Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Mba Kunti


__ADS_3

Walaupun Rendi mengatakan ia pasti kembali, tetapi Sulis dan Novi takut kalau Rendi yang sudah seperti sekarang akan sangat mudah mendapatkan seorang wanita.


Apa lagi di Jakarta terkenal dengan pergaulan bebasnya, tentu Novi dan Sulis semakin cemas, karena Rendi masihlah sangat polos di usianya yang sekarang, kedua gadis itu benar-benar khawatir Rendi terjerumus ke sana.


Sementara kedua gadis itu memiliki seribu pikiran negatif dengan Rendi, tapi Rendi malah terlihat santai, baginya ke berangkatannya nanti ke Jakarta akan menjadi pengalaman yang berharga untuknya.


Novi dan Sulis di rumah Rendi sampai malam, saat sudah jam sembilan malam, Rendi berniat mengantar mereka berdua pulang.


"Ini sudah malam, Ayo pulang." ajak Rendi pada kedua gadis itu.


"Ren, apa kami tidak bisa menginap di sini?" tanya Novi pongah.


"Gila kamu, Nov! Tidak bisa, kalian harus pulang, aku tidak mau khilaf." jawab Rendi yang bergegas keluar dari kontrakan.


"Khilaf juga gak papa Ren." kali ini Sulis yang menggoda Rendi, karena ia tidak mau kalah dengan Novi.


Rendi menghela napas, ia membalik badannya dan menatap kedua gadis itu. "dengar baik-baik yah kalian berdua, aku mau berteman dengan kain berdua karena kalian gadis baik-baik, jika aku menginginkan kalian seperti itu, lebih baik aku bawa saja wanita penghibur kemari dari dulu, apa kalian mau aku seperti itu?"


"Tidak!" jawab Novi dan Sulis yang langsung berdiri dan keluar dari kontrakan Rendi.


Rendi tersenyum. "gitu dong, ayo pulang!"


Sulis dan Novi naik motornya masing-masing, Rendi juga naik motornya sendiri, ia mengikuti mereka dari belakang.

__ADS_1


Pertama mereka mengantar Novi dulu, yang memang rumahnya cukup dekat dengan kontrakan Rendi, baru setelah itu mengantarkan Sulis yang rumahnya ada di desa Karbal.


...***...


Setelah mengantar keduanya pulang, Rendi berniat kembali ke kontrakannya, tapi di jalan ia melihat seorang wanita yang melambaikan tangan padanya.


Rendi yang baik hati, tidak sombong, rajin sedekah dan menabung, ia berhenti di dekat wanita tersebut.


"Mau kemana mba?" tanya Rendi sopan.


"Jalan Pramuka dua." jawabnya datar.


"Kebetulan satu arah denganku, ayo naik Mbak!" ajak Rendi ramah.


Bocah SMA itu mengendarai motornya dengan santai, tapi semakin ia melajukan motornya, bau bunga Melati semakin terasa.


Rendi semakin curiga, ia perlahan menatap kaca Spion motornya, ia menelan ludah saat tidak melihat pantulan orang tersebut, saat ia melihat ke bawah, terlihat tangan wanita itu memeluknya.


Rendi menelan ludah berkali-kali, walaupun ia memiliki tubuh darah dan tangan besi, apa yang bisa ia lakukan dengan itu jika bertemu jurig.


Rendi membaca ayat-ayat suci dalam hati, tangannya mulai bergetar melajukan motornya.


"Hihihi ..." wanita itu tiba-tiba tertawa khas mba Kunti.

__ADS_1


Sontak saja Rendi yang ketakutan tangannya bergetar hebat, motornya belok arah hingga mau nyebur ke sungai pinggir jalan raya. Untung saja Rendi dengan sigap menarik dua Rem, hingga motornya cuma roboh saja. Namun, Mba Kunti yang tidak berpegangan kencang, ia terpelanting dan nyebur ke sungai.


Byuurr


Rendi menghela napas lega, ia hampir saja jatuh ke sungai, tapi ia penasaran dengan apa yang jatuh ke sungai, saat melihat ke belakang, mba Kunti sudah tidak ada.


"Anak setan! Kalau bawa motor hati-hati!" Mba Kunti yang basah kuyup menggerutu.


"Lah, kamu yang setan!" bentak Rendi.


"Eh ... iya yah, Hihihi ...." mba Kunti kembali terkikik.


Rendi begidik ngeri, ia bergegas mengangkat motornya dan meninggalkan tempat tersebut. Mba Kunti terbang dari sungai ngejar Rendi sambil terus terkikik.


Rendi negebut, ia tidak peduli jika kecepatannya sudah di full gas.


Mba Kunti berhenti mengikuti Rendi. "anak setan! Kalau bawa motor ngebut banget, mampus baru tahu rasa!" gerutu Mba Kunti yang kembali ke tempat asalnya.


Saat sampai di keramaian, Rendi baru sedikit mengurangi gasnya, ia juga sudah sadar bahaya membawa motor dengan kecepatan penuh.


"Kuntilanak sialan! Apes bener aku ini!" gerutu Rendi masih di motornya.


Rendi bergegas ke kontrakannya, setelah sampai, ia memasukkan motornya ke dalam kontrakan, mengunci pintu dengan rapat, ia kemudian berselimut sarung menutupi seluruh tubuhnya. Bocah SMA itu masih takut kalau Mba Kunti mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2