Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan

Sistem Spin : Kekayaan Dan Kekuatan
Rumah Mewah di Jakarta


__ADS_3

Rendi, Novi dan Sulis kemudian pulang ke kontrakan Rendi, sopir Sulis tidak keberatan sama sekali mengantar mereka bertiga bolak-balik kemanapun. Namun, Rendi yang semalam begadang, ia bilang pada Sulis dan Novi setelah ini mau istirahat.


Kedua wanita itupun mengerti kondisi Rendi, sehingga setelah mengantar Rendi pulang ke kontrakannya, Sulis dan Novi pulang ke rumahnya masing-masing.


Walaupun rencananya jalan berdua dengan Rendi di hari Minggu gagal, tapi Novi masih senang karena bisa melihat tempat kenangan Rendi saat ia kecil di gunung nyapa.


***


Setelah kedua gadis itu pulang, Rendi menutup pintu kontrakan dan menguncinya, agar tidak ada yang mengganggu dirinya lagi.


"Akhirnya aku bisa beristirahat juga." Rendi berbaring di tempat tidurnya.


Baru saja berbaring, Rendi kemudian teringat dengan Sistem Spin yang dari tadi pagi tidak ia sentuh. Bocah SMA itu bergegas mengambilnya.


Rendi tersenyum saat melihat Sistem Spin bersinar, menunjukkan kalau benda tersebut sedang dalam kondisi aktif.


Tanpa menunggu, Rendi menekan Sistem Spin, jarum Spin langsung berputar dengan cepat, kemudian perlahan melambat dan berhenti.


[ Selamat, Anda mendapatkan Rumah Mewah Dot Properti, Pondok indah, Jakarta. Berikut dengan berkas-berkasnya.]


Rendi terbengong, ia saja tidak pernah pergi ke Jakarta, malah mendapatkan properti di sana, barang-barang pemberian Sistem memang tidak bisa Rendi tebak.


Rendi tersadar saat berkas-berkas rumah pemberian Sistem muncul di hadapannya, ia melihat-lihat berkas-berkas tersebut, di dalamnya ada foto rumah dan Alamat lengkapnya. Melihat foto rumah itu, Rendi terkagum-kagum saat melihatnya.


"Rumah yang sangat bagus, tapi kenapa harus di Jakarta sih? Kalau aku ke sana bisa-bisa ke sasar nanti." Rendi menghela napas berat.


Faktanya Rendi memang tidak pernah pergi jauh, Brebes saja yang notabenya kabupaten, ia baru pernah ke sana saat memiliki motor, biasanya ia hanya berkutat di kampung Karbal dan kota Larangan saja.


Rendi menghela napas lagi, ia menaruh berkas-berkas tersebut di lemari, kemudian ia lebih memilih untuk tidur, daripada harus memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.

__ADS_1


Rendi terlelap sangat lama, ia bangun saat perutnya keroncongan, karena dari siang belum makan.


Saat ia terbangun, di dalam kontrakannya sangat gelap, hari sudah malam dan dia belum menyalakan lampunya, ia pun bergegas menyalakan lampu.


"Astaga, aku tidur kaya kebo ternyata, mana sudah jam sembilan malam, lagi." Rendi tersenyum kecut saat melihat jarum jam di dinding.


Ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri, mengingat dirinya punya rencana untuk makan di kedai nasi goreng.


Setelah sudah siap, Rendi bergegas ke kedai nasi goreng miliknya.


Sesampainya di sana, kedai tersebut terlihat sangat ramai, ia juga melihat ada dua pelayan wanita yang bekerja di sana.


Rendi turun dari motornya dan menepuk bahu Samiun, "aku satu porsi yah bang."


"Siap, silakan du ... Eh bos." Samiun tersenyum saat melihat Rendi.


"Ramai sekali, kalian semua hebat!" Rendi mengacungkan dua jempolnya.


"Bukannya itu Mirna, Miun? Dia kerja di sini?" tanya Rendi lagi.


"Iya bos, Lehor dan bos Harisman ada urusan keluarga, jadi bos Harisman mencari pengganti buat membantu kita, mereka di bayar harian kok bos, selesai kedai tutup nanti." jawab Samiun masih dengan memasak.


Rendi mengangguk-angguk mengerti, "aku nanti satu porsi yah." Rendi menepuk bahu Samiun dan mencari tempat duduk.


"Siap bos!" jawab Samiun mantap.


Rendi memerhatikan pekerjaan mereka, semuanya terlihat sibuk ,malahan sekarang yang memasak nasi goreng bertambah satu orang.


Satu persatu mereka di layani, begitu juga dengan Rendi. Saat ia mencoba masakan nasi goreng anak buahnya, Rendi benar-benar takjub dengan masakan mereka.

__ADS_1


"Pantas saja sangat laris, enak begini rasanya." gumam Rendi sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


...***...


Setelah jam sebelas malam, nasi goreng ludes terjual, Rendi yang menyaksikan itu, ia benar-benar sangat kagum dengan para bawahannya.


"Akhirnya selesai juga!" Aamiin bersender di kursi.


"Ah ... capeknya." timpal Sengkuni.


"Kerja ya capek atuh." Mirna buka suara.


Rendi tersenyum melihat mereka sangat akrab satu sama lain, ia yakin keuletan mereka akan membuat kedai tersebut semakin besar.


"Mirna, kamu nanti pulang sama siapa?" tanya Rendi pada gadis yang pernah ia tolong itu.


"Sama dia Mas Rendi, kebetulan kami tetanggaan." jawabnya sopan.


Rendi mengangguk mengerti, "Salah satu dari kalian nanti antar mereka pulang, kasihan sudah malam."


"Te-te-nang sa-ja b-bos, a-ak-u dan Se-seno satu arah de-ngan me-mereka." jawab Ajis dengan gagapnya.


Rendi tersenyum, "baguslah kalau begitu, kalian berdua kalau mau boleh bekerja di sini terus, masalah gaji nanti aku yang bayar, mereka juga tampaknya butuh bantuan, mengingat kedai ini cukup ramai."


"Terimakasih Mas Rendi." jawab Mirna yang terlihat sangat senang, temannya juga terlihat cukup senang, karena memang keduanya sedang butuh kerjaan.


"Sama-sama, ya sudah kalian pulang, ini sudah malam, Ajis, Seno kalian jaga mereka berdua baik-baik!" ucap Rendi tegas.


"Baik Bos!" jawab Ajis dan Seno mantap.

__ADS_1


Kedua wanita itupun di antar pulang Ajis dan Seno, tentu Rendi juga sedikit khawatir kalau kedua gadis harus pulang malam, karena itulah ia bermaksud membeli ruko di sebelah yang kebetulan kosong untuk di jadikan mes, agar mereka berdua tidak perlu pulang pergi malam, kalau mau pulang cukup siang saja.


__ADS_2