
Sulis yang diseret keluar oleh salah satu bawahan Danton dengan ditodong pistol di pinggangnya. Ia hanya bisa pasrah saja.
"Sediakan kami kendaraan! Atau semua orang yang ada didalam kami bunuh!" teriak pria yang menyeret Sulis.
Komandan militer yang menyaksikan hal tersebut, ia menyuruh para bawahannya agar menurunkan senjata mereka.
Pria yang memegang Sulis menyeringai. Ia kembali bicara. "Siapkan Helikopter untuk kami, aku beri waktu setengah jam, setiap sepuluh menit, kami akan membunuh satu orang disalam!" perintahnya lagi dengan suara lantang.
Komandan Militer tentu saja terkejut, jikapun ada Helikopter terdekat, pasti butuh waktu lebih dari sepuluh menit untuk sampai kesana.
"Brengsek, cepat siapkan Helikopter sekarang!" perintah komandan Militer.
"Baik tuan!"
Helikopter terdekat ada disalah satu stasiun televisi yang ada di Jakarta. Pihak militer langsung menghubungi stasiun tersebut agar cepat mengirim Helikopter.
Sementara itu Rendi berada di Mobilnya sedang menuju lokasi Danton berada, bersama Mei Ning dan Malik yang menyetir mobil.
Rendi tampak lebih santai, karena ia belum menerima pemberitahuan dari Malik, dimana lokasi Danton berada. Namun, ketika Rendi membuka laptopnya dan melihat berita yang meliput Spin Property yang digunakan Danton bersama antek-anteknya untuk menyandera. Amarahnya langsung membuncah.
"Malik, apa kita akan ke Spin Property?" tanya Rendi dingin.
"Benar tuan, Danton bersama anak buahnya menggunakan tempat tersebut un...."
"Bedebah! Berani kau menyentuh wanitaku, aku tidak akan membuatmu mati mudah!" Malik belum selesai bicara Rendi sudah memotongnya.
Rendi langsung keluar dari mobil. Ia sadar kalau Sulis sedang dalam bahaya.
Mei Ning terkejut ketika mendengar perkataan Rendi, ternyata wanita pria yang dikaguminya itu ada di sana.
Jadi kekasih Rendi ada di sana, aku ingin melihatnya secara langsung, agar bisa dekat dengan calon saudariku.
__ADS_1
Mei Ning sadar tidak bisa merebut Rendi dari wanitanya, karena itulah ia bermaksud untuk membuat wanita Rendi mau menerimanya, dengan begitu, ia pikir bisa hidup bersama Rendi.
Rendi melesat dengan sangat cepat, waktu terus berlalu. Rendi tidak tahu kalau setiap sepuluh menit mereka akan membunuh satu orang, bukan tidak mungkin jika mereka akan membunuh Sulis yang pertama.
"Bertahanlah Sulis, aku pasti akan menyelamatkanmu, bertahanlah!" gumamnya sambil berlari dengan sangat cepat.
Perasaan Rendi campur aduk, ia sangat tahu kalau para mafia yang sedang terpojok. Mereka tidak akan segan-segan untuk membunuh para sandera, sehingga pria itu begitu sangat geram.
Amarah Rendi semakin membuncah setiap membayangkan Sulis dilukai oleh para mafia. Kini fokusnya benar-benar ingin membunuh Danton.
Bersamaan dengan Rendi yang berlari dengan sangat cepat, pihak militer juga sudah mengirimkan sebuah Helikopter.
Waktu terus berlalu, hingga akhirnya sepuluh menit pun berlalu. Pria yang menyeret Sulis perlahan melepaskan Sulis ia kemudian masuk ke dalam dan menodongkan senjata kearah Sulis.
Sulis ketakutan, ia tidak berani berlari dari sana, Komandan Militer tampak berteriak agar berlari zig-zag.
Telinga wanita itu berdengung, ia mencoba mengikut instruksi komandan militer. mafia yang menyeret Sulis barusan menyeringai.
Arghhh
Teriakan Sulis terdengar, ia tertembak punggungnya. Wanita itu ambruk jatuh ke tanah.
Bersamaan dengan itu Rendi sampai di sana, Pria itu mendengar teriakan wanita yang selama ini sudah mengisi hatinya. Wanita yang sudah ia mantapkan untuk menjadi pendamping hidupnya kelak.
Hatinya terasa sakit ketika melihat Sulis ambruk ketanah. Tawa para mafia pecah ketika ia sedang merasakan rasa sakit yang dulu ia rasakan ketika kehilangan sang nenek.
Rendi terus berlari ke arah Sulis, ketika sampai ia langsung membawanya ke dekat komandan militer.
"Dokter, mana dokter cepat!" teriak Rendi dengan sangat keras.
Membuat para militer yang tidak melihat gerakan Rendi terkejut, ketika tiba-tiba Rendi sudah membawa Sulis ke dekat mereka.
__ADS_1
"Bertahanlah sayang, aku sudah sampai di sini, kamu akan baik-baik saja," ucapnya sambil menitihkan air mata.
Sulis mendengar suara Rendi, ia tersenyum. "Ren, akhirnya kamu datang juga. Terimakasih atas segalanya." ucapnya parau.
"Tidak, tidak, tidak, kamu akan baik-baik saja, dokter mana, tolong panggilkan dokter! Bertahan sayang, aku mohon."
Rendi menangis sambil memeluk erat kekasihnya itu. Darah segar terus mengalir dari lubang tembakan. Rendi berusaha menahan darah tersebut, Ia benar-benar takut kalau Sulis akan pergi meninggalkanmu.
"Ren... a-ku men-cin-tai-mu," ucapnya terpatah-patah.
"Aku juga mencintaimu sayang, jangan tinggalkan aku, bertahanlah kamu pasti selamat!" teriak Rendi keras, ketika Sulis semakin lemah di dekapannya.
Sulis tersenyum, perlahan matanya menutup. Ia sudah tidak sadarkan diri akibat kehabisan banyak darah.
Seorang Dokter dari kelompok Militer datang. "Tuan, biar kami yang mengambil alih," ucapnya sopan.
Rendi mendongak. "Selamatkan kekasihku, cepat!"
"Baik Tuan, tolong tengkurap kan dia di dalam rantis." jawab dokter tersebut.
Tanpa menunggu Rendi membawa Sulis yang sudah tidak sadarkan diri ke Mobil Rantis yang memang sudah disediakan untuk operasi jika ada prjurit yang terluka parah.
Rendi menyerahkan Sulis kepada mereka, ia menoleh kearah bangunan Spin Property dengan wajah menggelap sambil melihat darah Sulis yang ada di tangannya.
"Ada berapa mafia di dalam?" tanya Rendi dingin, menghampiri komandan militer.
"Ada sepuluh orang termasuk Danton tuan Rendi," jawab komandan Militer yang memang sudah mengenal Rendi.
"Suruh bawahanmu untuk menyelamatkan wanitaku dengan cara apapun! Urusan di sini biar aku yang menyelesaikannya!" perintah Rendi dengan suara sangat dingin.
"Ba-baik Tuan," jawab komandan militer ketakutan.
__ADS_1
Tatapan Rendi yang begitu tajam dan tenang tersebut, membuat komandan militer hanya bisa menelan ludah. Ia sangat yakin kalau pria di sampingnya tersebut pasti sangat marah.