Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Penyesalan Seorang Ibu


__ADS_3

Acara makan malam tersebut yang di sertai bisnis pun berakhir. Rendi, Suroto dan istrinya pamit pulang.


Yudi, Sera dan anaknya mengantar mereka sampai di parkiran, setelah Rendi dan kedua orang tua Novi pergi meninggalkan tempat tersebut.


Yudi menghela napas. "syukurlah, semuanya berjalan lancar."


"Ayah, sebenarnya siapa sih dia?" tanya Fina yang daritadi sebenarnya sudah penasaran.


Yudi tersenyum ke arah anaknya dan bertanya. "kamu naksir dengan dia?"


"Idih, apaan sih yah, aku cuma nanya!" Fina menggembungkan pipinya cemberut.


"Dia pengusaha muda paling terkenal, memiliki tambang batu bara di Kalimantan dan yang terbaru Spin Company yang ada di Jakarta ternyata juga milik dia, entah sekaya apa anak itu, padahal dia tidak memiliki orang tua sama sekali, tapi bisnisnya bisa berkembang sangat pesat." Yudi menjelaskan panjang lebar tentang Rendi sambil melihat mobil Rendi yang sudah mulai menjauh.


Sementara itu anak istrinya terlihat tertegun, mereka berdua terkejut dengan kenyataan tersebut. Mereka berdua tidak percaya kalau Rendi bisa sesukses itu.


Tapi keduanya memiliki pemikiran yang berbeda. Fina dengan kekagumannya terhadap Rendi, sedangkan Sera tentu tidak menyangka anaknya yang sebatang kara sudah sesukses itu.


"Ayah, tidak bohong kan?" cecar Fina memastikan.


"Hais kamu ini, buat apa Ayah bohong, tujuan Ayah mengenalkan kamu, agar kamu bisa dekat dengannya, umurnya boleh lebih muda dari kamu, tapi pikirannya sudah jauh di atas kamu, dia pria yang sangat mapan, aku yakin di usia emasnya nanti, bukan tidak mungkin dia akan menjadi orang terkaya di negara ini!" Yudi berbicara dengan serius.


"Sudahlah, ayo kita pulang, yang penting Ayah sudah berhasil menjalin koneksi dengannya." Yudi mengajak Istri dan anaknya pulang.


Sera tertunduk lemas, ia sekarang benar-benar terpukul, karena ia yakin walau mengaku Ibunya Rendi, ia tidak akan pernah di maafkan olehnya, apalagi Rendi mampu merubah nasibnya sendiri tanpa bantuan siapapun.

__ADS_1


Sera pulang dengan Suami dan anak angkatnya dengan perasaan bersalah yang terus bergelayut di hatinya.


...***...


Rendi sudah sampai rumah, ia melepaskan jas dan sepatunya yang ia pakai, kemudian berbaring di ranjang. Ia mengambil ponselnya, betapa terkejutnya Rendi saat ratusan pesan dari Novi dan Sulis tertera di layar ponselnya.


Rendi menghela napas. "kalian berdua ini terlalu berlebihan sekali." gerutunya sambil melemparkan ponselnya setelah membalas pesan mereka.


Tidak berselang lama, nada dering ponselnya berbunyi, Rendi mengambil ponselnya dengan malas, ia mengerutkan keningnya saat melihat nomor baru yang tertera di layar ponselnya.


"Halo." Rendi mengangkat panggilan tersebut.


"Ha-Halo, Rendi ...." ucap seorang wanita di seberang telepon.


"Apa sih, bocah bau kencur juga sok dewasa banget!" Fina terdengar tidak mau kalah.


"Apa urusannya dengan bocah bau kencur atau tidak, setidaknya aku lebih mapan, dari mereka para pria yang pernah kamu dekati." jawab Rendi dengan bangga.


Rendi sengaja sombong dengan Fina, karena ia tahu kalau Fina wanita yang harga dirinya tinggi, ia bermaksud agar wanita itu tidak menuntutnya macam-macam nanti.


"Iya-iya si paling mapan." Fina memutar bola matanya malas sambil rebahan di tempat tidurnya.


"Hehehe ... jadi ada apa menelponku? Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Rendi basa-basi.


"Tidak ada sih, aku cuma memastikan nomor pemberian kamu saja." jawabnya enteng.

__ADS_1


"Oh gitu, kalau begitu kita akhiri teleponnya saja, karena kamu sudah tahu ini nomorku, b...."


"Tunggu dulu! Apaan sih kamu ih ....!" terdengar Fina merajuk di seberang telepon.


"Lah, bukannya kamu cuma mau memastikan saja?"


"Gak gitu juga kali! Kamu ini jadi cowo gak peka banget sih, ajak aku makan ke, apa ke?"


"Hmmm ... gimana jelasinnya yah? Yang pasti ada hati yang harus aku jaga."


Deg!


Jantung Fina berhenti berdetak satu detik, entah kenapa ia merasa sakit saat mendengar itu, padahal ia baru dua kali bertemu Rendi.


Fina tidak bicara sepatah katapun, ia bingung mau bicara apa lagi, yang pasti ini pertama kalinya seorang Fina Maulina seorang mahasiswi tercantik di Universitas Indonesia di tolak seorang pria, apa lagi pria itu masihlah bocah SMA.


"Oh gitu yah, maaf ganggu waktu kamu." ucap Fina seraya mematikan panggilannya.


Rendi di kamarnya tersenyum, ia yakin telah membuat kesan yang aneh pada Fina, awalnya ia seolah mengejar Fina, sekarang ia menolaknya seperti itu.


Sebenarnya Rendi melakukan itu ingin menguji Fina saja, seberapa keras wanita itu mau berjuang untuk dirinya, kalau ia tidak mau usaha, Rendi juga berniat melupakannya.


Setelah teleponan dengan Fina, Novi menelpon, Rendi mengangkatnya dan mengobrol dengan Novi beberapa saat.


Novi mematikan panggilannya, Sulis gantian yang menelpon, kedua gadis itu memang selalu menelponnya sebelum mereka beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2