
Rendi beranjak berdiri, tiba-tiba dari luar terdengar suara ketukan pintu dan teriakan dari Sebastian dan pelayan yang lainnya.
"Tuan anda tidak apa-apa, kak?!" teriak Sebastian yang terdengar khawatir.
Bagaimana mereka tidak khawatir, kalau mereka mendengar suara teriakan dan ledakan dalam kamar tuannya.
Rendi yang menyadari hal tersebut, ia menghela napas panjang, bergegas mengenakan pakaiannya dan keluar dari kamar.
"Ada apa Sebastian?" tanya Rendi pura-pura tidak tahu apa-apa.
"Tu-Tuan tidak apa-apa, kan?" tanya Sebastian memastikan.
"Kamu lihat aku tidak apa-apa, bukan?" Rendi malah balik bertanya.
"Tapi Tuan, tadi...."
"Oh suara ledakan tadi? Aku menjatuhkan bahan kimia, tolong nanti bersihkan yah," ucap Rendi santai sembari berlalu meninggalkan para pelayannya yang mencondongkan badan untuk melihat ke dalam kamar.
Benar saja mereka semua melihat lantai yang gosong dekat dengan ranjang Rendi. Sebastian kemudian menyuruh bawahannya untuk membersihkan tempat tersebut.
Mereka semua mengangguk mengerti dan langsung melakukan pekerjaannya masing-masing.
"Eh, kamu tadi lihat gak sih? Tuan Rendi sepertinya tambah tampan saja," ucap pelayan wanita yang sedang membersihkan kamar Rendi.
"Ya aku juga tadi melihatnya, wajahnya sangat bersih," timpal pelayan yang lainnya.
__ADS_1
"Hust! Malah ngobrolin tuan, ingat kalian itu cuma pelayan!" tegur pelayan wanita paruh baya yang bersama mereka berdua.
"Ih Bibi, tidak bisa memilikinya bukan berarti tidak boleh mengaguminya dong," jawab pelayan wanita yang pertama bicara.
Pelayan wanita paruh baya menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ia sudah terbiasa mendengar pelayan muda membicarakan Rendi.
Siapa yang tidak ingin memiliki pria seperti Rendi coba, sudah baik, Kaya dan tampan.
Rendi bergegas kembali ke tempat Sulis, ia tidak tega meninggalkannya lama-lama. Ketika pria itu sampai di halaman, tampak Sulis sedang bercanda dengan Fina.
"Tumben kamu datang ke sini?" tanya Rendi datar, yang langsung memegang kursi roda Sulis.
"Apaan sih, main saja tidak boleh?" Fina balik bertanya.
"Sudahlah, kalian ini kalau bertemu pasti tidak akur, sesekali tidak cek-cok bisa gak?" tanya Sulis tidak berdaya.
"Taraaaa...." Fina mengeluarkan sebuah Kaset DVD BTS yang lengkap dengan tanda tangan personilnya.
"Astaga, Kak Fina ini...." Sulis menerima kaset tersebut sambil menutup mulut tidak percaya.
"Bagaimana? Kamu suka gak, itu aku beli original dari temenku, ya walaupun sedikit memaksa sih," ucapnya sambil terkikik geli.
"Suka banget Kak, ini buat aku Kak?" tanya Sulis bersemangat.
"Iya itu hadiah buat kamu, di bandingkan dengan cowomu itu, lebih perhatian aku, bukan?" tanya Sulis sambil menatap sinis Rendi.
__ADS_1
Sulis memang penggemar berat Boyband tersebut, berbeda dengan Fina yang tidak terlalu suka dengan grup seperti itu.
Fina memang senagaja membelikannya untuk Sulis, agar gadis itu kembali semangat untuk menjalani hidup. Pasalnya ia tahu, kalau Sulis sedih pasti Rendi juga akan sedih, karena itulah ia berusaha untuk menyenangkannya.
Rendi mengehela napas. "Cuma kaset saja bangga, apa aku perlu datangin mereka ke sini?" tantang Rendi yang tidak mau kalah dengan Fina.
"Jangan lebay deh Ren, lagi pula ini saja sudah cukup buatku. Kalau nanti aku sudah sembuh, aku juga ingin pergi menonton langsung konser mereka," ucap Sulis sambil memeluk DVD tersebut.
Rendi mengernyitkan dahi, ia menatap Fina sambil memelototinya. Wanita itu membuang mukanya pura-pura tidak melihat Rendi.
"Sudah waktunya kamu minum obat, kita masuk kedalam yah," ajak Rendi lembut.
Sulis mengangguk, ia tampak sangat senang, walau hanya diberi sebuah kaset oleh Fina.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah Rendi. Fina yang dulu mengejar-ngejar Rendi dengan agresif, kini wanita itu tampak lebih dewasa. Walaupun masih ada rasa untuk pria itu, tapi Fina lebih memilih mengalah dan mencoba menerima kalau Rendi itu saudaranya.
Keseharian Rendi sekarang memang cuma merawat Sulis, kebanyakan waktunya ia habiskan untuk bersama dengan wanita itu.
Masalah perusahaan dan negara, ia sudah serahkan kepada bawahannya.
Malik sekarang memang sudah menjadi bawahan Rendi, pria itu sudah mengakui Rendi sebagi tuannya. Walau usia Rendi lebih muda daripada dirinya, tapi Malik sangat yakin kalau pemuda tersebut sangat layak untuk di hormati.
Perkembangan Indonesia yang sangat pesat membuat para investor dari luar negeri datang untuk bekerja sama dengan negara tersebut. Bahkan, negara-negara adidaya pun datang untuk melakukan kerja sama. Namun, Malik benar-benar memilah negara mana yang layak di ajak kerjasama, ia tidak mau di bodohi oleh negara luar.
Prinsip Malik, jika mereka yang membuat kesepakatan, maka negaranya harus dapat untung! Kalau tidak ya sudah, ia akan mengabaikan negara tersebut.
__ADS_1
Dengan kebijakan seperti itulah, negara-negara tetangga mulai menghormati Indonesia, mereka tidak berani mengusik kedamaian negara tersebut.