja dulu," ucap Rendi sambil beranjak dari duduknya.
"Kamu istirahat saja, aku tunggu kamu di sini," jawab Fina sambil menyalakan TV seperti rumahnya sendiri.
Rendi menghela napas, tidak peduli Fina mau berbuat apa di rumahnya. Ia meninggalkan Fina seorang diri di ruang keluarga dan masuk ke kamarnya.
Rendi sudah bertekad untuk memperbesar bisnisnya, jadi ia tidak pernah berpikir untuk bersenang-senang dengan wanita terlebih dahulu, bahkan mungkin kuliah pun, Rendi akan mengabaikannya, untuk mengurus bisnisnya.
Tekad Rendi sudah bulat, ia ingin mengubah negara tercintanya menjadi negara yang bersih dari tikus-tikus berdasi, ia sudah membulatkan tekad untuk itu.
"Biarlah, mereka semua mau berkata apa, lebih baik aku fokus dulu dengan Bisnisku," ucap Rendi sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya.
Tidak berselang lama Rendi terlelap, ia tertidur dengan pulas, hingga menjelang petang ia baru terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Rendi mengerjapkan mata, ia beranjak dari tidurnya, melihat jam dinding, yang menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit sore.
"Aku tidur lama juga," Rendi ke kamar mandi membasuh wajahnya kemudian turun dari kamar.
Tidak terlihat lagi batang hidung Fina, ia menghela napas lega, karena ia berpikir kalau Fina sudah pulang ke rumahnya.
"Sebastian!" panggil Rendi lantang.
Dengan tergopoh-gopoh, pria paruh baya itu bergegas menghampiri Rendi saat mendengar tuannya itu berteriak.
"Iya tuan saya disini, ada perlu apa?" tanya Sebastian sopan.
"Kemana Fina?" tanya Rendi memastikan.
Rendi mengangguk mengerti. "Buatkan aku kopi, sekalian camilan jangan lupa."
"Baik tuan, saya ke belakang dulu," pamit Sebastian sopan.
Rendi duduk di ruang keluarga, ia melihat ponsel, ada puluhan pesan dari Novi, Sulis dan para bawahannya.
Rendi membuka satu-persatu isi pesan tersebut dan membalasnya. Ia tertarik pesan dari Sulaeman yang mengatakan ada partner bisnis dari luar negeri yang ingin bertemu dengannya.
Tanpa ragu Rendi menelpon Sulaeman, hanya hitungan detik telepon pun langsung di angkat.
__ADS_1
"Halo tuan Murdianto," sapa Sulaeman dari seberang telepon.
"Ya, Partner bisnis dari luar negeri yang mau bertemu denganku, kapan?" tanya Rendi tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Sebenarnya nanti malam tuan, sekalian makan malam, tapi kalau tuan keberatan, tidak perlu hadir juga tidak apa-apa, biar saya yang urus," jawab Sulaeman lugas.
"Aku mau menemuinya, aku baru melihat pesanmu, kamu kirim saja lokasi pertemuannya, nanti aku pergi ke sana," ucap Rendi santai.
"Baik tuan nanti saya kirimkan lokasi tempatnya." jawab Sulaeman yakin.
"Oh iya, tolong kamu Carikan asisten buat saya, cari yang lugas dan cerdas, jangan yang mencla-mencle, aku tidak suka orang seperti itu!" perintah Rendi pada bawahannya.
"Siap tuan, saya akan mencarikan Asisten untuk anda, secepat mungkin!" jawabnya tegas.
"Oke," ucap Rendi yang langsung mematikan ponselnya.
Tidak berselang lama Sebastian datang membawa kopi dan Cemilan yang ia minta.
"Sebastian, nanti malam aku akan makan di luar, tidak perlu masak untuk aku," ucap Rendi pada bawahannya itu dengan lembut.
"Baik tuan," jawab pria paruh baya itu yang langsung pamit undur diri.
Perubahan yang terus Rendi dapatkan dari Sistem, membuat bocah yang seharusnya masih duduk di bangku SMA itu semakin berwibawa. Dari cara berbicara dan pandangannya ke orang lain sudah tampak sangat Dewasa, apa lagi bentuk tubuhnya juga sudah seperti pria matang, sehingga orang-orang yang belum pernah melihatnya pasti akan menyangkanya bukan umur belasan.
__ADS_1
Rendi kini sudah tahu pentingnya menjalin hubungan bisnis dengan relasinya, berkat ia terus belajar menjadi sosok seorang pebisnis itu seperti apa, karena itulah ia tidak akan melewatkan pertemuan dengan orang-orang penting yang akan menjadi Partnernya. Bukan hanya akan mendapatkan citra baik, tapi ia juga akan ikut berkembang jika bisa bergaul bersama dengan mereka.